JAKARTA - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini mendesak pemerintah agar memberlakukan status kejadian luar biasa (KLB) bagi wilayah-wilayah yang mencatatkan lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) imbas bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Yahya menyebut Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah sebagai contoh kawasan yang krusial untuk segera mendapatkan atensi khusus. Menurut keterangannya, lebih dari 72.000 jiwa di kedua provinsi itu menderita ISPA karena pekatnya kepulan asap karhutla.
"Penetapan KLB memungkinkan penanganannya dapat dilakukan secara cepat dan terintegrasi," ujar Yahya dalam keterangan tertulisnya kepada Kompas.com, Selasa (1/9/2026).
Yahya menuturkan bahwa eskalasi kasus ISPA karena kabut asap karhutla wajib dipandang sebagai darurat kesehatan atas dasar paparan, alih-alih sekadar kenaikan angka kunjungan pasien.
Berdasarkan pandangannya, pemerintah tidak cukup sekadar memetakan kalangan warga yang rentan terdampak asap. Informasi tingkat mutu udara perlu langsung diejawantahkan ke dalam kebijakan penanganan kesehatan yang mengikat.
“Termasuk pembatasan aktivitas luar ruang, penyesuaian jam kerja dan pembelajaran, pengoperasian ruang aman udara bersih, serta pengerahan pelayanan kesehatan bergerak,” tuturnya.
“Masyarakat tidak boleh hanya diberi informasi bahwa udara sedang tidak sehat, tetapi tetap dibiarkan beraktivitas tanpa perlindungan dan tanpa akses pemeriksaan kesehatan,” sambung Yahya.
Politikus Partai Golkar tersebut menegaskan pentingnya proteksi ekstra dari pemerintah bagi kelompok masyarakat rentan, yang mencakup anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, hingga penderita penyakit tertentu.
Yahya pun mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) beserta pemda supaya mengkaji opsi evakuasi warga ke zona yang lebih terlindung, khususnya di wilayah dengan tingkat paparan asap tergolong parah.
"Kemenkes dan Pemerintah Daerah perlu melakukan koordinasi untuk penanganan kasus ISPA yang melanda warga dengan penyediaan tenaga medis, tenaga kesehatan dan rumah sakit serta bantuan masker untuk warga serta rumah oksigen," ungkap Yahya.
Yahya turut memotivasi adanya penempatan pos layanan kesehatan bergerak di desa-desa yang letaknya jauh dari puskesmas, serta di daerah yang terpapar asap paling pekat.
"Pemerintah juga harus memastikan ketersediaan obat asma, bronkodilator, oksigen, alat nebulisasi, serta kapasitas rujukan untuk pasien dengan sesak berat," tukas Yahya.
Sebelumnya, 5,5 juta warga terdampak karhutla
Sebelumnya, pihak Kemenkes sempat membeberkan fakta bahwa ada sekitar 5,5 juta jiwa penduduk di pulau Kalimantan dan Sumatra yang ikut merasakan dampak buruk karhutla.
"Jadi, wilayah yang terdampak populasinya hampir 5,5 juta di Kalimantan dan Sumatra. Bayangkan betapa Karhutla ini memberikan efek yang tidak menguntungkan pada 5,5 juta populasi masyarakat," kata Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Dante menyampaikan, ada sekitar 4.000 warga yang tercatat masih menderita ISPA sampai hari Kamis (27/8/2026), sementara angka kumulatif penderita sejak Juli hingga Agustus menyentuh kisaran 13.500 orang.
"13.500 orang yang kena ISPA, sebagian sudah sembuh dengan penanganan yang kami lakukan, tapi di hari kemarin itu ada 4.082 yang masih ISPA," ujar Dante.
Berdasarkan keterangan Dante, kuantitas warga yang terserang ISPA pada tahun ini mengalami lonjakan bila dikomparasikan dengan tahun lalu. Meskipun demikian, ia menepis anggapan bahwa kenaikan itu disebabkan oleh kelambanan pihak Kemenkes dalam merespons situasi.
"Bukan penanganan terlambat karena ISPA-nya naik, tapi memang dampaknya dari kebakaran hutan yang lebih besar dibandingkan dengan tahun kemarin. Dampak kebakaran besar menyebabkan angka ISPA-nya itu meningkat, jadi keterlambatan penanganan itu tidak ada," ujar Dante.
Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT