JAKARTA - PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan pelabuhan di wilayah timur Indonesia beroperasi selama 24 jam penuh selama periode angkutan Lebaran.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan mobilitas masyarakat dan distribusi logistik antarpulau tetap lancar, meski menghadapi lonjakan arus penumpang dan kendaraan.
Direktur Utama ASDP Heru Widodo menegaskan bahwa wilayah timur memegang peran strategis dalam menjaga konektivitas nasional, khususnya selama mudik Lebaran 1447 Hijriah.
“Kami memastikan kapasitas memadai sekaligus layanan responsif yang selaras dengan dinamika di lapangan,” katanya.
Penerapan operasional 24 jam ini menjadi bagian dari strategi adaptif ASDP untuk menghadapi arus mudik dan balik di lintasan-lintasan penting.
Selain memperlancar mobilitas, kebijakan ini turut menjaga kelangsungan aktivitas ekonomi antarwilayah. Distribusi logistik, baik sembako maupun kebutuhan pokok lain, tetap berjalan optimal sehingga masyarakat dan pelaku usaha tidak terdampak gangguan selama libur panjang.
Penyesuaian Layanan di Lintasan Strategis
Penerapan pola operasional 24 jam tidak dilakukan secara merata, melainkan difokuskan pada lintasan-lintasan strategis dengan mobilitas tinggi.
Contohnya, lintasan Hunimua–Waipirit diaktifkan penuh pada 17–18 Maret serta arus balik 28–29 Maret 2026. Dengan dukungan armada KMP Terubuk dan KMP Rokatenda, lebih dari 102 ribu penumpang dan sekitar 25 ribu kendaraan telah terlayani sejak H-10 hingga H+2 Lebaran di lintasan tersebut.
Optimalisasi serupa juga dilakukan di lintasan Tampo–Torobulu. Dengan armada KMP Nuku, KMP Teluk Cendrawasih II, dan KMP Pulau Rubiah, layanan 24 jam mampu mengakomodasi sekitar 2.987 penumpang pejalan kaki dan 8.075 kendaraan sejak H-7 hingga H+2.
Langkah ini menunjukkan kemampuan ASDP dalam menyesuaikan operasional berdasarkan kebutuhan lapangan, termasuk pengalihan lintasan KMP Bahteramas II dari Kamaru–Wanci ke Labuan–Amolengo agar layanan tetap efektif.
Dampak Positif terhadap Mobilitas dan Ekonomi
Data dari ASDP Cabang Ambon dan lintasan lainnya menunjukkan bahwa penerapan layanan 24 jam terbukti meningkatkan kelancaran arus penumpang dan kendaraan.
Antrean berkurang, perjalanan masyarakat lebih fleksibel, dan distribusi logistik tetap optimal. Hal ini tidak hanya berdampak pada kenyamanan masyarakat, tetapi juga menjaga stabilitas ekonomi lokal selama periode mudik Lebaran.
General Manager ASDP Cabang Baubau, Sullivan Ramadhana Miraza, menekankan bahwa strategi ini merupakan antisipasi terhadap lonjakan arus balik.
KMP Bahteramas II tetap dioperasikan di lintasan Labuan–Amolengo hingga H+5 sebelum kembali ke lintasan awal. Pendekatan ini membantu memecah kepadatan arus penumpang dan kendaraan sehingga perjalanan lebih tertib dan aman.
Selain itu, lintasan Bastiong–Rum di Ternate meningkatkan frekuensi layanan dari tiga menjadi empat trip per hari, sementara lintasan Bastiong–Sofifi menambah frekuensi hingga 60 persen dibanding periode sebelumnya.
Total mobilisasi lintasan Bastiong–Sofifi selama mudik tercatat 1.747 penumpang pejalan kaki dan 823 unit kendaraan. Langkah-langkah ini menunjukkan respons cepat ASDP terhadap perubahan kebutuhan masyarakat.
Operasional 24 Jam sebagai Strategi Konektivitas
Heru Widodo menegaskan bahwa layanan 24 jam bukan sekadar strategi teknis, tetapi juga simbol kehadiran negara dalam memastikan konektivitas tetap terjaga.
“Kami ingin memperkuat integrasi wilayah timur dengan pulau-pulau lain, sekaligus memberikan pengalaman perjalanan yang aman dan manusiawi bagi seluruh pengguna jasa,” ujar Heru.
Dengan penerapan sistem operasional ini, ASDP memperlihatkan kesiapan adaptif yang berbasis kebutuhan lapangan, mulai dari kapasitas armada hingga koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait.
Keberhasilan ini juga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan penyeberangan, terbukti dari tingginya jumlah penumpang dan kendaraan yang memanfaatkan fasilitas tersebut.
Ke depannya, ASDP menegaskan komitmen untuk mempertahankan layanan responsif di seluruh wilayah timur Indonesia, tidak hanya saat Lebaran tetapi juga pada periode puncak mobilitas lainnya. Dengan strategi operasional yang tepat, integrasi antarwilayah lebih kuat, distribusi logistik lancar, dan pengalaman pengguna jasa lebih nyaman.