Proyeksi Rupiah Hari Ini: Berpotensi Melemah ke Rp17.680 per Dolar AS

Selasa, 08 September 2026 | 00:00:32 WIB
Pegawai menunjukan mata uang Dolar Amerika Serikat dan Rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA — Kurs rupiah atas dolar AS diperkirakan berpotensi menutup perdagangan di zona merah pada kisaran Rp17.640-Rp17.680 per dolar AS pada hari ini, Selasa (8/9/2026).

Pada penutupan perdagangan Senin (7/9/2026), mata uang rupiah sempat menguat tipis 2 poin atau 0,03 persen ke posisi Rp17.640 per dolar AS. 

Sementara itu, Indeks dolar AS pada pukul 15.00 WIB tercatat turun 0,33 poin atau 0,33 persen menuju level 98,8.

Di sisi lain, mata uang di kawasan Asia ditutup bervariasi menghadapi dolar AS. Yen Jepang menguat 1,11 persen, dolar Hong Kong naik 0,01 persen, dolar Singapura terangkat 0,09 persen, dolar Taiwan melesat 0,29 persen, dan won Korea terkerek 0,31 persen. 

Adapun yuan China turun 0,02 persen, ringgit Malaysia bergerak stagnan, serta baht Thailand merangkak naik 0,25 persen terhadap dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengemukakan bahwa dinamika global dipicu aksi militer AS yang melancarkan serangan terhadap tiga kapal tanker minyak milik Iran pada Sabtu, menyusul gempuran rudal balistik pasukan Iran ke armada Angkatan Laut AS. Iran lantas mengonfirmasi telah menembak jatuh drone angkatan laut AS sembari memberi peringatan akan memberikan balasan yang jauh lebih keras apabila AS kembali menyerang. 

Laporan Press TV menyebutkan bahwa pejabat tinggi keamanan Iran menegaskan Teheran bakal menetapkan zona maritim terbatas yang baru di luar Selat Hormuz, di mana kapal yang melintas berisiko terkena sanksi. Ekskalasi tersebut memicu kecemasan terganggunya arus energi dan pelayaran komersial di Selat Hormuz yang umumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Dari ranah pasar keuangan AS, rilis data memperlihatkan penyerapan tenaga kerja yang melampaui estimasi. Angkatan kerja AS bertambah lebih dari 162.000 orang pada Agustus, jauh melampaui proyeksi 56.000 serta melampaui data Juli yang direvisi naik dari -23.000 menjadi 21.000. Tingkat pengangguran berada di angka 4,1 persen, lebih rendah dari estimasi akhir tahun pejabat The Fed sebesar 4,5 persen.

Dari dalam negeri, fleksibilitas arah kebijakan moneter Indonesia menghadapi ujian pekan ini. Tantangan utamanya ialah menjaga ritme pertumbuhan sekaligus memastikan stimulus moneter tidak memicu lonjakan volatilitas rupiah serta maraknya modal asing yang keluar.

Ibrahim menambahkan, kecemasan pelaku pasar juga dipengaruhi oleh rentetan bencana alam domestik. Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat malam (4/9/2026) hingga akhir pekan berpotensi memberikan dampak besar pada moda penerbangan serta mobilitas warga. 

Di samping itu, rentetan bencana yang berlangsung bersamaan—termasuk kebakaran lahan gambut di Kalimantan dan Sumatra serta menyusutnya debit air Sungai Barito—menyebabkan pengangkutan batu bara terhenti. 

Peristiwa tersebut menambah rumit deretan risiko ekonomi lokal akibat hambatan transportasi dan potensi gangguan pada rantai pasok.

09:30 WIB Rupiah Dibuka Depresiasi 

Merujuk pada data Doo Financial Futures pukul 09.05 WIB, rupiah terkikis 0,01 persen atau 1 poin ke level Rp17.641 per dolar AS.

 Pelemahan tipis ini sejalan dengan ringgit Malaysia yang merosot 0,02 persen dan yuan China yang melandai 0,01 persen terhadap dolar AS.

12:12 WIB Rupiah Stagnan Rp17.615 per Dolar AS 

Pergerakan rupiah terpantau tidak mengalami perubahan atau stagnan di angka 17.615,9 per dolar AS pada pukul 12.10 WIB.

Tags

Terkini