Rupiah Melemah ke Rp17.864 per Dolar AS di Tengah Sentimen Global

Rabu, 12 Agustus 2026 | 23:15:32 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS [FOTO: NET].

JAKARTA– Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengakhiri perdagangan Rabu (12/8/2026) di zona merah. Lesunya performa rupiah ini bertolak belakang dengan penguatan yang dibukukan oleh deretan mata uang Asia lainnya.

Mengutip rekaman data RTI pukul 15.05 WIB, kurs rupiah terdepresiasi 0,10 persen ke posisi Rp17.864 per dolar AS. 

Di saat bersamaan, beberapa mata uang di kawasan Asia justru menanjak, seperti baht Thailand yang naik 0,16 persen, ringgit Malaysia terangkat 0,08 persen, serta rupee India menguat 0,03 persen.

Berseberangan dengan tren hijau tersebut, penurunan nilai tukar turut dirasakan yuan China yang melandai 0,02 persen, won Korea tergerus 0,41 persen, dolar Singapura menyusut 0,06 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen.

Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memaparkan bahwa penguatan indeks dolar AS pada perdagangan hari ini disokong oleh gabungan bermacam faktor. 

Dari aspek eksternal, ketegangan yang bertahan antara AS dan Iran menjadikan kelancaran lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz terus terbatas. 

Kondisi ini memicu kecemasan seputar gangguan pasokan. Di samping itu, para pelaku pasar tengah mengantisipasi rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) serta data harga produsen AS. 

Menurut keterangannya, realisasi angka yang lebih rendah dari estimasi berpotensi meredam beban The Fed dalam mengetatkan kebijakan moneter, sedangkan capaian angka yang melebihi proyeksi berisiko memantik kembali ekspektasi kenaikan suku bunga.

”Pelaku pasar cenderung menahan diri untuk mengambil posisi agresif menjelang rilis data CPI, dengan pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada bulan September berada di kisaran 50-50,” katanya dalam keterangan resminya, Rabu (12/8/2026).

Sementara dari ranah domestik, tertekannya daya beli pada sektor penjualan ritel disinyalir memicu konsumen lebih berhati-hati dan menahan alokasi belanja kebutuhan non-esensial. Hal ini tecermin dari kinerja penjualan ritel nasional yang terkontraksi 3,0 persen secara tahunan pada Juni 2026. 

Di sisi lain, pemerintah telah mempublikasikan akumulasi utang periode semester I/2026 dengan total utang pemerintah pusat menyentuh Rp10.293,69 triliun, yang menempatkan rasio utang terhadap PDB berada di level 41,6 persen.

”Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp17.870—Rp17.940,” katanya.

Tags

Terkini