IHSG Ditutup Menanjak ke 6.501, Saham AMMN, BUMI, BRMS Melesat

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:32:32 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) [FOTO: NET].

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan dengan mencatatkan penguatan pada Kamis (20/8/2026). Pergerakan deretan saham seperti AMMN, BUMI, hingga BRMS melaju di zona hijau sejak perdagangan pagi.

Berdasarkan data RTI Infokom pada pukul 16.00 WIB, IHSG ditutup menguat di posisi 6.501,58, melonjak 1,68 persen sesaat seusai pembukaan. Rentang pergerakan IHSG berada di kisaran 6.444,39 hingga 6.514,67 sesaat setelah pasar dibuka.

Secara rincian, sebanyak 452 saham tercatat melesat, 190 saham terkoreksi, dan 150 saham stagnan. Nilai kapitalisasi pasar pun terkerek menuju angka Rp11.444 triliun.

Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) melompat 7,97 persen menuju posisi Rp4.470 pada penutupan perdagangan sore. Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) turut terangkat 4,40 persen ke level Rp190 per saham. 

Begitu pula dengan saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang melesat 9,60 persen hingga menyentuh level Rp685 pada sesi pagi.

Emiten lain yang turut menguat di antaranya saham KIJA yang melonjak 24,85 persen ke posisi Rp206, ANTM terangkat 3,63 persen menjadi Rp3.140, serta saham BBCA yang menguat 1,59 persen menuju level Rp6.400 per saham.

Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas memaparkan bahwa bursa saham Asia bergerak menguat pada perdagangan hari ini, mengekor penguatan indeks Wall Street seiring meredanya tekanan pada pasar obligasi Amerika Serikat (AS).

Para pelaku pasar mengesampingkan rilis risalah The Fed yang mengindikasikan kian bertambahnya pejabat bank sentral AS yang mendukung opsi kenaikan suku bunga pada pertemuan sebelumnya.

“Investor justru merespons positif penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang mendorong aliran dana kembali ke aset berisiko,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam laporannya, Kamis (20/8/2026).

Pelemahan imbal hasil tersebut terjadi pascapengumuman Departemen Keuangan AS mengenai rencana peningkatan program pembelian kembali (buyback) surat utang dalam skala besar. 

Kebijakan ini dinilai sanggup meredam kekhawatiran atas lonjakan biaya pinjaman yang sempat menekan pasar saham global.

Pelaku pasar menilai pelemahan yield obligasi pemerintah AS, terkhusus tenor jangka panjang, sanggup membantu memulihkan preferensi risiko investor.

Di kawasan Asia, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada kebijakan moneter Bank Sentral China yang kembali mempertahankan suku bunga acuan pembiayaan pada posisi terendah sepanjang sejarah.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menguatkan keputusan untuk mempertahankan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar global yang meningkat.

 Kebijakan moneter tersebut juga diselaraskan untuk mengawal tingkat inflasi agar tetap berada dalam koridor target 1,5%–3,5% pada 2026 dan 2027, sekaligus menopang keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Eskalasi gejolak global kian intensif seiring memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Pejabat Sementara Gubernur BI menegaskan bahwasanya arah kebijakan moneter akan tetap berfokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pihak BI juga akan memperluas skema insentif lindung nilai guna memicu aliran masuk modal asing.

Tags

Terkini