Strategi BRI Jaga Likuiditas di Tengah Pertumbuhan Kredit

Senin, 31 Agustus 2026 | 23:07:02 WIB
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menganggap kondisi likuiditas pada industri perbankan nasional berada pada tingkat yang cukup aman hingga kuartal II 2026.

Gambaran tersebut tampak dari angka Loan-to-Deposit Ratio (LDR) industri perbankan yang menempati posisi 86,88 persen pada kuartal II-2026 sesuai laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Di sisi lain, capaian LDR BRI berada di atas rata-rata industri, yaitu menyentuh 90,8 persen.

Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu Retno menyampaikan, LDR perseroan tercatat lebih tinggi dibandingkan industri, yakni sebesar 90,8 persen.

“Untuk Loan-to-Deposit Ratio BRI sendiri saat ini adalah 90,8 persen,” kata Viviana dalam paparan kinerja kuartal II 2026 di Jakarta, Senin (31/8/2026).

Menurut pandangannya, kendati LDR sektor industri maupun BRI menempati posisi tersebut, keadaan likuiditas perbankan di dalam negeri masih bisa dikategorikan aman.

“Kalau kami lihat angka tadi 88,3 persen, kemudian BRI-nya 90,8 persen, sebenarnya likuiditas perbankan nasional ini masih bisa kami katakan pada level yang memadai,” ujar Viviana.

Kendati demikian, Viviana mengungkapkan pihak perseroan bakal terus mencermati pergerakan likuiditas sampai penutupan tahun, khususnya saat memasuki semester II 2026.

Viviana mengatakan, BRI akan menjaga likuiditas secara disiplin dengan menyesuaikan pertumbuhan kredit dan kemampuan menghimpun dana.

“Memasuki semester dua tahun 2026, kami akan terus menjaga likuiditas secara disiplin, terutama dengan menyelaraskan antara pertumbuhan kredit dan juga dengan kapasitas penghimpunan dana,” terangnya.

BRI mencatat Cost of Fund (CoF) secara bank only menyusut dari 3,0 persen pada kuartal II 2025 menjadi 2,4 persen pada kuartal II 2026.

Ditinjau dari aspek efisiensi, Cost to Income Ratio (CIR) mengalami perbaikan dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen. 

Mutu aset pun kian solid dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) yang melandai dari 3,0 persen menuju 2,9 persen, sementara Cost of Credit (CoC) membaik dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.

Sementara itu, akumulasi penyaluran kredit BRI tembus Rp 1.646 triliun atau mencatatkan kenaikan 16,2 persen pada semester I 2026.

Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Tags

Terkini