Dari Hidangan Sederhana, Lima Makanan Ini Mendunia

Kamis, 29 Januari 2026 | 09:57:01 WIB
Dari Hidangan Sederhana, Lima Makanan Ini Mendunia

JAKARTA - Perjalanan sebuah makanan sering kali tak terduga. Hidangan yang hari ini disajikan di restoran mahal atau dilelang dengan harga fantastis, pada masa lalu justru lahir dari keterbatasan hidup. 

Makanan-makanan ini awalnya dikonsumsi oleh masyarakat kelas bawah karena murah, mudah didapat, atau bahkan dianggap tak bernilai.

Seiring waktu, perubahan selera, teknologi pengolahan, hingga narasi budaya membuat posisi makanan tersebut berbalik arah. Dari pangan rakyat kecil, ia menjelma simbol status sosial dan kemewahan. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai sebuah makanan tak hanya ditentukan rasa, tetapi juga sejarah dan persepsi masyarakat terhadapnya.

Berikut deretan makanan populer dunia yang dulunya identik dengan kehidupan orang miskin, namun kini justru diburu kalangan atas.

Dari Kebutuhan Bertahan Hidup ke Hidangan Berkelas

Pada masa lalu, masyarakat miskin mengandalkan bahan pangan yang tersedia di sekitar mereka. Teknik pengawetan sederhana, pemanfaatan hasil alam, hingga konsumsi bahan yang dihindari kelompok elit menjadi cara bertahan hidup. Makanan tidak dipilih berdasarkan gengsi, melainkan fungsinya sebagai sumber energi dan nutrisi.

Namun, ketika bahan-bahan tersebut menjadi langka atau teknik pengolahannya berkembang, nilai ekonominya ikut berubah. Apa yang dahulu dianggap “makanan terpaksa” justru naik derajat menjadi sajian bernilai tinggi.

Peran Teknologi dan Budaya Kuliner

Kemajuan teknologi, khususnya dalam pendinginan dan distribusi, memainkan peran penting dalam perubahan status makanan. Bahan yang dulu cepat rusak kini bisa disimpan lebih lama dan diolah lebih presisi. Di saat yang sama, budaya kuliner modern ikut membangun citra baru lewat penyajian artistik dan narasi eksklusif.

Restoran kelas atas dan industri pariwisata turut mengangkat makanan-makanan ini sebagai pengalaman kuliner, bukan sekadar santapan. Dari sinilah transformasi besar terjadi.

Dari Jalanan hingga Meja Restoran Mewah

Berikut lima contoh makanan yang mengalami perubahan drastis dari konsumsi rakyat kecil menjadi simbol kemewahan global:

1. Sushi

Sushi yang kini identik dengan hidangan mahal berakar dari teknik pengawetan ikan di Jepang kuno. Pada masa itu, ikan difermentasi menggunakan nasi untuk menghasilkan asam laktat agar tidak cepat busuk. Nasi tersebut tidak dimakan dan dibuang setelah proses selesai.

Ikan hasil fermentasi ini dikonsumsi petani dan pekerja desa sebagai sumber protein murah. Memasuki periode Edo, sushi berkembang menjadi makanan jalanan bernama nigiri yang praktis bagi buruh kota. Sushi saat itu dipandang sebagai makanan kelas bawah. Perubahannya terjadi pasca Perang Dunia ketika teknologi pendinginan membuat sushi naik kelas menjadi sajian premium.

2. Escargot

Siput darat yang kini menjadi ikon kuliner Prancis dulunya merupakan makanan darurat bagi petani miskin. Hewan ini mudah ditemukan di kebun anggur dan tidak membutuhkan biaya pemeliharaan.

Pada Abad Pertengahan, escargot juga dikonsumsi saat masa puasa karena tidak dikategorikan sebagai daging. Cara memasaknya sederhana, jauh dari kesan mewah. Transformasi terjadi ketika siput disajikan dengan mentega, bawang putih, dan peterseli oleh koki istana, mengubahnya menjadi hidangan elite.

3. Sup Sarang Burung

Sup sarang burung walet kini dikenal sebagai salah satu makanan termahal di dunia. Namun awalnya, sarang ini dimanfaatkan secara sederhana oleh masyarakat pesisir Asia Tenggara.

Sarang yang berasal dari air liur burung walet dikumpulkan warga miskin di sekitar gua-gua terjal. Selain sebagai sumber nutrisi, sarang ini digunakan sebagai obat tradisional. Statusnya berubah ketika masuk ke lingkungan bangsawan Tiongkok, membangun citra eksklusif yang bertahan hingga kini.

4. Tiram

Pada abad ke-19, tiram merupakan makanan jalanan murah di kota-kota besar seperti New York dan London. Warga kelas pekerja menjadikannya sumber protein utama.

Konsumsi berlebihan dan pencemaran industri membuat populasi tiram menurun drastis. Dari makanan buruh, tiram berubah menjadi hidangan langka dengan harga tinggi dan kini identik dengan gaya hidup mewah.

5. Bluefin Tuna

Bluefin tuna yang kini dilelang hingga miliaran rupiah dulunya dianggap ikan bermutu rendah di Jepang. Nelayan awal abad ke-20 menghindari ikan ini karena kandungan lemaknya tinggi dan mudah rusak.

Bagian paling berlemak, toro, bahkan sering dibuang. Perubahan terjadi pada dekade 1970-an ketika teknologi pembekuan berkembang dan selera masyarakat bergeser. Lemak yang dulu dihindari justru menjadi daya tarik utama, menjadikan bluefin tuna primadona kuliner premium.

Ketika Persepsi Menentukan Nilai Makanan

Kisah makanan-makanan ini membuktikan bahwa nilai kuliner bersifat dinamis. Apa yang dulu dianggap biasa, murah, atau bahkan rendah, dapat berubah menjadi simbol kemewahan seiring perubahan zaman. Persepsi, kelangkaan, dan cerita di balik makanan memainkan peran besar dalam menentukan harganya di masa kini.

Terkini