JAKARTA - Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya menilai pameran lukisan besutan SBY Art Community (SAC) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, mampu memperkokoh diplomasi budaya lewat seni serta membuka peluang kolaborasi seniman tanah air ke tingkat dunia.
"Kami menyampaikan apresiasi kepada SBY Art Community beserta para pelukis yang tergabung di dalamnya. Melalui karya-karya yang ditampilkan, para seniman menyampaikan respons dan refleksi terhadap situasi global yang terjadi saat ini. Gagasan tersebut kemudian dapat dinikmati dan dipahami oleh masyarakat, khususnya publik di Jakarta, melalui bahasa seni," ucap Riefky lewat keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Pagelaran lukisan bertajuk 'Art for Peace and a Better Future: Collaboration' ini diselenggarakan pada 18–30 Agustus 2026 bertempat di Galeri Emiria Soenassa dan Galeri Oesman Effendi, TIM.
Agenda pameran tersebut dihelat dalam rangka menyemarakkan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus sebagai wadah bagi seniman merespons berbagai situasi dunia lewat media seni.
Pameran yang berada di bawah kurasi Gie Sanjaya ini menghadirkan 150 karya lukis pilihan, mencakup 52 karya SBY, 29 lukisan Christopher Lehmpfuhl, 63 karya seniman SBY Art Community, lima lukisan karya anak-anak, dan satu karya kolaborasi.
Seluruh hasil karya diusung oleh para seniman lulusan ISI Yogyakarta, ISI Solo, ITB Bandung, IKJ Jakarta, hingga perupa independen.
Riefky menambahkan bahwa wujud kolaborasi di tubuh SBY Art Community dapat terus digali untuk menyediakan ruang yang lebih luas bagi perupa Indonesia dalam berkarya dan membangun jaringan internasional.
Mengatasnamakan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (Menko AHY), menuturkan bahwasanya ajang pameran ini hadir sebagai sarana apresiasi seni sekaligus wujud diplomasi kultural.
Menurutnya, jalinan kolaborasi antara perupa dalam negeri dan Christopher Lehmpfuhl dari Berlin semakin mempererat relasi Jakarta dan Berlin sebagai kota kembar (sister city).
"Rasanya seni bisa menjadi sesuatu yang memoderasi, mendamaikan. Mudah-mudahan hubungan baik antara kedua kota, antara kedua negara, bisa dijembatani melalui kolaborasi semacam ini. Sesekali datanglah para seniman dari Jerman dan sesekali kami juga datang ke Berlin untuk punya pameran semacam ini," ujar Menko AHY.
Perupa asal Berlin, Christopher Lehmpfuhl mengungkapkan bahwa perjumpaannya dengan SBY pada 2024 silam telah menumbuhkan ikatan persahabatan dan kerja sama seni.
Kunjungan Christopher Lehmpfuhl ke Indonesia dimanfaatkan sebagai momentum untuk melukis bentang alam bersama para seniman lokal.
Ia menganggap pengalaman tersebut membuktikan adanya kesamaan ritme dan semangat di antara para perupa dari kedua negara meski berangkat dari konteks budaya berlainan.
"Bagi saya, penting untuk membangun jembatan antara bangsa dan budaya yang berbeda. Seni memberikan harapan dan dapat mempertemukan manusia, menghadirkan perspektif positif. Di masa yang penuh tantangan seperti sekarang, penting bagi kami untuk saling berkomunikasi dan belajar satu sama lain,” ujar Christopher Lehmpfuhl.
Kemenekraf menaruh harapan agar deretan pameran ini mampu memberi ruang bagi publik untuk memahami proses kreatif serta landasan berpikir di balik karya, sembari memperluas jejaring interaksi antara perupa Indonesia dan mancanegara.