JAKARTA - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memaksimalkan evakuasi medis bagi kelompok rentan seperti lanjut usia (lansia) dan ibu hamil di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengalami gangguan kesehatan serta trauma akibat maraknya gempa susulan pascagempa bermagnitudo 7,7 beberapa hari lalu.
Direktur Operasi Basarnas Yudhi Bramantyo dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, menyampaikan bahwa berdasarkan penyisiran tim SAR hingga siang ini, tercatat dua warga penyintas bencana telah dievakuasi lantaran memerlukan tindakan medis khusus.
Tim SAR memindahkan seorang lansia yang menderita sakit di Ronting, Kabupaten Manggarai Timur. Awalnya, warga tersebut menempati posko pengungsian mandiri sebelum akhirnya dipindahkan ke pos penampungan terpusat agar kondisi kesehatannya dapat terus dipantau tenaga medis.
Sementara itu, satu warga lainnya merupakan ibu hamil yang dievakuasi akibat mengalami guncangan psikologis menyusul rentetan gempa susulan yang masih terus terjadi, bahkan dengan kekuatan getaran mencapai magnitudo 6,0.
Ibu hamil penyintas bencana tersebut dilarikan tim SAR menuju Posko Kesehatan Kementerian Kesehatan di Damer, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, demi memperoleh penanganan medis khusus.
Yudhi menambahkan bahwasanya segenap elemen SAR di lapangan disiagakan penuh guna memperkuat koordinasi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah, serta Kemenkes supaya warga yang memerlukan pertolongan darurat dapat ditangani secara cepat di tengah rentetan gempa susulan.
Di samping Manggarai Timur, langkah tanggap darurat tersebut juga dijalankan tim SAR di sejumlah kabupaten terdampak lainnya meliputi Kabupaten Manggarai Barat, Ngada, dan Nagekeo.
"Kami fokuskan pada penyisiran di wilayah terdampak, pendataan dan pemantauan kondisi masyarakat bersama BPBD serta pemerintah daerah, sekaligus memastikan kesiapan evakuasi medis bagi warga yang membutuhkan," kata dia.