Ekonomi RI Tumbuh 5,42% Semester I/2026, Rekor Mentereng 13 Tahun

Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:44:32 WIB
Presiden Prabowo Subianto [FOTO: NET].

JAKARTA — Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan bahwa perekonomian Indonesia berhasil mencatatkan laju pertumbuhan sebesar 5,42% secara akumulatif pada semester I/2026. Capaian pertumbuhan tersebut diklaim sebagai yang tertinggi dalam rentang waktu 13 tahun terakhir.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Ferry Ardiyanto menyatakan bahwa daya tahan ekonomi nasional terbukti sangat solid meski berada di bawah bayang-bayang tekanan geopolitik dan geoekonomi global.

"Pertumbuhan ekonomi secara kumulatif pada semester I/2026 itu 5,42%, ini paling tinggi dalam 13 tahun terakhir," kata Ferry saat memberikan keterangan pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Rabu (19/8/2026).

Di samping lonjakan PDB, Ferry memaparkan bahwa sederet indikator makroekonomi turut memperlihatkan tren positif. Tingkat inflasi per Juli 2026 tercatat berada di level 2,88%, melandai jika dibandingkan bulan sebelumnya.

"Inflasi juga menurun dari bulan Juni ke Juli, Juli 2,88%," ujarnya.

Pada sektor keuangan, performa Dana Pihak Ketiga (DPK) beserta penyaluran kredit juga mengalami penguatan yang signifikan. Menurut Ferry, sejumlah indikator tersebut mampu tumbuh hingga menembus level dua digit.

"Beberapa indikator pasar keuangan seperti pertumbuhan DPK, kemudian pertumbuhan kredit, dan dana pihak ketiga juga menunjukkan peningkatan yang kuat, ditunjukkan melalui angka dua digit," katanya.

Ferry turut menambahkan bahwa cadangan devisa Indonesia tetap berada pada posisi yang aman, seiring dengan mengalirnya peningkatan arus modal masuk.

Aktivitas Manufaktur Menguat

Lebih lanjut, berbagai indikator pergerakan ekonomi domestik sepanjang paruh pertama 2026 mencatatkan pemulihan. Salah satu buktinya tecermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang sudah kembali merangsek ke zona ekspansif.

"Kami lihat Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur sekarang sudah masuk ke zona ekspansi 55,2," tutur Ferry.

Tren perbaikan juga terlihat pada indikator konsumsi masyarakat serta aktivitas industri, seperti peningkatan penjualan semen, mobil, hingga sepeda motor. Penggunaan listrik pun tercatat mengalami lonjakan yang cukup tajam.

Menurut Ferry, pergerakan positif berbagai indikator ini membuktikan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap kokoh di tengah gejolak dan ketidakpastian iklim global.

"Alhamdulillah bahwa di tengah kondisi geopolitik dan geoekonomi, fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat," katanya.

S&P Pertahankan Rating BBB

Ferry juga menggarisbawahi penilaian dari lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) yang menetapkan peringkat BBB dengan prospek (outlook) stabil bagi Indonesia.

"Bahwa salah satu lembaga rating Standard & Poor's memberikan penilaian Triple B dengan outlook stable untuk kinerja ekonomi kami," ujarnya.

Tak hanya itu, ia menyebut Japan Credit Rating Agency (JCR) telah menyematkan peringkat BBB+ untuk penerbitan Panda Bonds. Menurut Ferry, peringkat tersebut merupakan level tertinggi dalam kategori penerbitan obligasi tersebut.

"Begitu juga pasar penerbitan Panda Bonds di JCR Rating juga memberikan Triple B Plus yang merupakan rating tertinggi dalam penerbitan obligasi," katanya.

Pendapatan Negara Tumbuh 21,4%

Dari aspek fiskal, Ferry memaparkan bahwa kinerja APBN hingga akhir semester I/2026 mencatatkan ekspansi yang kuat. Penerimaan negara melesat hingga 21,4%, sedangkan pos belanja negara naik sebesar 17,8%.

"Kalau kami lihat semester I, Pendapatan Negara tumbuh solid yang di sebelah kanan, jadi tumbuhnya 21,4%. Kemudian Belanja Negara juga tumbuh kuat 17,8%," katanya.

Meskipun belanja negara terkerek cukup tinggi, angka defisit APBN hingga 30 Juni 2026 tetap terjaga secara aman di kisaran Rp196 triliun atau setara 0,76% terhadap PDB.

"Defisit itu masih dalam kisaran Rp196 triliun atau sekitar 0,76% PDB. Ini angka pada 30 Juni 2026," ujar Ferry.

Ia mengimbuhkan, hingga 31 Juli 2026, laju pendapatan negara masih merambat tinggi dan belanja negara terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat, dengan posisi defisit APBN yang tetap terkendali.

"Nanti akan disampaikan mungkin oleh Bapak Dirjen (Anggaran/Perbendaharaan) pada saat press conference APBN Kami bulan Agustus," pungkasnya.

Tags

Terkini