JAKARTA - Pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan kembali menjadi fokus pemerintah dalam mempercepat transisi energi nasional.
Salah satu langkah yang tengah disiapkan adalah pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala besar dengan kapasitas hingga 100 gigawatt.
Program ini tidak hanya menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan energi bersih, tetapi juga membuka peluang investasi besar serta mendorong penguatan industri energi terbarukan di dalam negeri.
Inisiatif tersebut didukung oleh masuknya investasi awal yang cukup signifikan. Pemerintah menilai proyek PLTS berkapasitas besar ini dapat menjadi fondasi penting bagi transformasi sektor energi Indonesia yang selama ini masih didominasi sumber energi fosil.
Melalui dukungan investasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak, pembangunan PLTS diharapkan mampu mempercepat ketersediaan energi ramah lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Dalam konteks ini, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan P Roeslani menyampaikan bahwa pemerintah telah mencatat komitmen investasi awal yang cukup besar untuk mendukung proyek tersebut.
Investasi Awal Dorong Pengembangan PLTS Nasional
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan P Roeslani mengatakan, pemerintah mencatat investasi awal sekitar US$ 1,4 miliar atau sekitar Rp 23,7 triliun untuk mendukung pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia.
Menurut Rosan, investasi tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat pengembangan energi bersih melalui proyek PLTS dengan target kapasitas hingga 100 gigawatt (GW).
Komitmen investasi itu ditujukkan untuk pembangunan pabrik pendukung PLTS yang memiliki kapasitas produksi hingga 50 gigawatt. Pabrik ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan komponen untuk pengembangan proyek PLTS tersebut.
"Kebetulan sudah ada masuk investasi di Indonesia akan selesai tahun ini untuk pembangunan pabrik, investasi US$ 1,4 miliar dengan kapasitas 50 gigawatt," ujar Rosan.
Menurut Rosan, investasi awal dalam proyek pengembangan proyem PLTS tersebut merupakan investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) yang masuk ke dalam negeri.
Proyek PLTS Ditargetkan Rampung Bertahap
Investasi tersebut telah mulai berjalan sejak pertengahan 2025 dan pabrik yang dibangun ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Rosan juga mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar proyek pembangunan PLTS dapat dipercepat melalui berbagai skema pendanaan.
"Kami diminta untuk melihat dan mempelajari struktur pendanaannya, bekerja sama dengan baik pihak di dalam negeri atau swasta, yang mempunyai teknologi dan mempunyai kemampuan dari segi solar dan baterainya," imbuhnya.
Arahan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, baik dari dalam negeri maupun mitra internasional yang memiliki teknologi energi surya dan sistem penyimpanan energi berbasis baterai.
Melalui kerja sama ini, pembangunan PLTS diharapkan tidak hanya menjadi proyek penyedia energi, tetapi juga mampu mendorong transfer teknologi dan penguatan kapasitas industri dalam negeri.
Tahap Awal Difokuskan Pada Wilayah Dengan Infrastruktur Siap
Rosan menjelaskan bahwa tahap awal pembangunan proyek jumbo PLTS tersebut akan diprioritaskan sebesar 13 gigawatt lebih dulu di sejumlah wilayah yang telah memiliki jaringan distribusi listrik memadai.
"Sebenarnya ingin di semua desa, tetapi tadi diprioritaskan mungkin di daerah-daerah yang memang sudah punya distribusinya. Jadi kurang lebih dari usulan 100 gigawatt, jadi 13 gigawatt terlebih dahulu yang rencananya akan diprioritaskan," ucap Rosan.
Pendekatan bertahap ini dilakukan untuk memastikan proyek dapat berjalan secara efisien dan optimal. Daerah yang telah memiliki jaringan distribusi listrik dinilai lebih siap untuk mengintegrasikan pasokan listrik dari pembangkit tenaga surya ke dalam sistem kelistrikan nasional.
Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap implementasi awal PLTS dapat berjalan lancar sebelum nantinya diperluas ke wilayah lain, termasuk daerah yang masih membutuhkan penguatan infrastruktur jaringan listrik.
Proyek Percontohan Jadi Model Pengembangan Nasional
Selain menyiapkan proyek besar, pemerintah juga mulai mengembangkan proyek percontohan sebagai model implementasi teknologi PLTS di Indonesia.
Rosan menambahkan, Danantara juga telah mengembangkan proyek percontohan PLTS berkapasitas 1 megawatt (MW) di Sumenep, Jawa Timur. Prototipe itu rencananya akan ditinjau oleh Kementerian ESDM serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebelum model pengembangan proyek PLTS diperluas ke berbagai daerah.
Melalui proyek percontohan tersebut, pemerintah ingin memastikan bahwa sistem pembangkit listrik tenaga surya yang dikembangkan mampu beroperasi secara optimal dan sesuai dengan kebutuhan sistem energi nasional.
Hasil evaluasi dari proyek ini nantinya akan menjadi acuan dalam memperluas pembangunan PLTS di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, pengembangan proyek ini juga diharapkan mampu memperkuat riset dan inovasi di bidang energi terbarukan melalui keterlibatan lembaga pemerintah, perguruan tinggi, serta sektor industri.
Jika seluruh rencana berjalan sesuai target, pembangunan PLTS berkapasitas besar ini berpotensi menjadi salah satu proyek energi bersih terbesar di kawasan.
Selain mempercepat transisi menuju energi ramah lingkungan, proyek ini juga diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan teknologi energi terbarukan di tingkat global.