Ekspektasi Rate Hike Mereda, Harga Emas Melesat ke US$4.471

Jumat, 04 September 2026 | 23:06:32 WIB
Karyawati memperlihatkan kepingan emas Antam [FOTO: NET].

JAKARTA — Nilai tukar emas dunia melonjak usai penyataan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menipiskan ekspektasi lonjakan suku bunga Amerika Serikat, yang pada gilirannya menekan yield obligasi pemerintah AS dan indeks dolar AS.

Mengutip data Kitco, Jumat (4/9/2026), harga emas spot terkerek 1,92% menuju posisi US$4.471,10 per troy ounce pada sesi perdagangan Kamis sore waktu AS. Komoditas ini sempat menembus level US$4.511,70 usai membalas penurunan dari titik terendahnya di level US$4.281,70 pada perdagangan Rabu.

Apresiasi logam mulia terjadi seiring meningkatnya keyakinan para pelaku pasar bahwa The Fed bakal mempertahankan tingkat suku bunga dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15—16 September 2026.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga untuk September melandai ke kisaran 50,4% dari posisi 63,2% pada hari sebelumnya. Yield obligasi US Treasury tenor 2 tahun juga menyusut ke 4,34%, sedangkan tenor 10 tahun bertahan di level 4,77%.

Pangkal perubahan ekspektasi ini merujuk pada pernyataan Waller yang membuka opsi mempertahankan suku bunga apabila laju perbaikan inflasi berjalan konsisten.

“Jika terdapat kemajuan berkelanjutan menuju target 2%, saya bersedia mendukung untuk mempertahankan suku bunga kebijakan pada level saat ini,” kata Waller dalam Reuters NEXT Newsmaker Interview, dikutip dari keterangan resmi The Fed, Jumat (4/9/2026).

Waller menilai indikasi disinflasi mulai tampak. Angka inflasi inti dalam rentang tiga bulan hingga Juli berhasil ditekan ke 3,05% dari posisi 4,76% pada Februari. Walau begitu, tingkat inflasi saat ini masih berada di atas sasaran The Fed.

Tingkat inflasi berbasis personal consumption expenditures (PCE) mencatatkan angka 3,7% dalam kurun 12 bulan terakhir, sementara inflasi PCE inti tercatat 3,3%. Waller menegaskan bahwa arah kebijakan mendatang bakal amat bergantung pada rilis data inflasi Agustus. Pihaknya juga tidak menutup opsi penaikan suku bunga kembali jika tekanan harga melonjak lagi.

“Namun, jika inflasi kembali memanas, saya akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga,” ujarnya.

Ancaman itu berpotensi menghambat laju penguatan emas. Indeks sektor jasa ISM AS merangkak naik ke posisi 55,4 pada Agustus dari 54,1, sementara indeks harga yang dibayar meningkat menuju 72,6—tingkat tertinggi sejak Oktober 2022. Di sisi lain, indeks lapangan kerja masih tertahan di area kontraksi pada kisaran 47,8.

Selanjutnya, perhatian investor tertuju pada rilis data tenaga kerja Agustus serta indeks harga konsumen yang dijadwalkan meluncur pada 11 September. Rangkaian data tersebut bakal menjadi sinyal kunci bagi arah kebijakan The Fed sekaligus pergerakan dolar AS dan yield US Treasury.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz terus memberikan dorongan terhadap daya tarik emas sebagai aset safe haven. Meski begitu, lonjakan harga minyak bumi ikut menjaga potensi risiko inflasi tetap aktif. Minyak jenis WTI terpantau diperdagangkan di kisaran US$91,30 per barel, sedangkan Brent bertengger di US$95,52 per barel.

Dinamika ini menempatkan prospek emas dalam topangan pelandaian yield obligasi dan penurunan dolar AS, namun tetap dibayangi risiko inflasi yang berpeluang mengubah kemudi kebijakan The Fed.

Tags

Terkini