Anggota DPR Dorong Penguatan Mitigasi Bencana Banjir di Indonesia

Senin, 26 Januari 2026 | 08:43:55 WIB
Anggota DPR Dorong Penguatan Mitigasi Bencana Banjir di Indonesia

JAKARTA - Bencana banjir yang kembali melanda beberapa wilayah Indonesia mendorong sejumlah anggota legislatif untuk menuntut peningkatan langkah-langkah mitigasi yang lebih efektif. 

Anggota Komisi VIII DPR, Muhamad Abdul Azis Sefudin, mengingatkan pentingnya koordinasi cepat antara pemerintah pusat dan daerah untuk menangani bencana banjir yang terus berulang.

 Menurutnya, penanganan yang efektif harus melibatkan pendekatan menyeluruh, mulai dari pencegahan hingga pemulihan pascabencana. Seluruh proses ini, kata Azis, harus berfokus pada satu tujuan utama: melindungi keselamatan warga.

Banjir yang kerap terjadi dan telah menimbulkan banyak kerugian, baik materiil maupun korban jiwa, menandakan adanya celah dalam sistem mitigasi bencana yang ada. 

Untuk itu, legislator asal Kabupaten Cianjur dan Kota Bogor ini menekankan pentingnya langkah-langkah konkret yang tidak hanya dilakukan setelah bencana terjadi, tetapi lebih jauh lagi dimulai dari tahap pencegahan yang matang.

Fokus pada Keselamatan Warga

Dalam pernyataannya, Azis menegaskan bahwa keselamatan warga harus menjadi prioritas utama dalam penanggulangan bencana. "Penanganan darurat harus cepat, mitigasi harus diperkuat, dan recovery pascabencana tidak boleh diabaikan," ujarnya. 

Azis menambahkan bahwa bencana banjir tidak hanya menjadi isu lokal, tetapi telah menjadi masalah yang memerlukan pendekatan lintas wilayah. Mengingat seringnya banjir melanda Jabodetabek, ia menekankan pentingnya penanganan yang terintegrasi dan menyeluruh.

Banjir yang terjadi di beberapa titik wilayah Indonesia sering kali membawa dampak yang serius. Banjir yang terjadi di Jabodetabek, misalnya, tidak hanya berdampak pada satu daerah saja, melainkan saling terhubung antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. 

Oleh karena itu, penanganan bencana ini harus melibatkan kerjasama antar daerah dan kebijakan yang selaras di seluruh wilayah yang terdampak.

Pentingnya Instrumen Kebencanaan yang Terkoordinasi

Azis juga menyoroti peran penting instrumen kebencanaan yang harus dikelola dengan lebih baik. Ia mengusulkan beberapa langkah, seperti memperkuat sistem peringatan dini, pemetaan wilayah rawan bencana, dan edukasi risiko kepada masyarakat. 

Menurutnya, dengan langkah-langkah ini, masyarakat bisa lebih siap dan waspada menghadapi kemungkinan bencana yang akan datang.

“Banjir di Jabodetabek ini saling terhubung. Karena itu penanganannya tidak bisa parsial, harus terintegrasi dan lintas daerah,” tegas Azis. 

Hal ini menunjukkan bahwa penanggulangan bencana harus mengutamakan sinergi antar wilayah, karena banjir yang terjadi di satu wilayah dapat mempengaruhi wilayah lain yang lebih luas. 

Kolaborasi antara pemerintah daerah dan pusat sangat diperlukan untuk menciptakan sistem mitigasi yang lebih efektif.

Menerapkan Strategi Mitigasi yang Inovatif

Selain langkah-langkah teknis seperti penguatan regulasi dan koordinasi antar daerah, Azis juga mengusulkan langkah-langkah inovatif dalam mitigasi, seperti rekayasa cuaca. 

Dalam menghadapi perubahan cuaca yang semakin tidak menentu, terutama dengan curah hujan yang semakin tinggi, strategi ini bisa menjadi opsi mitigasi yang patut dipertimbangkan.

"Rekayasa cuaca bisa menjadi opsi mitigasi dalam kondisi tertentu, tentu dengan perhitungan yang matang dan koordinasi yang kuat antara pusat dan daerah," kata Azis. 

Rekayasa cuaca adalah salah satu metode yang telah digunakan di beberapa negara untuk mengatur pola hujan dan mengurangi dampak bencana, seperti banjir dan tanah longsor. 

Meskipun demikian, Azis mengingatkan bahwa penggunaan teknologi ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati, agar tidak menambah masalah baru di lapangan.

Memprioritaskan Pemulihan Pascabencana

Selain langkah-langkah pencegahan dan mitigasi, Azis juga menekankan pentingnya pemulihan pascabencana yang cepat dan efektif. Dalam beberapa kasus banjir besar, masyarakat dan infrastruktur terkadang terjebak dalam kerusakan jangka panjang yang menghambat proses pemulihan.

 Oleh karena itu, pemulihan harus dilakukan secara menyeluruh dan terorganisir agar masyarakat bisa kembali menjalani kehidupan mereka dengan normal.

Proses pemulihan tidak hanya soal memperbaiki bangunan atau infrastruktur yang rusak, tetapi juga mengenai pemulihan ekonomi dan sosial bagi masyarakat yang terdampak. 

Azis menambahkan bahwa pemerintah harus menyiapkan program jangka panjang untuk mengembalikan kondisi kehidupan pascabencana, baik dalam hal pekerjaan, pendidikan, maupun akses terhadap layanan dasar.

Tanggapan Terhadap Banjir di Jabodetabek

Banjir yang melanda Jabodetabek sejak awal tahun 2026 telah menelan korban jiwa. Sebanyak empat orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana ini. 

Tiga korban meninggal dunia akibat tersetrum listrik di rumah yang terendam banjir di Cilincing, Jakarta Utara, sementara satu korban lainnya meninggal dunia saat terjebak kemacetan akibat banjir di kawasan Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Azis menganggap bahwa bencana ini adalah indikator bahwa sistem mitigasi bencana di Indonesia belum sepenuhnya efektif dalam mengantisipasi risiko banjir, terutama di kawasan padat penduduk seperti Jakarta. 

Oleh karena itu, ia meminta agar pemerintah segera melakukan langkah-langkah yang lebih konkret untuk mencegah banjir yang lebih besar dan korban yang lebih banyak.

Terkini