BCA Siapkan Dana Rp 5 Triliun untuk Buyback Saham

Kamis, 29 Januari 2026 | 12:23:04 WIB
BCA Siapkan Dana Rp 5 Triliun untuk Buyback Saham

JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengumumkan rencana untuk membeli kembali sahamnya (buyback) dengan alokasi dana mencapai maksimal Rp 5 triliun. 

Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat posisi di pasar modal Indonesia pada tahun 2026, serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap kinerja dan prospek jangka panjang BCA. 

Di samping itu, buyback saham ini diharapkan dapat memberikan pengembalian yang lebih optimal bagi para pemegang saham.

Tujuan dan Manfaat Buyback Saham

Buyback saham adalah salah satu metode yang sering digunakan perusahaan besar untuk mengelola kapitalisasi pasar dan meningkatkan nilai saham.

Dalam hal ini, BCA bertujuan untuk mendukung stabilitas pasar saham Indonesia, yang sempat mengalami tekanan beberapa waktu terakhir. 

Pembelian kembali saham ini juga bertujuan untuk memperkuat kepercayaan investor, mengingat ketidakpastian ekonomi global yang terus berlanjut.

Melalui rencana buyback ini, BCA berharap dapat menambah daya tarik bagi para investor untuk berinvestasi dalam jangka panjang, mengingat langkah ini mencerminkan keyakinan perusahaan terhadap prospek pertumbuhannya. 

Selain itu, buyback saham memungkinkan perusahaan untuk mengalihkan saham hasil pembelian kembali kepada pemegang saham, memberikan peluang keuntungan lebih tinggi dan potensi perbaikan harga saham di pasar.

Prosedur dan Ketentuan Pelaksanaan

Rencana buyback saham BCA akan dilaksanakan selama 12 bulan, dimulai setelah persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 12 Maret 2026. 

Perusahaan akan melakukan buyback melalui pasar reguler di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan bantuan PT BCA Sekuritas. Pembelian saham akan dilakukan pada harga yang dianggap wajar oleh perusahaan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 10% dari total modal disetor BCA, dan perseroan memastikan bahwa jumlah saham yang beredar atau free float tidak akan turun di bawah 7,5% dari jumlah saham yang tercatat. 

Dengan demikian, langkah ini tetap memperhatikan stabilitas saham dan kapitalisasi pasar agar tidak terjadi pengurangan yang signifikan pada jumlah saham yang beredar.

Dampak Terhadap Kinerja Keuangan dan Usaha

BCA menegaskan bahwa pelaksanaan buyback ini tidak akan memengaruhi kinerja keuangan perusahaan secara material. 

Meskipun dana sebesar Rp 5 triliun akan dialokasikan untuk pembelian kembali saham, hal ini tidak akan mengganggu modal atau operasional perusahaan yang tetap berjalan sebagaimana mestinya. 

Sebagai lembaga keuangan yang besar dan sudah berpengalaman, BCA memiliki cadangan yang cukup untuk memastikan bahwa kegiatan buyback ini tidak akan mengurangi kemampuan perusahaan dalam menjalankan bisnisnya.

BCA juga memastikan bahwa proses buyback dilakukan dengan tetap mematuhi prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik (GCG) serta regulasi yang berlaku, sehingga investor dan masyarakat dapat merasa yakin bahwa keputusan ini diambil dengan penuh pertimbangan dan transparansi.

Kondisi Saham dan Kinerja Pasar Terkini

Pada akhir Januari 2026, harga saham BCA tercatat turun sebesar 6,33% pada perdagangan yang berlangsung pada tanggal 28 Januari. Saham BBCA diperdagangkan pada harga Rp 7.025 per saham, setelah sebelumnya membuka perdagangan di level Rp 7.050. 

Pergerakan harga saham ini menggambarkan volatilitas pasar yang terjadi, meskipun secara keseluruhan kinerja saham BCA masih terbilang solid dibandingkan dengan bank-bank besar lainnya di Indonesia. 

Namun, penurunan harga ini mendorong BCA untuk melakukan langkah buyback guna menjaga stabilitas harga saham dan meningkatkan kepercayaan investor.

BCA berharap dengan dilakukannya buyback ini, harga saham BBCA dapat lebih stabil dan berpotensi mengalami kenaikan. Langkah ini diambil untuk mengurangi tekanan yang dihadapi oleh harga saham di pasar, serta meningkatkan potensi keuntungan jangka panjang bagi pemegang saham. 

Terlebih lagi, meski saat ini saham BCA sedang mengalami tekanan, langkah-langkah korporasi yang terus mengedepankan efisiensi dan transparansi diharapkan dapat memulihkan kembali daya tarik saham BBCA di pasar modal.

Kinerja Positif BCA di Tahun 2025

BCA mencatatkan hasil yang positif dalam kinerjanya sepanjang tahun 2025. Bank ini berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 57,5 triliun, mengalami pertumbuhan tahunan sebesar 4,9%. 

Laba ini tercatat meskipun adanya tantangan makroekonomi yang mempengaruhi kondisi pasar global. Pertumbuhan laba ini didorong oleh perbaikan rasio cost to income (CIR) dan distribusi kredit yang semakin terarah, khususnya dalam sektor manufaktur, perdagangan, dan sektor-sektor lainnya yang mendorong perekonomian Indonesia.

Di sisi lain, BCA juga berhasil meningkatkan pendanaan dengan mencatatkan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh sebesar 10,2% YoY, mencapai Rp 1.249 triliun. Pendapatan bunga bersih (net interest income) juga meningkat sebesar 4,1%, yang turut menopang pertumbuhan kinerja secara keseluruhan. 

BCA juga menunjukkan komitmennya dalam mendukung sektor usaha dengan penyaluran kredit yang terus tumbuh, khususnya dalam pembiayaan konsumer yang mencapai Rp 224,1 triliun, serta kredit kendaraan bermotor dan KPR yang terus tumbuh dengan signifikan.

Selain itu, BCA juga melanjutkan transformasi digitalnya, yang terbukti melalui peningkatan transaksi mobile banking dan internet banking yang mengalami pertumbuhan 19% YoY, serta frekuensi transaksi yang tercatat meningkat sebesar 17% YoY. 

Hal ini menunjukkan bahwa BCA terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, menjadikannya lebih kompetitif di era perbankan digital.

Terkini

Rekomendasi Tempat Makan Siang Terbaik di Surabaya 2026

Kamis, 29 Januari 2026 | 13:26:58 WIB

Rekomendasi Tempat Makan Nasi Goreng Malam Jakarta

Kamis, 29 Januari 2026 | 13:26:57 WIB

Label Musik Dorong Aturan Hak Cipta Lagu Berbasis AI

Kamis, 29 Januari 2026 | 13:26:54 WIB