Pengalaman Nuklir Puluhan Tahun, Slovakia Tawarkan Kerja Sama Indonesia

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:08:12 WIB
Pengalaman Nuklir Puluhan Tahun, Slovakia Tawarkan Kerja Sama Indonesia

JAKARTA - Rencana Indonesia mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir kembali mendapat perhatian dari mitra internasional.

 Di tengah kebutuhan energi jangka panjang dan upaya transisi menuju sumber energi rendah emisi, sejumlah negara mulai menunjukkan minat untuk terlibat langsung dalam pengembangan teknologi nuklir di Tanah Air. 

Salah satu tawaran terbaru datang dari Slovakia, negara Eropa Tengah yang memiliki pengalaman panjang dalam mengelola pembangkit listrik tenaga nuklir.

Peluang kerja sama ini mencuat saat Menteri Luar Negeri Slovakia, Juraj Blanar, melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri RI, Sugiono. 

Pertemuan tersebut berlangsung di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat. Dalam kesempatan itu, isu kerja sama energi, termasuk energi nuklir, menjadi salah satu topik utama pembahasan kedua negara.

Slovakia Tawarkan Pengalaman Panjang Energi Nuklir

Usai pertemuan bilateral tertutup, Menlu Slovakia Juraj Blanar menyampaikan bahwa negaranya siap mendukung pengembangan energi nuklir di Indonesia. Ia menekankan bahwa Slovakia memiliki rekam jejak panjang dalam pembangunan dan pengoperasian pembangkit listrik tenaga nuklir.

"Kami juga membahas kerja sama energi nuklir. Slovakia memiliki lebih dari 60 tahun pengalaman dalam pembangunan dan pengoperasian PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir)," kata Menlu Juraj.

Menurut Juraj, pengalaman tersebut menjadi modal penting yang dapat dibagikan kepada Indonesia, terutama di tengah rencana pemerintah untuk mulai mengembangkan energi nuklir sebagai bagian dari bauran energi nasional. 

Slovakia menilai, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi nuklir secara aman dan berkelanjutan apabila didukung dengan perencanaan matang serta sumber daya manusia yang memadai.

Tawaran ini sekaligus menegaskan keseriusan Slovakia untuk terlibat lebih jauh dalam proyek strategis energi di Indonesia, tidak hanya sebatas kerja sama diplomatik, tetapi juga transfer keahlian dan teknologi.

Dukungan Pendidikan Dan Keahlian Teknis

Juraj Blanar menambahkan bahwa bentuk dukungan Slovakia tidak terbatas pada teknologi semata. Negara tersebut juga siap menawarkan pendidikan dan pengembangan keahlian bagi sumber daya manusia Indonesia di bidang energi nuklir.

"Kami dapat menawarkan pendidikan dan keahlian, terutama karena Indonesia berencana membangun pembangkit listrik tenaga nuklir pertamanya," ujarnya.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa kerja sama yang ditawarkan bersifat komprehensif, mulai dari aspek teknis hingga penguatan kapasitas SDM. Pendidikan dan pelatihan tenaga ahli menjadi faktor krusial dalam pengembangan energi nuklir, mengingat tingginya standar keselamatan dan kompleksitas teknologi yang digunakan.

Bagi Indonesia, tawaran tersebut dapat menjadi nilai tambah dalam mempersiapkan tenaga kerja nasional yang kompeten sebelum PLTN pertama beroperasi. Penguasaan teknologi dan keahlian lokal dinilai penting agar Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada pihak asing dalam pengelolaan fasilitas nuklir di masa depan.

Sejumlah Negara Jadi Kandidat Mitra PLTN

Sebelumnya, pemerintah Indonesia memang telah mempertimbangkan beberapa negara sebagai mitra dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir. Beberapa negara yang masuk dalam radar kerja sama antara lain Rusia, Korea Selatan, dan Kanada.

Ketiga negara tersebut dinilai memiliki pengalaman serta teknologi yang mumpuni untuk mendukung pembangunan PLTN pertama di Indonesia. Proyek PLTN ini sendiri ditargetkan mulai beroperasi pada 2032 sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan listrik nasional yang terus meningkat.

Persaingan antar negara mitra ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memilih teknologi dan skema kerja sama yang paling menguntungkan. Setiap negara menawarkan keunggulan masing-masing, baik dari sisi teknologi, pembiayaan, maupun pengalaman operasional.

Masuknya Slovakia sebagai pihak yang menawarkan dukungan menambah daftar calon mitra potensial, sekaligus memperkaya opsi yang dapat dipertimbangkan pemerintah dalam mengambil keputusan strategis.

Pertimbangan Efisiensi Dan Daya Saing Harga

Dalam menentukan mitra pengembangan PLTN, pemerintah menegaskan bahwa sejumlah aspek akan menjadi pertimbangan utama. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung sebelumnya menyampaikan bahwa pemilihan mitra tidak hanya didasarkan pada pengalaman, tetapi juga efisiensi dan daya saing harga listrik.

"Kami akan melihat dari sisi pembangunan PLTN mana yang lebih efisien dan kompetitif, serta dari sisi hasil listrik yang dihasilkan," ujar Yuliot.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesediaannya membantu Indonesia mengembangkan energi nuklir saat bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kremlin, Rabu.

Pemerintah menilai, efisiensi pembangunan dan biaya listrik yang dihasilkan menjadi faktor penting agar PLTN dapat memberikan manfaat optimal bagi perekonomian nasional. Selain itu, aspek keselamatan dan keberlanjutan juga menjadi perhatian utama dalam setiap tahapan perencanaan.

Dengan berbagai tawaran kerja sama yang masuk, Indonesia kini berada pada posisi strategis untuk menentukan mitra terbaik dalam pengembangan PLTN pertamanya. Keputusan yang diambil diharapkan mampu mendukung ketahanan energi nasional sekaligus memastikan pengembangan energi nuklir dilakukan secara aman, efisien, dan berdaya saing tinggi.

Terkini

Berapa Modal Usaha Kopi Keliling? Simak Pembahasan Ini

Rabu, 04 Februari 2026 | 14:20:47 WIB

10 Contoh Struktur Perusahaan untuk Efisiensi Bisnis

Rabu, 04 Februari 2026 | 14:20:47 WIB

Dampak Minum Kopi terhadap Perubahan Tekanan Darah Tubuh

Rabu, 04 Februari 2026 | 13:49:21 WIB