Hotspot Karhutla Nasional Turun, Kalteng Masih Tertinggi

Minggu, 13 September 2026 | 15:40:02 WIB
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Ristianto Pribadi [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyampaikan data terbaru mengenai sebaran titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Indonesia.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Ristianto Pribadi mengungkapkan bahwa jumlah hotspot mengalami penurunan sebanyak 121 titik, sehingga tersisa 567 titik berdasarkan data pemantauan Sipongi Kemenhut hingga Sabtu (12/9/2026) malam.

"Berdasarkan pemantauan Sipongi Kementerian Kehutanan hingga Sabtu malam, 12 September 2026, terdeteksi penurunan sejumlah 121 titik. Menjadi 567 titik hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence secara nasional," kata Ristianto dalam keterangan tertulisnya, Minggu (13/9/2026).

Ristianto merinci persebaran titik panas di enam provinsi prioritas. Di Kalimantan Tengah (Kalteng), hotspot menyusut dari 271 menjadi 197 titik. Penurunan juga terjadi di Kalimantan Selatan, dari 47 menjadi 7 titik.

"Di enam provinsi prioritas, konsentrasi hotspot tertinggi masih berada di Kalimantan Tengah dengan 197 titik, atau menurun dari 271 titik," ucapnya.

Sebaliknya, kenaikan titik panas tercatat di Kalimantan Barat yang melonjak menjadi 91 titik dari sebelumnya 51 titik. Sumatera Selatan juga mengalami lonjakan dari 11 titik menjadi 62 titik.

"Sedangkan Riau dan Jambi tidak terdeteksi hotspot high confidence selama dua hari terakhir," imbuh dia.

Pemantauan tersebut memanfaatkan sistem Sipongi Kemenhut yang terintegrasi dengan data penginderaan jauh dari satelit NASA Terra, Aqua, SNPP, dan NOAA-20.

Ia menjelaskan bahwa hotspot merupakan area dengan indikasi suhu permukaan yang lebih tinggi dibandingkan kawasan sekitarnya berdasarkan hasil pencitraan sensor satelit.

"Hotspot merupakan indikasi awal potensi kebakaran dan tidak selalu berarti telah terjadi kebakaran. Oleh karena itu, data satelit terus dianalisis dan ditindaklanjuti melalui patroli serta verifikasi langsung di lapangan," jelasnya.

Guna menanggulangi situasi ini, Kemenhut melalui Manggala Agni berkolaborasi dengan TNI, Polri, BNPB, BPBD, BMKG, pemerintah daerah, serta masyarakat untuk memperketat upaya pencegahan dan penanganan di lapangan.

Penerapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)

Ristianto menegaskan bahwa pemerintah mengoptimalkan penyiraman dan pembasahan pada lahan rawan karhutla lewat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Catatan Kemenhut menunjukkan pelaksanaan OMC di Kalimantan Barat periode 5–14 September telah merampungkan 9 sortie penerbangan dengan menyemai 7.200 kilogram bahan NaCl. 

Wilayah sasaran mencakup Mempawah, Singkawang, Bengkayang, Landak, Kubu Raya, Sanggau, Sekadau, Sintang, Ketapang, dan Kayong Utara.

Adapun OMC di Kalimantan Tengah pada 6–15 September 2026 mencatatkan 7 sortie penerbangan dengan total penyemaian 5.600 kilogram NaCl. Operasi ini menargetkan kawasan Kapuas, Palangka Raya, Barito Selatan, Barito Utara, Barito Timur, dan Pulang Pisau.

Langkah OMC ini mengacu pada arahan Presiden Prabowo Subianto agar titik panas yang terdeteksi segera ditangani sebelum membesar.

"Presiden meminta tindakan dini dilakukan langsung pada lokasi yang terindikasi rawan, memperkuat edukasi kepada masyarakat, serta menindak tegas apabila ditemukan unsur kesengajaan dalam pembakaran hutan dan lahan.

Himbauan Kualitas Udara dan Pencegahan

Ristianto turut menyoroti penurunan kualitas udara di sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan yang berkisar dari kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Ia mengimbau masyarakat di daerah terdampak paparan asap untuk membatasi kegiatan di luar rumah.

"Gunakan masker terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat dengan penyakit pernapasan, serta segera mencari pelayanan kesehatan apabila mengalami sesak atau gangguan pernapasan," lanjut dia.

Di samping itu, ia mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama mencegah timbulnya karhutla. Apabila menemukan kepulan asap, titik api, atau tanda-tanda kebakaran, masyarakat diminta segera melapor ke pihak berwenang.

"Jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar dan hindari aktivitas apapun di lapangan yang menggunakan api selama musim kemarau," tuturnya.

Tags

Terkini