IHSG Diproyeksi Menguat Terbatas, Investor Cermati Pidato Warsh

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:50:31 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) [FOTO: NET].

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih memiliki peluang meneruskan tren penguatan pada perdagangan Jumat (28/8/2026), usai sehari sebelumnya melonjak 1,81 persen menuju level 6.521. 

Kendati kondisi pasar mulai membaik, para pelaku pasar diimbau tetap mewaspadai gejolak volatilitas global sembari menantikan kejelasan kompas kebijakan moneter AS dari pidato pejabat The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan secara kalkulasi teknikal pergerakan IHSG berpeluang menguat terbatas dengan titik support dan resistance masing-masing dipatok pada angka 6.440 dan 6.635.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 6.440 – 6.635,” ujar Nico dalam risetnya, Jumat (28/8/2026).

Pada sesi transaksi Kamis (27/8/2026), IHSG ditutup melesat 116,06 poin atau 1,81 persen ke posisi 6.521. Lonjakan ini dipelopori oleh sektor industrials yang melambung 3,95 persen.

Nico menambahkan bahwasanya dinamika sentimen pasar turut terpengaruh data ketenagakerjaan AS yang mempelihatkan pemulihan. 

US Initial Jobless Claims terkikis dari posisi 207.000 ke tingkat 203.000, sementara US Continuing Claims susut dari 1,796 juta menjadi 1,778 juta.

Menurut pengamatannya, penyusutan angka klaim pengangguran tersebut memberikan ruang napas sementara bagi The Fed, sehingga penanganan dapat lebih diarahkan pada laju inflasi yang terbilang masih alot diturunkan.

“US Initial Jobless Claims mengalami penurunan dari sebelumnya 207k menjadi 203k, sebuah level yang dekat dengan titik terendah sepanjang sejarah. Begitupun dengan US Continuing Claims yang mengalami penurunan dari sebelumnya 1.796k menjadi 1.778k, yang tentu saja ini merupakan sesuatu yang sangat positif,” katanya.

Meski begitu, Nico mengingatkan bahwa rincian data tersebut tetap mesti diantisipasi lantaran penurunan angka klaim pengangguran juga berpotensi dipicu oleh tuntasnya masa pemberian tunjangan bagi sebagian pencari kerja.

Pada sisi inflasi, para pelaku pasar masih patut memperhatikan potensi lonjakan harga komoditas minyak akibat gesekan konflik AS dan Iran. 

Ketegangan geopolitik itu dipandang mampu kembali menyuntikkan beban terhadap inflasi sekaligus memengaruhi keputusan The Fed.

Atensi pasar turut tertuju pada tensi hubungan dagang Amerika Serikat dan Kanada yang kembali memanas. 

Nico menilai eskalasi sengketa perdagangan kedua negara berpeluang meluas serta memperbesar ketidakpastian pasar global.

Sementara itu, agenda pidato Kevin Warsh di Jackson Hole bakal menjadi penentu arah penting pada sesi perdagangan mendatang. Pelaku pasar dipastikan bakal membedah sinyalemen Warsh mengenai proyeksi suku bunga The Fed.

Nico turut mencermati pergerakan hasil obligasi negara Indonesia. Kenaikan yield US Treasury memicu imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun kembali bertengger pada rentang 7-7,10 persen.

Menurut pemaparannya, lonjakan tersebut masih berada pada batas wajar selepas yield SUN 10 tahun sebelumnya sempat merosot lumayan dalam dari posisi 7,20-7,30 persen.

“Kami melihat potensi tersebut cukup besar. Namun mungkin akan bertahap, sama dengan kenaikkan IHSG. Kami melihat pasar mulai pulih, namun tetap hati-hati karena volatilitas masih cukup tinggi,” ujar Nico.

Dari kabar domestik, pemerintah memasang target belanja negara 2027 sebesar Rp 4.097 triliun, alias melonjak 6,6 persen ketimbang perkiraan 2026 yang senilai Rp 3.842 triliun. 

Alokasi belanja pemerintah pusat diproyeksikan menyentuh Rp 3.362 triliun, atau naik 3,6 persen. 

Postur anggaran tersebut mencakup belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 1.504,7 triliun serta belanja non-kementerian/lembaga senilai Rp 1.857 triliun.

Sejumlah sektor vital mengantongi porsi jumbo, mencakup pos pendidikan Rp 820,9 triliun, perlindungan sosial Rp 549,9 triliun, sektor kesehatan Rp 244,9 triliun, hingga ketahanan pangan sebesar Rp 195,3 triliun.

Nico menilai pembengkakan belanja negara mengindikasikan bahwa pemerintah masih bertumpu pada instrumen kebijakan fiskal demi mengawal pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga daya beli publik. 

Walau begitu, efektivitas penyerapan menjadi tantangan tersendiri sebab kenaikan anggaran mesti diimbangi tata kelola yang produktif serta tepat sasaran.

Pada kesempatan terpisah, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memaparkan kenaikan IHSG pada Kamis turut diimbangi dengan kehadiran volume aksi beli. 

Laju IHSG juga dinilai masih tangguh bertahan di atas rata-rata pergerakan 20 hari atau MA20.

“IHSG menguat 1,81 persen ke 6.521 dan disertai dengan munculnya volume pembelian. Pergerakannya pun masih mampu berada di atas MA20,” ujar Herditya.

Kendati demikian, Herditya menakar posisi IHSG saat ini masih tergolong bagian dari wave iv dari wave (c). Para investor diharapkan mewaspadai potensi pelemahan pada area 6.290-6.394.

“Kami memperkirakan, posisi IHSG saat ini sedang berada pada bagian dari wave iv dari wave (c), cermati area koreksi IHSG yang dapat kami perkirakan berada pada rentang 6.290 - 6.394. Adapun area penguatan IHSG akan menguji area 6.666,” tegas dia.

Tags

Terkini