JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin (10/8/2026) di zona merah. IHSG hari ini tergerus 44,28 poin atau 0,69 persen menuju posisi 6.365,37.
Pergerakan IHSG menunjukkan dinamika fluktuatif sepanjang sesi perdagangan. Tekanan pada bursa saham domestik tetap terjadi meskipun kurs rupiah terhadap dolar AS terpantau menguat dan mayoritas bursa saham di kawasan Asia bergerak ke area positif. Indeks LQ45 pun turut ditutup melemah 0,96 persen ke level 634,13.
Merujuk pada data perdagangan, sebanyak 287 saham mencatatkan penguatan, 329 saham terkoreksi, dan 180 saham bergerak stagnan.
Rentang pergerakan IHSG sepanjang hari berada di kisaran 6.362 hingga 6.462. Sementara itu, total volume transaksi yang terbukukan mencapai kisaran 46,61 miliar saham dengan nilai transaksi Rp18,02 triliun serta frekuensi perdagangan sebanyak 2,61 juta kali.
Mayoritas Sektor Melemah
Kondisi tertekan pada IHSG terutama dipicu oleh penurunan di mayoritas sektor saham. Dari total 11 indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI), cuma sektor transportasi yang sanggup bertahan di zona hijau dengan lonjakan mencapai 6,21 persen.
Sementara itu, 10 sektor lainnya berakhir di area minus. Penurunan paling dalam dialami oleh sektor barang konsumen nonprimer yang tergerus 1,37 persen. Menyusul di belakangnya, sektor infrastruktur terkoreksi 1,25 persen dan sektor perindustrian melorot 0,74 persen.
Di dalam jajaran saham LQ45, ESSA memimpin penguatan dengan kenaikan 7,87 persen, disusul MDKA yang terangkat 3,40 persen, serta HRTA yang naik 2,33 persen.
Sebaliknya, CUAN menjadi penghuni LQ45 dengan koreksi terdalam sebesar 4,05 persen. BRPT turut melemah 3,63 persen, sedangkan INDY menyusut 3,33 persen.
Di luar jajaran LQ45, saham GIAA menjadi salah satu yang melonjak paling tinggi hingga 33,33 persen ke posisi Rp72. GMFI mengekor dengan kenaikan 31,48 persen ke Rp71, serta SULI naik 27,78 persen ke Rp115. Saham STAR juga terangkat 24,81 persen ke Rp332 dan IOTF melesat 24,53 persen ke Rp66.
Di sisi berlawanan, FORU menjadi saham dengan pelemahan terdalam yaitu 15 persen ke Rp2.040. BAIK tergerus 14,94 persen ke Rp655, VOKS menyusut 10,37 persen ke Rp242, MITI terkikis 5,77 persen ke Rp196, dan RODA melorot 5,41 persen ke Rp70.
Dari kacamata nilai transaksi, TPIA menduduki peringkat teratas saham dengan nilai perdagangan paling besar mencapai Rp1,43 triliun. Posisi berikutnya diisi DSSA senilai Rp1,27 triliun, BUMI Rp850,25 miliar, BBRI Rp720,95 miliar, dan BMRI Rp621,94 miliar.
Adapun dari aspek volume, BUMI mencatatkan saham yang paling banyak ditransaksikan sejumlah 44,89 juta saham, disusul IATA 35,39 juta saham, GMFI 28,32 juta saham, BNBR 21,92 juta saham, dan GIAA 16,61 juta saham.
Bursa Asia Bergerak Variatif
Pelemahan IHSG bertepatan dengan variatifnya kinerja pasar saham kawasan Asia. Sebagian indeks utama regional sukses mencetak penguatan signifikan, tetapi ada pula yang berada di area minus.
Shanghai Composite menguat 0,67 persen ke 3.966,59. Hang Seng naik 1,05 persen menuju 25.937,49, lalu Nikkei 225 melonjak 2,08 persen ke 66.970,22. KOSPI pun terangkat 0,65 persen ke 6.299,66. Namun, S&P/ASX 200 melorot 0,33 persen ke 9.232,60 dan Asia Dow susut 1,04 persen ke 6.311,60.
Di pasar valuta asing, mata uang rupiah bergerak menguat terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup pada kisaran Rp17.757, menguat dibandingkan posisi pembukaannya di Rp17.776. Dalam hitungan harian, rupiah menguat 18,2 poin atau sekitar 0,1 persen. Kendati demikian, apresiasi mata uang lokal ini belum mampu mendorong IHSG ke zona hijau.