Investasi Aplikasi Rp54,18 Triliun, Terbesar di Ekonomi Kreatif

Senin, 14 September 2026 | 18:57:32 WIB
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya [FOTO: NET].

JAKARTA - Subsektor aplikasi menempati posisi sebagai kontributor investasi paling dominan di ranah ekonomi kreatif Indonesia sepanjang 2025. Angkanya menembus Rp54,18 triliun, atau setara 30 persen dari keseluruhan nilai investasi ekonomi kreatif yang dipatok sebesar Rp180 triliun.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyampaikan, akumulasi investasi pada ranah ekonomi kreatif menorehkan angka Rp180 triliun sepanjang 2025.

“Kontribusi Subsektor Aplikasi, Merupakan Penyumbang Investasi Terbesar, Yakni Rp54,18 Triliun,” ujar Teuku Riefky dalam acara Indonesian Application Summit (inApps) 2026 di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Di luar capaian penanaman modal, sektor ekonomi kreatif mencatatkan nilai perolehan ekspor menyentuh 31,94 miliar dollar AS pada 2025. 

Teuku Riefky mengutarakan, bidang aplikasi mengantongi peran vital dalam ekosistem ekonomi digital karena mempertemukan aneka aktivitas perekonomian ke dalam satu wadah platform.

“Mengapa aplikasi menjadi penting? Karena di dalam sebuah aplikasi, beragam ekosistem digital bertemu. Ketika aplikasi berkembang, yang tumbuh bukan hanya perusahaan kami, melainkan juga lapangan kerja, investasi, dan daya saing bangsa,” katanya.

Kontribusi Ekonomi Kreatif

Pemerintah menempatkan bidang ekonomi kreatif sebagai salah satu penopang laju pertumbuhan ekonomi baru. Sumbangan sektor ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) saat ini menginjak angka 7,38 persen.

Teuku Riefky memaparkan pemerintah mematok target agar ekonomi kreatif sanggup mendongkrak pertumbuhan hingga 8 persen sebelum 2029, selaras dengan sasaran pertumbuhan ekonomi nasional yang diproyeksikan Presiden Prabowo Subianto.

Subsektor Ekonomi Kreatif Bertambah

Pihak pemerintah turut memperluas jangkauan bidang subsektor ekonomi kreatif melalui kerangka Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026-2045. Kuantitas subsektor ekonomi kreatif dikembangkan dari 17 menjadi 21 subsektor.

Satu di antara kelompok teranyar bernaung di bawah Digital and Technology Creativity, dengan mencakup pemanfaatan teknologi baru seperti artificial intelligence (AI), blockchain, Internet of Things (IoT), Web 3.0, big data, hingga cyber security.

“Kalau dulu ada 17 subsektor, kini menjadi 21 subsektor ekonomi kreatif,” ujar Teuku Riefky.

Formulasi Rindekraf 2026-2045 tersebut melibatkan kolaborasi 24 kementerian demi menyokong pergerakan ekonomi kreatif, termasuk pada tingkatan pemerintah daerah.

Berdasarkan penuturan Teuku Riefky, pesatnya pertumbuhan aplikasi turut berkelindan dengan pergeseran profil para pelaku ekonomi kreatif. Sebanyak 53 persen penggerak ekonomi kreatif didominasi oleh kelompok Gen Z serta milenial, sedangkan 58 persen di antaranya merupakan kaum perempuan.

Pemerintah menaruh harapan agar kian banyak aplikasi buatan dalam negeri yang sanggup melesat serta unjuk gigi di pasar global

Tags

Terkini