Perusahaan Pembiayaan Antisipasi Kualitas Pembiayaan Usai Rama

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:07:40 WIB
Perusahaan Pembiayaan Antisipasi Kualitas Pembiayaan Usai Rama

JAKARTA- Setelah periode Ramadan dan Lebaran, perusahaan pembiayaan menghadapi tantangan musiman terkait dengan meningkatnya risiko kredit bermasalah. 

Setiap tahunnya, pasca Lebaran sering kali diikuti dengan pergeseran pola pengeluaran masyarakat, yang berpotensi mendorong rasio non-performing financing (NPF) naik. 

Meskipun demikian, perusahaan pembiayaan telah mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk menjaga kualitas portofolio mereka tetap terjaga.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terbaru, NPF di industri pembiayaan Indonesia pada 2025 tercatat berada di angka 0,77%, membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 0,85%. 

Angka ini menunjukkan bahwa sektor pembiayaan masih mampu menjaga kestabilan di tengah tantangan yang ada, meskipun ada tekanan musiman yang menyertai. 

PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) dan PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) sebagai dua pemain besar dalam industri ini, menunjukkan kesiapan mereka menghadapi kemungkinan lonjakan NPF pasca Lebaran dengan strategi yang terukur.

Antisipasi Tantangan Musiman dengan Kehati-hatian

Adira Finance, yang merupakan bagian dari PT Bank Danamon Indonesia Tbk, optimis bahwa NPF mereka akan tetap terkendali pasca Lebaran 2026. 

Chief Financial Officer (CFO) Adira Finance, Sylvanus Gani, menjelaskan bahwa walaupun periode setelah Lebaran sering kali menghadirkan pergeseran prioritas pengeluaran nasabah, perusahaan memproyeksikan NPF mereka akan tetap berada dalam rentang yang terjaga, yaitu sekitar 2,0%-2,5%.

Pada Januari 2026, NPF Adira Finance tercatat di level 2,0%. Untuk mengatasi potensi kenaikan NPF tersebut, perusahaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam setiap proses penyaluran pembiayaan. 

Gani menambahkan, strategi penyaluran pembiayaan dilakukan secara tersegmentasi berdasarkan profil risiko (risk appetite), dengan tujuan agar pertumbuhan portofolio tetap sehat dan berkelanjutan. 

Keputusan ini bertujuan untuk menjaga kualitas pembiayaan tanpa mengorbankan pertumbuhan yang terlalu cepat, yang justru bisa menambah tekanan terhadap rasio NPF.

Selain itu, Adira Finance memperkuat efektivitas penagihan dengan memastikan kapasitas tim penagihan cukup untuk menangani proses tersebut secara optimal. Dengan begitu, potensi terjadinya kredit bermasalah dapat diminimalkan, sehingga perusahaan dapat mengelola risiko dengan lebih baik.

Bri Finance Fokus pada Monitoring Portofolio

Di sisi lain, PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) juga menyatakan kesiapan untuk menjaga kualitas pembiayaan pasca Lebaran. Direktur Utama BRI Finance, Wahyudi Darmawan, mengatakan bahwa pada umumnya, momen Lebaran diikuti dengan meningkatnya aktivitas ekonomi, yang pada gilirannya mendukung kemampuan nasabah dalam memenuhi kewajiban pembayaran. 

Oleh karena itu, meskipun ada risiko kenaikan NPF, perusahaan merasa yakin bahwa angka tersebut masih dapat terjaga dengan baik.

BRI Finance memiliki pendekatan yang lebih proaktif dalam mengelola portofolio pembiayaan. Wahyudi menjelaskan bahwa pihaknya terus memperkuat sistem monitoring portofolio melalui early warning system untuk mendeteksi potensi masalah sejak dini. 

Selain itu, mereka juga menjaga kualitas proses analisis pembiayaan agar setiap keputusan yang diambil sesuai dengan profil risiko nasabah.

Dalam mengelola pembiayaan pasca Lebaran, BRI Finance juga mengedepankan pendekatan persuasif dalam proses penagihan. Perusahaan berfokus pada komunikasi yang lebih intensif dengan nasabah, dengan tujuan untuk memahami kondisi mereka serta kemampuan pembayaran masing-masing. 

Hal ini dilakukan untuk memastikan proses penagihan berjalan lancar tanpa menambah tekanan bagi nasabah, yang pada akhirnya akan memengaruhi kelancaran pembayaran cicilan.

Komitmen Terhadap Kualitas Pembiayaan di Tengah Tantangan Eksternal

Secara umum, baik Adira Finance maupun BRI Finance menunjukkan komitmen yang kuat untuk menjaga kualitas pembiayaan mereka, meskipun ada tantangan musiman pasca Lebaran. 

Dengan adanya pemantauan ketat terhadap portofolio, penggunaan early warning system, dan pendekatan persuasif dalam penagihan, kedua perusahaan ini berharap dapat mengendalikan NPF dan memastikan kinerja keuangan tetap terjaga.

Untuk BRI Finance, Wahyudi mengungkapkan bahwa meskipun risiko NPF ada, manajemen perusahaan telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk menjaga NPF tetap berada dalam level yang wajar dan sesuai dengan profil risiko yang ditetapkan. 

Pendekatan ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan musiman, BRI Finance tetap dapat menjaga kinerja mereka dengan hati-hati.

Selain itu, penting untuk dicatat bahwa kedua perusahaan ini juga memperhatikan kebutuhan edukasi bagi nasabah. Di tengah perubahan ekonomi dan pola konsumsi yang dinamis, edukasi keuangan yang baik akan sangat membantu nasabah dalam mengelola pembiayaan mereka dengan bijak, serta menghindari keterlambatan pembayaran yang dapat memperburuk rasio NPF.

Strategi Jangka Panjang dalam Menjaga Stabilitas Pembiayaan

Ke depan, perusahaan pembiayaan seperti Adira Finance dan BRI Finance diproyeksikan akan terus menghadapi tantangan dalam menjaga kualitas portofolio mereka, terutama dengan adanya perubahan pola pengeluaran nasabah pasca Lebaran. 

Namun, dengan strategi yang tepat dan pengelolaan risiko yang bijaksana, perusahaan-perusahaan ini memiliki peluang besar untuk menjaga kinerja positif mereka.

Melalui kebijakan yang terukur, seperti pemilihan nasabah yang hati-hati, pemantauan portofolio yang ketat, serta pendekatan yang lebih komunikatif dalam proses penagihan, perusahaan-perusahaan pembiayaan ini menunjukkan bahwa mereka siap menghadapi tekanan musiman yang biasa muncul pasca Lebaran. 

Dengan begitu, meskipun ada tantangan yang harus dihadapi, kualitas pembiayaan tetap terjaga dan perusahaan dapat terus berkembang dengan cara yang berkelanjutan.

Terkini