Bahlil Dorong Intervensi Teknologi di Sumur Tua untuk Swasembada Energi

Jumat, 20 Februari 2026 | 10:42:02 WIB
Bahlil Dorong Intervensi Teknologi di Sumur Tua untuk Swasembada Energi

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, baru-baru ini mengungkapkan rencana besar untuk mengintervensi produksi sumur minyak tua di Indonesia dengan menggunakan teknologi modern. Langkah tersebut diambil dalam rangka mendukung target Indonesia untuk mencapai swasembada energi. 

Bahlil menekankan bahwa tanpa adanya terobosan dalam pengelolaan sumber daya energi, Indonesia akan kesulitan untuk mencapai ketahanan energi yang diinginkan.

"Sumber daya energi yang ada harus dikelola dengan inovasi. Sumur-sumur tua ini mau tidak mau harus diintervensi lewat teknologi," kata Bahlil.

Rencana ini mengarah pada modernisasi dan optimalisasi sumur minyak tua yang selama ini tidak maksimal produksinya. 

Dengan langkah ini, pemerintah berharap bisa meningkatkan produksi minyak nasional, yang pada akhirnya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.

Masalah Sumur Minyak yang Tidak Aktif

Saat ini, Indonesia memiliki sekitar 39.000 hingga 40.000 sumur minyak, namun hanya sekitar 17.000 hingga 18.000 sumur yang beroperasi secara maksimal. Kondisi ini jelas menjadi salah satu tantangan besar dalam sektor energi Indonesia. Banyaknya sumur yang sudah tidak aktif, atau yang biasa disebut dengan "idle wells", menjadi masalah karena produksi migas nasional tidak optimal.

“Sebagian besar sumur-sumur tersebut sudah berusia tua, sehingga kapasitas produksinya menurun. Namun, kami akan bekerja sama dengan pihak terkait untuk mengoptimalkan kembali potensi sumur-sumur tersebut," ujar Bahlil. 

Intervensi teknologi diharapkan bisa memperpanjang usia operasional sumur-sumur tersebut dan meningkatkan produksi migas.

Rencana Modernisasi dan Ekspansi Eksplorasi Migas

Selain melakukan intervensi pada sumur-sumur tua, pemerintah juga berencana untuk mempercepat eksplorasi sumur-sumur yang termasuk dalam rencana pengembangan lapangan (plan of development/POD). Program ini bertujuan untuk menggali potensi migas yang belum tergali secara optimal. 

Melalui pengembangan lapangan yang terencana, diharapkan Indonesia dapat mengoptimalkan sumber daya alam yang ada untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Pemerintah juga akan menggelar lelang untuk 110 blok migas, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam memperkuat pasokan energi domestik. Bahlil mengungkapkan bahwa untuk mempercepat proses ini, kolaborasi antara pemerintah dan pengusaha swasta sangat diperlukan. 

"Kita perlu investasi teknologi dan membangun kemitraan strategis untuk mencapai tujuan swasembada energi," kata Bahlil.

Revitalisasi Kilang dan Pengurangan Impor Energi

Langkah lainnya yang diambil pemerintah adalah meningkatkan kapasitas pengolahan migas dalam negeri, sehingga ketergantungan terhadap impor energi bisa berkurang. Salah satu proyek yang diandalkan adalah Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur. 

Program ini telah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Januari 2026 dan diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam mengurangi impor energi.

Kilang Pertamina yang sedang direvitalisasi tersebut akan memiliki kapasitas pengolahan yang cukup besar, yakni dapat menghasilkan 5 juta kiloliter bensin dan 3,9 juta kiloliter solar. Bahlil optimis bahwa dengan pengoperasian kilang ini, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada impor solar. 

"Dengan program B40 pada tahun 2026, kita tidak akan lagi mengimpor solar. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah bangsa kita," ujar Bahlil dengan penuh keyakinan.

Terkini