Ketahanan BBM Indonesia Perlu Diperkuat Dari Hulu Hingga Hilir

Rabu, 25 Maret 2026 | 17:25:53 WIB
Ketahanan BBM Indonesia Perlu Diperkuat Dari Hulu Hingga Hilir

JAKARTA - Ketidakpastian geopolitik global kembali menyoroti pentingnya ketahanan energi bagi berbagai negara, termasuk Indonesia. 

Ketegangan yang terjadi di sejumlah kawasan penghasil minyak dunia berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi global, sehingga mendorong banyak negara untuk memperkuat strategi pengelolaan energi nasional mereka.

Bagi Indonesia, situasi tersebut menjadi pengingat bahwa sistem ketahanan bahan bakar minyak perlu terus diperkuat agar mampu menghadapi berbagai kemungkinan gangguan pasokan di tingkat global. 

Penguatan ini tidak hanya berkaitan dengan cadangan energi, tetapi juga menyangkut pengelolaan produksi, distribusi, hingga konsumsi energi secara menyeluruh.

Pengamat ekonomi menilai bahwa langkah strategis harus dilakukan secara terintegrasi mulai dari sektor hulu hingga hilir agar pasokan energi tetap stabil. 

Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi domestik dengan dinamika pasar energi internasional.

Ketahanan Energi Nasional Perlu Diperkuat

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, Abra Talattov, mengatakan bahwa Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam menjaga ketahanan energi nasional.

Menurutnya, tantangan tersebut terutama berkaitan dengan ketersediaan cadangan bahan bakar minyak yang masih berada di bawah standar internasional.

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk yang melibatkan Iran, dinilai dapat meningkatkan risiko gangguan terhadap stabilitas pasokan energi global.

Dalam situasi seperti ini, negara-negara yang memiliki cadangan energi lebih besar cenderung lebih siap menghadapi potensi gejolak pasokan.

Sementara itu, Indonesia masih perlu meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional agar lebih siap menghadapi ketidakpastian global.

Menurut Abra, stok operasional BBM nasional saat ini masih berada di kisaran dua puluh hingga dua puluh lima hari.

Jumlah tersebut dinilai masih jauh di bawah standar global yang direkomendasikan, yaitu minimal sembilan puluh hari cadangan energi.

“Dan memang pemerintah sudah menyampaikan adanya target untuk memperbesar cadangan BBM nasional menjadi 90 hari,” ujar Abra.

Upaya Meningkatkan Cadangan Energi

Abra menjelaskan bahwa upaya meningkatkan cadangan energi nasional bukanlah langkah yang dapat dilakukan secara instan.

Proses tersebut memerlukan waktu yang cukup panjang serta dukungan investasi yang besar.

Ia memperkirakan bahwa peningkatan cadangan energi hingga mencapai standar internasional dapat memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga tahun.

Selain itu, pembangunan infrastruktur penyimpanan energi juga menjadi faktor penting dalam mendukung peningkatan kapasitas cadangan energi nasional.

Dalam jangka pendek, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasokan energi.

Langkah tersebut dapat dilakukan melalui pengelolaan konsumsi bahan bakar minyak agar tidak terjadi lonjakan permintaan yang berlebihan.

Menurut Abra, pengendalian konsumsi BBM di sektor hilir menjadi salah satu pendekatan yang paling realistis untuk dilakukan dalam waktu dekat.

Kebijakan ini penting untuk mencegah berbagai potensi gangguan di pasar energi domestik.

Misalnya, potensi terjadinya panic buying atau lonjakan pembelian bahan bakar yang dipicu oleh kekhawatiran masyarakat terhadap ketersediaan energi.

Selain itu, pergeseran konsumsi dari BBM non-subsidi ke BBM subsidi juga perlu diantisipasi agar tidak menimbulkan tekanan terhadap anggaran negara.

Penguatan Produksi Energi Dari Sektor Hulu

Di sisi lain, penguatan ketahanan energi juga perlu dilakukan dari sektor hulu.

Abra menilai pemerintah bersama perusahaan energi nasional seperti Pertamina serta para Kontraktor Kontrak Kerja Sama atau KKKS perlu meningkatkan produksi minyak dan gas nasional.

Peningkatan produksi ini dinilai penting untuk memperkuat pasokan energi dalam negeri serta mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

Saat ini, produksi minyak Indonesia atau lifting minyak nasional masih berada di kisaran enam ratus ribu barel per hari.

Jumlah tersebut dinilai masih perlu ditingkatkan secara bertahap agar dapat memenuhi kebutuhan energi domestik yang terus meningkat.

Selain peningkatan produksi, percepatan pengadaan minyak mentah serta bahan bakar minyak juga dinilai menjadi langkah penting dalam menghadapi dinamika pasar energi global.

Langkah ini perlu dilakukan mengingat persaingan antarnegara dalam mendapatkan pasokan energi semakin ketat.

Persaingan Global Memperketat Pasokan Energi

Kondisi pasar energi dunia saat ini tidak terlepas dari dampak konflik geopolitik yang terjadi di sejumlah kawasan.

Ketegangan tersebut berkontribusi terhadap kenaikan harga minyak dunia sekaligus memperketat distribusi energi global.

Dalam situasi seperti ini, banyak negara berlomba-lomba untuk mengamankan pasokan energi mereka agar tidak mengalami gangguan dalam memenuhi kebutuhan domestik.

Hal tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia yang masih bergantung pada pasokan energi dari luar negeri.

Abra menilai bahwa kondisi ini harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat sistem ketahanan energi nasional secara menyeluruh.

Langkah tersebut mencakup penguatan sektor produksi energi, peningkatan cadangan energi nasional, serta pengelolaan konsumsi energi yang lebih efisien.

Dengan strategi yang tepat, Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan energi sekaligus menghadapi berbagai tantangan yang muncul dari dinamika geopolitik global.

“Negara-negara lain juga berpacu dengan waktu untuk mengamankan pasokan energi mereka. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia,” pungkasnya.

Penguatan sektor energi dari hulu hingga hilir dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas pasokan bahan bakar minyak serta memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.

Terkini