Kepala BRIN: Tak Semua Masalah Butuh Teknologi Canggih

Senin, 10 Agustus 2026 | 18:54:32 WIB
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria [FOTO: NET].

JAKARTA - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyampaikan bahwa penyelesaian berbagai persoalan masyarakat tidak melulu memerlukan teknologi canggih.

Saat menghadiri Indonesia Innovator Award 2026 di Jakarta, Senin, Arif menjelaskan bahwa inovasi sederhana seperti sepatu karet tanpa sambungan lem dan jahitan bukanlah riset biasa, melainkan jawaban riil bagi warga prasejahtera yang memerlukan alas kaki tahan lama, terjangkau, serta praktis dirawat.

"Kami memberikan solusi untuk teknologi, bagi anda teman-teman, saudara-saudara kami yang kurang mampu, sehingga kami pun harus berempati kebutuhan masyarakat," kata ia.

Bukan cuma sepatu, Arif juga menyoroti ciptaan lain yang sering dipandang sebelah mata, mulai dari genteng berbahan komposit serabut kelapa, limbah bambu, serta sawit, sampai alat pengolah sampah organik bernama Lahsamor. 

Ia mengungkapkan pernah disindir lantaran mesin Lahsamor dinilai dapat dirakit oleh siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

"Saya pernah diledek, kenapa BRIN mengembangkan Lahsamor? Lahsamor itu mesin pengolah sampah organik. Orang SMK juga bisa, memang betul, teknologi sederhana semua orang bisa. Tapi kenapa orang lain tidak melakukan? Kekuatan kreativitas ide, dengan teknologi sederhana bisa menyelesaikan masalah," ucapnya.

Menurut Arif, tolok ukur kehebatan suatu inovasi bukan sekadar kecanggihannya, melainkan daya cipta dalam mengatasi masalah. 

Ia menekankan bahwa teknologi sederhana mampu menjadi jalan keluar penting untuk persoalan rumit seperti penanganan sampah di tanah air, selama bisa disebarluaskan dan diimplementasikan secara optimal.

"Kadang-kadang orang tidak mau berempati, maunya teknologi tinggi semuanya. Nanti kalau teknologi tinggi semuanya, orang mengkritik juga, kok tinggi? Apa untuk rakyat?," tambah dia.

Sebab itu, BRIN bakal konsisten memajukan inovasi bertingkat (multi-level), mencakup teknologi terapan sederhana sampai teknologi tingkat lanjut (advanced technology). Seluruh upaya ini berpatokan pada satu tujuan akhir, yaitu menghadirkan kegunaan yang paling optimal buat khalayak luas.

"Sekali lagi, teknologi tinggi, teknologi yang maju, orientasinya tetap pada kemanfaatan. Teknologi sederhana tidak kami hindari, sepanjang itu adalah sesuatu yang belum pernah ada, yang itu adalah kreativitas dari para periset kami. Jadi kami harus terus mengapresiasi para periset yang dengan teknologi ber-multilevel ini, yang penting adalah menyelesaikan masalah." tutur Arif Satria.

Tags

Terkini