JAKARTA - Kinerja keuangan yang solid mendorong PT Bank Mega Tbk untuk meningkatkan nilai bagi para pemegang sahamnya. Hal ini tercermin dari keputusan perseroan dalam membagikan dividen dengan nilai yang signifikan untuk tahun buku 2025.
Kebijakan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan berada dalam kondisi keuangan yang sehat sekaligus optimistis terhadap keberlanjutan bisnis ke depan.
Pembagian dividen ini juga menunjukkan komitmen Bank Mega dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi usaha dan pemberian imbal hasil kepada investor.
Dengan capaian laba yang meningkat, perusahaan memiliki ruang yang cukup untuk membagikan keuntungan tanpa mengganggu stabilitas keuangan.
Dividen Meningkat Signifikan Dari Tahun Sebelumnya
PT Bank Mega Tbk membagikan dividen untuk tahun buku 2025 sebesar Rp 2 triliun atau setara Rp 171,95 per lembar sahamnya. Angka ini merupakan 60% dari total laba bersih Bank Mega tahun buku 2025 yang sebesar Rp 3,36 triliun.
Pada tahun sebelumnya, Bank Mega membagikan dividen senilai Rp 1,05 triliun, ini berarti angka dividen per 2025 naik 90% dibandingkan 2024 atau secara year on year (yoy).
Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib menjelaskan dari sisa pembagian dividen yang sebesar Rp 1,3 triliun akan dibukukan sebagai saldo laba. Saldo ini akan digunakan kembali sebgaai laba ditahan atau return earning yang juga akan menambah modal dari Bank Mega.
"Bank Mega akan membagikan dividen tunai sebesar 60% dari laba bersih di tahun 2025 sebesar Rp 3,36 triliun rupiah. Jadi, 60% dari Rp 3,36 triliun adalah sekitar Rp 2 triliun rupiah. Di akhir tahun 2025, CAR Bank Mega adalah 30%. Tentu pembagian 60% ini tidak akan terlalu mempengaruhi CAR Bank Mega ke depannya," ujar Kostaman.
Kebijakan Laba Ditahan Dan Saham Bonus
Selain pembagian dividen, dalam RUPST juga disepakati sejumlah kebijakan strategis lainnya. Salah satunya adalah penyisihan dana dari laba sebesar Rp 35,1 juta sebagai dana cadangan guna memenuhi ketentuan pasal 70 UUPT.
Selain itu juga diputuskan pembagian Saham Bonus yang berasal dari kapitalisasi tambahan modal disetor (agio saham) dengan total nilai sebesar Rp5,87 triliun.
Perseroan akan membagikan sebanyak 11,74 miliar saham bonus. Pembagian saham bonus bakal secara proporsional dengan kepemilikan saham dari setiap pemegang saham perseroan dengan rasio 1:1.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas saham sekaligus memberikan tambahan nilai bagi para pemegang saham dalam jangka panjang.
Kinerja Aset Dan Penyaluran Kredit Tetap Tumbuh
"Total aset meningkat sekitar 4% dari Rp 135 triliun menjadi Rp 141 triliun rupiah. Kalau kita lihat posisi Bank Mega, dari sisi aset Bank Mega ada di posisi nomor 19. Tapi, kalau dari sisi profit after tax (PAT), Bank Mega berada di posisi nomor 10 dari seluruh bank yang ada di Indonesia. Total kredit meningkat juga sekitar 4% dari Rp 65 triliun menjadi Rp 67 triliun," tambahnya.
Selain itu, Bank Mega membukukan penyaluran kredit yang tetap fokus pada segmen korporasi. Hingga akhir 2025, total kredit yang disalurkan tumbuh sebesar 4% menjadi Rp 67,23 triliun.
Sementara itu, rasio kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL) yang membaik menjadi 1,65% per 2025 dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 1,69%.
Kinerja ini menunjukkan bahwa Bank Mega mampu menjaga kualitas aset di tengah ekspansi bisnis yang tetap berjalan. Perbaikan rasio NPL juga menjadi indikator positif dalam menjaga risiko kredit.
Posisi Keuangan Tetap Solid Dan Kompetitif
Dengan capaian laba dan pertumbuhan bisnis yang konsisten, Bank Mega menunjukkan posisi yang cukup kompetitif di industri perbankan nasional. Pembagian dividen yang besar tidak mengganggu rasio permodalan, yang tetap kuat dengan CAR di level 30%.
Hal ini menegaskan bahwa perusahaan memiliki fondasi keuangan yang solid untuk menghadapi tantangan ke depan. Selain itu, strategi yang berimbang antara pembagian keuntungan dan penguatan modal menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan bisnis.
Ke depan, Bank Mega diharapkan terus mempertahankan kinerja positif dengan memperkuat portofolio kredit serta menjaga kualitas aset.
Dengan demikian, perusahaan dapat terus memberikan nilai tambah bagi pemegang saham sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.