NARASIINDONESIA.ID — Sebanyak 80 personel gabungan Manggala Agni dan tim pendukung dikerahkan memadamkan kebakaran hutan yang mengepung Pusat Konservasi Gajah Jalur 21 Padang Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Upaya pendinginan berlangsung hingga Kamis (17/9/2026) untuk mengendalikan api di kawasan konservasi tersebut. Kementerian Kehutanan menambah personel dari sejumlah daerah guna mempercepat penanganan.
Kementerian Kehutanan mengerahkan 24 personel Manggala Agni Daops Sumatera XVII-OKI dan 22 personel Daops Sumatera XIV-Banyuasin. Kedua tim ini menjadi kekuatan utama di lokasi kebakaran.
Tambahan kekuatan datang dari 24 personel BKO asal Jambi dan Riau. Sepuluh personel dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon serta Taman Nasional Bukit Duabelas juga diterjunkan.
Masyarakat Peduli Api (MPA) dan tim BKSDA Sumatera Selatan melengkapi total personel yang dikerahkan. Pendinginan dilakukan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala.
Wilayah Konservasi yang Masih Aktif Dipantau
Pusat Konservasi Gajah Jalur 21 Padang Sugihan berada di kawasan hutan produksi yang dikelola untuk habitat gajah sumatera. Kawasan ini selama ini menjadi lokasi pembinaan dan perlindungan satwa dilindungi tersebut.
Kebakaran yang mendekati area konservasi memunculkan kekhawatiran tersendiri. Sebab, kawasan tersebut menampung gajah yang dirawat maupun yang sedang menjalani proses adaptasi sebelum dilepas ke habitat alami.
Hingga pendinginan berlangsung, belum ada keterangan resmi soal jumlah gajah yang terdampak atau dievakuasi. Petugas masih fokus mengendalikan api agar tidak merembet ke area kandang dan fasilitas konservasi.
Personel dari Empat Daerah Dikerahkan Serentak
Penanganan kebakaran ini melibatkan personel dari beberapa daerah sekaligus. Selain dua Daops Manggala Agni di Sumatera Selatan, bantuan datang dari Jambi dan Riau melalui mekanisme BKO.
Balai Taman Nasional Ujung Kulon yang berbasis di Banten turut mengirim personel. Hal serupa dilakukan Taman Nasional Bukit Duabelas yang berada di Jambi.
Pengiriman personel lintas wilayah menandakan skala kebakaran di Padang Sugihan tidak bisa ditangani hanya dengan kekuatan lokal. Koordinasi antarinstansi menjadi kunci agar api tidak meluas ke zona penyangga.
Pendinginan Jadi Fase Krusial Setelah Api Dikendalikan
Pendinginan adalah tahap lanjutan setelah api utama berhasil dikendalikan. Petugas menyirami area bekas terbakar untuk menurunkan suhu dan mencegah munculnya titik api baru.
Tahap ini kerap menentukan keberhasilan penanganan karhutla. Sisa bara di bawah permukaan gambut bisa memicu kebakaran ulang jika tidak dibasahi secara menyeluruh.
Masyarakat Peduli Api yang terdiri dari warga setempat membantu petugas mengenali titik-titik rawan di sekitar lokasi. Peran mereka penting karena lebih memahami kondisi medan dan akses menuju kawasan.
Faktor Cuaca dan Lahan Gambut Perkuat Risiko Kebakaran
Kabupaten Banyuasin memiliki hamparan lahan gambut yang rentan terbakar pada musim kemarau. Kondisi ini membuat api mudah menjalar meski titik awalnya kecil.
Angin kencang di kawasan pesisir timur Sumatera Selatan mempercepat penyebaran api antar petak. Petugas pun harus membagi fokus antara pemadaman dan penjagaan batas area konservasi.
Belum ada laporan resmi soal penyebab kebakaran maupun luas area yang terbakar. Kementerian Kehutanan melalui tim Manggala Agni masih melakukan pendataan di lapangan.
Langkah Lanjutan Menunggu Kondisi Api Sepenuhnya Padam
Setelah pendinginan tuntas, petugas akan melakukan patroli berkala di area bekas terbakar. Patroli bertujuan memastikan tidak ada sumber panas yang tertinggal.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan akan mengevaluasi kondisi habitat gajah pasca-kebakaran. Evaluasi mencakup ketersediaan pakan dan keamanan area jelajah satwa.
Pusat Konservasi Gajah Padang Sugihan sendiri berperan sebagai lokasi pelatihan dan perawatan gajah sumatera. Kawasan ini menjadi bagian dari upaya konservasi satwa dilindungi di Sumatera Selatan.