Sempat Menguat, IHSG Hari Ini Berbalik Melemah 0,13 Persen

Kamis, 10 September 2026 | 00:02:02 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan [FOTO: NET].

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pembalikan arah hingga terkoreksi pada perdagangan Kamis (10/9/2026), meski sempat diawali dengan penguatan. 

Dynamika bursa saham domestik ini berlangsung di tengah gempuran tekanan mayoritas bursa Asia serta lonjakan harga minyak jenis Brent yang berhasil menembus angka 100 dollar AS per barel.

Merujuk pada data RTI, sekitar pukul 09.23 WIB, IHSG berada di posisi 6.669,36, tergerus 8,84 poin atau setara 0,13 persen ketimbang penutupan sesi sebelumnya yang berada pada level 6.678,20.

 Padahal pada pembukaan awal, IHSG hari ini sempat merambat naik 0,18 persen atau 12,061 poin menuju level 6.690,262.

Rincian data transaksi mengindikasikan IHSG diawali pada posisi 6.688,18. Pergerakannya sempat menyentuh titik puncak tertinggi di level 6.712,50, sebelum akhirnya berbalik merosot hingga mencapai dasar terendah di posisi 6.666,58.

Kurang lebih pukul 09.23 WIB, terdata 214 saham bergerak menguat, sedangkan 321 saham bergerak melemah dan 428 saham sisanya tidak bergerak. 

Keseluruhan volume transaksi tercatat di angka 8,681 miliar saham dengan akumulasi nilai transaksi menyentuh Rp 5,323 triliun. Adapun frekuensi perdagangan terhitung mencapai 534.200 kali.

Saham LQ45

Di jajaran emiten LQ45, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) tampil sebagai emiten dengan lompatan kenaikan paling signifikan. Harga saham CUAN terangkat 6,91 persen menuju posisi Rp 1.005 per saham. 

Kemudian, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melonjak 2,61 persen ke level Rp 12.775 dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menguat 2,19 persen di posisi Rp 3.270.

Di sisi berlawanan, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menempati jajaran LQ45 dengan koreksi terdalam, yakni tergerus 1,49 persen ke angka Rp 990. 

Berikutnya, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menyusut 0,91 persen ke kisaran Rp 545 dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terkikis 0,72 persen menjadi Rp 690.

Bursa Asia tertekan

Arah pergerakan IHSG berjalan beriringan dengan pasar saham Asia yang dilanda tekanan. Kalangan pemodal cenderung mengikis porsi portofolio pada instrumen berisiko akibat eskalasi gesekan politik di Timur Tengah serta merambat naiknya harga komoditas minyak.

Mengutip laporan Reuters, indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang terkoreksi 1 persen. 

Begitu pula dengan indeks Nikkei Jepang dan KOSPI Korea Selatan yang masing-masing mengalami kemerosotan lebih dari 1 persen.

Harga minyak Brent untuk kontrak berjangka melesat tipis menuju kisaran 101,4 dollar AS per barel pada sesi awal perdagangan Kamis. Di waktu sebelumnya, minyak Brent telah melampaui ambang batas 100 dollar AS per barel untuk pertama kalinya sejak rentang Juli 2026.

Lonjakan harga komoditas ini terpicu usai Iran dan Amerika Serikat terlibat aksi saling serang terhadap kapal-kapal di perairan Timur Tengah. Meluasnya perselisihan tersebut menyulut kekhawatiran atas potensi tersendatnya distribusi pasokan energi dari wilayah Teluk.

“Brent yang menembus level 100 dollar AS akan dilihat banyak pelaku pasar sebagai peristiwa penting dalam situasi saat ini,” ujar Nick Twidale, Chief Market Strategist ATFX Global.

Menurut pandangan Twidale, imbal hasil obligasi skala global berpeluang kembali mendaki saat pelaku pasar mulai beradaptasi dengan potensi timbulnya inflasi yang lebih tinggi untuk beberapa bulan ke depan.

Sinyal tekanan juga membayangi pasar surat utang Amerika Serikat. Imbal hasil US Treasury untuk tenor 10 tahun bertahan di angka 4,8406 persen, setelah sehari sebelumnya sempat menembus level puncaknya sejak 2023.

Sebelumnya, Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana pembelian kembali obligasi tenor panjang berbobot 6 miliar dollar AS. Kendati demikian, kebijakan tersebut belum memuaskan sebagian pemodal yang mendambakan besaran nilai buyback lebih masif.

Melambungnya harga minyak yang beriringan dengan melesatnya yield obligasi kian memperberat tekanan bagi instrumen aset berisiko.

“Pasar menghadapi kombinasi tekanan pada September, yang secara historis bukan merupakan bulan terbaik bagi pasar saham,” kata Vasu Menon, Managing Director Investment Strategy di OCBC.

Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Tags

Terkini