The Telegraph Puji Restrukturisasi BUMN Prabowo, Sebut Pemimpin Barat Perlu Belajar

Jumat, 18 September 2026 | 16:35:00 WIB

NARASIINDONESIA.ID — The Telegraph menyoroti langkah Presiden Prabowo Subianto merestrukturisasi badan usaha milik negara melalui Danantara Indonesia. Analisis media Inggris itu menilai keberanian mengambil keputusan sulit soal BUMN bisa jadi pelajaran bagi pemimpin politik di negara-negara Barat. Restrukturisasi mencakup pemetaan 1.074 entitas yang sebelumnya diperkirakan hanya 300 hingga 400.

Profesor Departemen Hubungan Internasional Webster University, Rovshan Ibrahimov, menilai kebijakan ekonomi Prabowo yang disebutnya "Prabowonomics" menunjukkan keberanian yang jarang ditemui di negara-negara Barat. Penilaian itu dimuat dalam analisis The Telegraph yang membahas pembentukan Danantara Indonesia.

Menurut Ibrahimov, membongkar struktur BUMN yang sudah mengakar selama puluhan tahun menuntut ketegasan menghadapi berbagai kepentingan di dalamnya. Ia membandingkan langkah tersebut dengan kesulitan yang dihadapi pemerintah Inggris dan Amerika Serikat ketika hendak memangkas struktur negara.

Skala Restrukturisasi yang Membengkak dari Perkiraan Awal

Prabowo semula memperkirakan jumlah entitas di bawah Danantara berkisar 300 hingga 400. Setelah pemetaan dilakukan, jumlahnya mencapai 1.074 entitas.

Struktur itu berkembang melalui pembentukan anak perusahaan hingga entitas turunan yang membuat lapisan organisasi semakin kompleks. Ibrahimov menilai kondisi tersebut berpotensi memperlemah akuntabilitas, menciptakan fungsi yang tumpang tindih, serta membuka ruang pemborosan.

"Untuk mencabut struktur yang telah berakar kuat, diperlukan tangan yang cukup tegas," kata Ibrahimov, dikutip dari The Telegraph, Jumat (18/9/2026).

290 Entitas Sudah Dihapus, Target 300 hingga Akhir Tahun

Hingga Agustus 2026, Danantara tercatat telah menghapus 290 entitas melalui merger, likuidasi, dan divestasi. Angka itu mendekati target yang ditetapkan Prabowo, yakni restrukturisasi 300 entitas hingga akhir tahun.

Pemangkasan tersebut menyasar entitas turunan yang selama ini jarang tersentuh audit publik. Setiap penghapusan lewat merger atau likuidasi berarti ada fungsi organisasi yang digabung atau dihentikan.

Mengapa Langkah Ini Disebut Pelajaran bagi Barat

Ibrahimov menyoroti bagaimana pemerintah di Inggris dan Amerika Serikat selama bertahun-tahun kesulitan memangkas struktur negara. Keputusan yang berpotensi menimbulkan resistensi politik cenderung ditunda.

Dalam kerangka itu, ia menempatkan restrukturisasi BUMN Indonesia sebagai contoh pengambilan keputusan yang tidak populer tetapi dianggap perlu. Perbandingan ini muncul di tengah perdebatan ekonomi politik di negara-negara Barat soal efisiensi anggaran dan peran negara di sektor usaha.

Bagi Indonesia, hasil akhir restrukturisasi belum sepenuhnya terlihat. Yang bisa diukur baru jumlah entitas yang dihapus dan target yang tersisa hingga akhir tahun.

Terkini