JAKARTA — Pergerakan harga emas dunia dan logam mulia di tingkat domestik diproyeksikan bakal melanjutkan tren penguatan selama sepekan ke depan. Kondisi ini didukung oleh aksi pembelian masif dari bank sentral global serta kian meningkatnya eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa posisi harga emas dunia pada penutupan sesi perdagangan pekan lalu bertengger di level US$4.375 per troy ounce.
Untuk sepekan mendatang, rentang pergerakan harga emas ditaksir berada dalam kisaran US$4.186 hingga US$4.572 per troy ounce.
“Untuk harga emas dunia dalam pekan depan kemungkinan besar ditransaksikan di-support US$4.186, kemudian resistance di US$4.572 per troy ounce,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (16/8/2026).
Ibrahim menjelaskan, salah satu pendorong utama yang menopang penguatan harga emas berasal dari maraknya aksi borong emas oleh bank sentral di berbagai belahan dunia.
Selama rentang semester I/2026, akumulasi aksi beli emas oleh bank sentral global berhasil mengukir rekor hingga menembus 2.520 ton dengan total nilai transaksi mencapai US$380 miliar.
Di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik serta dinamika fluktuasi indeks dolar AS, bank sentral di berbagai negara gencar mengeksekusi langkah diversifikasi dengan mengalihkan cadangan aset mereka dari dolar AS ke instrumen emas demi perlindungan nilai.
Di lain sisi, harga emas batangan atau logam mulia yang pada penutupan pekan lalu bertengger di posisi Rp2.681.000 per gram diperkirakan bergerak dalam rentang Rp2.520.000 hingga Rp2.830.000 per gram sepanjang sepekan ke depan.
“Logam mulia dalam sepekan kemungkinan besar kisarannya di Rp2.520.000 per gram sampai di Rp2.830.000 per gram. Jadi ada selisih sekitar Rp310.000 yang kemungkinan besar akan tercapai,” tuturnya.
Di samping pemborongan oleh bank sentral, gejolak geopolitik global seperti memanasnya retorika konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran, serangan militer Houthi di wilayah Laut Merah, hingga gangguan pada kilang minyak di Nigeria turut memperkeruh ketegangan pasar global yang berpotensi mendorong harga emas menembus rekor tertinggi anyar.