Wamen Isyana: Keluarga Perlu Bangun Budaya Tanpa Kekerasan

Jumat, 07 Agustus 2026 | 19:02:02 WIB
Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka [FOTO: NET].

JAKARTA - Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga)/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menegaskan pentingnya pihak keluarga menciptakan budaya yang menolak kekerasan demi mencetak generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkepribadian baik.

"Kami perlu membangun budaya yang tidak menoleransi kekerasan dalam bentuk apapun, serta membangun budaya yang tidak abai terhadap apa yang terjadi di sekitar kami," kata Isyana dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Maka dari itu, menurut pandangannya, rumah tangga yang menyediakan atmosfer pengasuhan tenteram, penuh kasih, serta terbebas dari tindak kekerasan menjadi investasi krusial guna mencetak sumber daya manusia berdaya saing.

"Lingkungan pengasuhan yang positif tentunya akan membentuk generasi yang sehat, cerdas, tangguh, berkarakter dan siap menjadi penerus pembangunan bangsa," ujar dia.

Ia menilai, menghadirkan ruang yang kondusif bagi anak mesti menjadi kewajiban bersama lewat pola asuh yang bermutu serta perhatian terhadap pemenuhan hak-hak anak.

Isyana menekankan, upaya perlindungan anak wajib diawali dari area rumah melalui pengasuhan kasih sayang, interaksi yang sehat, serta kontrol emosi orang tua yang baik. 

Hal ini mendesak sebab merujuk data pengawasan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2025, angka pelanggaran hak anak terbanyak berasal dari ranah keluarga maupun pengasuhan alternatif.

"Oleh karena itu, membangun budaya yang peduli dan melindungi anak harus menjadi tanggung jawab bersama," ucap Isyana.

Sampai pertengahan 2025, Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) mendata ada 13.845 aduan kasus kekerasan anak di Indonesia. Peristiwa tersebut meliputi kekerasan fisik, mental, seksual, penelantaran, eksploitasi, hingga perundungan siber (cyberbullying).

Di sisi lain, psikolog Nila Anggreiny menyebutkan bahwa anak tak selalu sanggup mengutarakan peristiwa yang menimpanya, sehingga kepekaan orang tua menjadi kunci utama agar bantuan dan perlindungan bisa disodorkan sejak awal.

Menurut penjelasannya, fluktuasi emosi, masalah tidur, regresi, perubahan tingkah laku, hingga perubahan fisik mampu menjadi sinyal bahwa anak memerlukan bantuan ekstra. 

Kendati tidak ada satu penanda mutlak yang membuktikan anak mengalami kekerasan, munculnya beberapa indikasi secara serentak patut diwaspadai agar orang tua bisa mendampingi sedini mungkin.

Lantaran itu, Nila mengimbau para orang tua mempraktikkan pengasuhan responsif, yaitu gaya asuh yang peka pada keperluan anak, menghadirkan rasa aman, dan menjalin dialog dua arah.

"Keluarga adalah tempat pertama anak belajar tentang rasa aman, percaya diri, dan dihargai. Dari rumah yang penuh kasih, perlindungan diri anak tumbuh kuat setiap hari," tuturnya.

Tags

Terkini