Rupiah Menguat ke Rp17.642 per Dolar AS Terdorong Sinyal Dovish The Fed

Senin, 07 September 2026 | 02:33:02 WIB
Pegawai menunjukan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan berada pada kisaran Rp17.600 – Rp17.750 per dolar AS pada pekan depan. Adapun, mata uang rupiah bergerak dalam tren penguatan selama beberapa hari terakhir seiring melemahnya mata uang dolar AS pascapernyataan bernada dovish yang disampaikan oleh pihak The Fed.

Pada penutupan sesi perdagangan Jumat (4/9/2026), rupiah tercatat menguat 0,21% atau naik 37 poin menjadi Rp17.642 per dolar AS. Posisi rupiah ini menandakan adanya apresiasi setinggi 0,28% atau 50 poin kurun sepekan terakhir.

Mengutip data Trading Economics, tekanan pada dolar AS dipicu oleh berkurangnya ekspektasi pelaku pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed.

"Pergerakan ini terjadi seiring melemahnya dolar AS setelah para pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve bulan ini, menyusul pernyataan bernada dovish dari seorang pejabat bank sentral," tulis laporan tersebut, Sabtu (5/9/2026).

Dari ranah domestik, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa tingkat inflasi nasional masih terjaga, seraya mendorong terciptanya sinergi yang lebih erat di antara pemerintah, bank sentral, dunia usaha, dan para ekonom demi menopang pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, laporan tersebut memaparkan bahwa penguatan rupiah mengalami penahanan akibat kekhawatiran atas potensi dampak fenomena El Niño yang dapat mengganggu ketersediaan pasokan pangan serta memicu lonjakan harga beberapa bulan ke depan.

Selain itu, kehati-hatian pasar juga membayangi jelang publikasi sejumlah data pekan depan, mencakup angka cadangan devisa Agustus, indeks keyakinan konsumen, hingga data penjualan eceran periode Juli 2026. 

Berbagai rilis data tersebut diharapkan memberi petunjuk baru terkait dinamika permintaan domestik serta arah kebijakan moneter ke depan.

"Meski demikian, rupiah berada di jalur yang tepat untuk mencatat penguatan selama lima minggu berturut-turut, dengan kenaikan sekitar 0,25% sejauh ini," tulis Trading Economics.

Sementara itu, pihak Pluang menyebutkan bahwa ekspektasi atas arah kebijakan The Fed turut mendorong apresiasi di pasar saham AS. 

Dalam laporannya, pergerakan mayoritas saham pada indeks S&P 500 mencatatkan kenaikan setelah Anggota Gubernur The Fed, Christopher Waller, melontarkan nada dovish yang berimbas pada penurunan imbal hasil obligasi.

"Federal Reserve tampaknya menerapkan pendekatan 'good cop, bad cop' untuk menjaga stabilitas suku bunga di tengah sinyal-sinyal hawkish yang sempat muncul," ujar mereka.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai bahwa terapresiasinya rupiah berjalan beriringan dengan pelemahan dolar AS setelah para pelaku pasar memangkas ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Bank Sentral AS bulan ini pascakomentar dovish pejabat terkait.

"Untuk perdagangan Senin [7/9] pekan depan, investor akan mengantisipasi rilis data cadangan devisa Indonesia," ujarnya, Jumat (4/9/2026).

09:10 WIB Rupiah Dibuka Depresiasi 0,07%

Merujuk data analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka terdepresiasi 0,07% atau turun 12 poin menuju level Rp17.654 per dolar AS. 

Penurunan mata uang Garuda ini sejalan dengan tren pelemahan yang membayangi sebagian besar mata uang Asia pada pagi hari. 

Peso Filipina mencatat koreksi terdalam terhadap dolar AS sebesar 0,15%, mengekor baht Thailand yang melemah 0,08%, dolar Singapura turun 0,07%, ringgit Malaysia terkoreksi 0,05%, serta yuan China tergerus 0,03%.

12:23 WIB Rupiah Turun 0,44%

Hingga pukul 12.23 WIB, rupiah mencatatkan pelemahan sebesar 0,44% atau menyusut 78 poin ke posisi Rp17.653,9 per dolar AS.

Tags

Terkini