Pemerintah Pacu Proyek Baterai Listrik Serap Investasi Jumbo

Selasa, 03 Februari 2026 | 08:57:08 WIB
Pemerintah Pacu Proyek Baterai Listrik Serap Investasi Jumbo

JAKARTA - Pemerintah terus memacu realisasi proyek strategis nasional di sektor kendaraan listrik sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi ekonomi berbasis industri. 

Salah satu fokus utama saat ini adalah pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi dari hulu hingga hilir yang digadang-gadang mampu menyerap investasi hingga Rp100 triliun. Langkah ini dinilai krusial untuk mempercepat hilirisasi mineral sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

Proyek besar tersebut merupakan kolaborasi antara Grup MIND ID, PT Industri Baterai Indonesia (IBI), dan konsorsium Huayou (HYD). Pemerintah berharap proyek ini dapat menjadi penggerak utama transformasi industri nasional, terutama dalam menjawab tantangan transisi energi dan perkembangan kendaraan listrik yang kian masif di tingkat global.

Melalui proyek ini, Indonesia tidak hanya ingin menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga pemain utama dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia. Dengan ekosistem industri yang terintegrasi, nilai tambah dari sumber daya alam diharapkan dapat dinikmati secara maksimal di dalam negeri.

Rantai Industri Baterai Dibangun Dari Hulu Hingga Hilir

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen mempercepat pengembangan ekosistem industri baterai kendaraan listrik secara menyeluruh. Rantai industri tersebut mencakup seluruh tahapan, mulai dari pertambangan nikel, pengolahan di smelter, teknologi high pressure acid leaching (HPAL), produksi precursor dan katoda, hingga manufaktur sel baterai.

Total nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai USD 6 miliar atau sekitar Rp100 triliun dengan asumsi kurs Rp16.799 per dolar Amerika Serikat. Saat ini, fasilitas awal dengan kapasitas produksi 10 gigawatt (GW) telah beroperasi sejak 2023. 

Ke depan, kapasitas tersebut akan diperluas dengan tambahan 20 GW untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri baterai dan kendaraan listrik.

“Kita ingin proyek ini memberikan nilai tambah maksimal bagi bangsa. Hilirisasi harus menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memperkuat industri strategis di dalam negeri,” ujar Bahlil.

Menurutnya, pengembangan industri baterai kendaraan listrik tidak hanya berdampak pada peningkatan nilai tambah mineral, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di berbagai daerah serta memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.

Peran Nikel Dan Kepemilikan Negara Dipertegas

Dalam proyek ekosistem baterai kendaraan listrik ini, Indonesia memiliki keunggulan strategis berupa ketersediaan bahan baku nikel yang melimpah. Bahlil menjelaskan bahwa pasokan nikel akan berasal dari PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) yang berkolaborasi dengan konsorsium mitra.

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk tetap memegang kendali atas proyek strategis tersebut. Kepemilikan mayoritas ditargetkan berada di tangan negara, dengan porsi di atas 50 persen, bahkan berada di kisaran 60 hingga 70 persen.

“Ini implementasi Pasal 33. Kekayaan alam harus dikelola negara dan diprioritaskan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” ujar Bahlil.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya mengejar investasi besar, tetapi juga memastikan pengelolaan sumber daya alam dilakukan secara berdaulat dan berorientasi pada kepentingan nasional. 

Dengan penguasaan mayoritas, negara diharapkan memiliki posisi kuat dalam pengambilan keputusan strategis terkait pengembangan industri baterai kendaraan listrik.

Kolaborasi Dorong Penguasaan Teknologi Nasional

Di sisi lain, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif menilai kerja sama dengan konsorsium Huayou sebagai langkah strategis untuk mempercepat hilirisasi sekaligus membangun kemandirian teknologi baterai di Indonesia. Ia menyebut proyek ini sebagai kelanjutan dari upaya IBC dalam mengembangkan proyek-proyek strategis sebelumnya.

“Sejak awal, misi utama IBC adalah menyukseskan proyek Dragon dan Titan. Kerja sama dengan Huayou ini merupakan kelanjutan dari proyek Titan, setelah sebelumnya bersama LG. Kami ingin memastikan bahwa hilirisasi ini benar-benar memberikan nilai tambah optimal bagi Indonesia,” kata Aditya.

Menurutnya, kolaborasi ini tidak semata-mata berfokus pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat penguasaan teknologi serta meningkatkan kompetensi sumber daya manusia nasional. 

Transfer pengetahuan dan pengalaman dari mitra global diharapkan dapat menjadi fondasi penting bagi pengembangan industri baterai dalam negeri.

“Harapannya, partnership ini menjadi learning curve bagi Indonesia, sehingga ke depan kita tidak hanya menjual sumber daya, tetapi juga mampu memproduksi baterai dengan teknologi kita sendiri,” pungkasnya.

Dengan percepatan proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi dan investasi berskala besar, pemerintah menegaskan arah kebijakan industrialisasi yang menempatkan hilirisasi sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional di era transisi energi.

Terkini

Jadwal Kapal Pelni KM Lambelu Februari 2026 Lengkap

Selasa, 03 Februari 2026 | 12:07:26 WIB

Jadwal Kapal Pelni Saumlaki Dobo Februari Sangat Terbatas

Selasa, 03 Februari 2026 | 12:07:25 WIB

Update Jadwal DAMRI Bandara YIA Ke Jogja 3 Februari 2026

Selasa, 03 Februari 2026 | 12:07:24 WIB

Jadwal KRL Solo - Jogja Selasa, 3 Februari 2026 Lengkap

Selasa, 03 Februari 2026 | 12:07:23 WIB