Energi

Industri Hulu Migas: Peran Kunci dalam Ketahanan Energi dan Kesejahteraan

Industri Hulu Migas: Peran Kunci dalam Ketahanan Energi dan Kesejahteraan
Industri Hulu Migas: Peran Kunci dalam Ketahanan Energi dan Kesejahteraan

JAKARTA - Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia memegang peranan penting dalam mendukung ketahanan energi nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Menurut para pelaku industri, sektor ini tidak hanya berfokus pada produksi migas dan penerimaan negara, tetapi juga berkontribusi melalui berbagai instrumen ekonomi dan sosial yang berdampak luas bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Kontribusi Ekonomi dan Sosial Industri Hulu Migas

Kepala Divisi Formalitas SKK Migas, George N.M. Simanjuntak, menekankan bahwa peran sektor hulu migas jauh lebih besar dari sekadar penerimaan negara dan produksi minyak dan gas. 

Program Dana Bagi Hasil (DBH) serta Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) menjadi dua instrumen yang sangat strategis dalam mendukung kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi migas. 

DBH dan PPM, meskipun sering kali terabaikan dalam perhitungan kontribusi industri migas, memiliki dampak besar terhadap ekonomi lokal.

"Selama ini kontribusi industri hulu migas hanya dari sisi penerimaan negara dan produksi saja. Padahal, jika dilihat secara utuh, terdapat berbagai efek berganda, mulai dari DBH hingga PPM yang berperan strategis dalam menjaga keberlanjutan operasi proyek hulu migas," ungkap George.

Melalui pendekatan yang lebih holistik, kontribusi sektor hulu migas dapat lebih dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Bagi SKK Migas, PPM bukan sekadar bantuan sosial jangka pendek, melainkan bagian integral dari investasi sosial jangka panjang. 

Oleh karena itu, SKK Migas tengah mendorong transformasi dalam pendekatan PPM, dari program yang hanya bersifat sesaat menjadi inisiatif yang lebih terencana dan berdampak jangka panjang.

Transformasi Pendekatan PPM untuk Kemandirian Masyarakat

SKK Migas kini tengah melakukan transformasi besar-besaran dalam pengelolaan program PPM. Sebelumnya, banyak program PPM yang lebih berorientasi pada bantuan sementara tanpa memperhatikan kebutuhan jangka panjang masyarakat. 

Dengan melakukan kajian bersama akademisi, ditemukan bahwa sebagian besar program PPM tidak dapat menciptakan kemandirian secara berkelanjutan.

“PPM kami dorong menjadi bagian dari siklus operasi hulu migas yang sejajar dengan aspek teknis dan bisnis dalam rangka memperkuat social license to operate dan mendukung keberlanjutan pasokan energi,” jelas George.

Transformasi ini mencakup perencanaan yang lebih matang, implementasi yang terukur, serta pelaporan yang lebih sistematis menggunakan pendekatan Logical Framework Approach (LFA). 

Selain itu, SKK Migas juga melakukan social and business mapping untuk memastikan bahwa setiap program tepat sasaran, sesuai dengan prioritas pembangunan daerah, dan berorientasi pada kemandirian masyarakat. Program-program ini terutama difokuskan pada wilayah ring-1 yang paling terdampak oleh aktivitas hulu migas.

Penguatan Kapasitas Nasional melalui Rantai Pasok dalam Negeri

Industri hulu migas Indonesia juga memiliki peran penting dalam penguatan kapasitas nasional, salah satunya dengan mengoptimalkan rantai pasok dalam negeri. 

Kenneth Gunawan, Chairperson of IPA Supply Chain Committee, mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan domestik kini semakin berperan penting dalam mendukung sektor hulu migas. 

Peran perusahaan-perusahaan lokal dalam rantai pasok ini semakin vital, sementara perusahaan asing lebih difokuskan pada komoditas yang membutuhkan teknologi dan keahlian tinggi.

“KKKS secara aktif melakukan asesmen, pengujian produk dalam negeri, serta pelaksanaan pilot project bersama SKK Migas untuk meningkatkan kapabilitas penyedia barang dan jasa nasional,” ujar Kenneth. 

Upaya ini bertujuan untuk memperkuat daya saing sektor migas Indonesia di kancah internasional.

Namun, Kenneth juga mengingatkan bahwa meskipun ada kemajuan, masih ada kendala operasional dan keterbatasan pembiayaan untuk proyek-proyek besar yang berjalan simultan.

 Kendala ini menjadi tantangan yang harus dihadapi sektor hulu migas untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan ketahanan energi nasional.

Industri Hulu Migas dan Peranannya dalam Transisi Energi

Marjolijn Wajong, Direktur Eksekutif IPA, menyampaikan bahwa sektor hulu migas kini berada dalam fase yang sangat penting, yakni memastikan pasokan energi yang andal dan terjangkau sembari mendukung agenda transisi energi. 

Kolaborasi erat antara pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan sektor ini.

“Industri hulu migas berada pada fase penting untuk memastikan pasokan energi yang andal dan terjangkau, sembari mendukung agenda transisi energi,” ungkap Marjolijn. 

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sektor migas akan terus menjadi penopang utama bagi perekonomian Indonesia, sektor ini juga harus beradaptasi dengan perubahan global menuju energi yang lebih ramah lingkungan.

IPA Convex 2026, yang akan digelar pada Mei 2026, merupakan momentum penting untuk mempertemukan pemerintah, pelaku industri, serta akademisi dalam dialog mengenai kontribusi sektor hulu migas terhadap perekonomian Indonesia. 

Dengan tema "50 Years of Energy Partnership: Shaping the Next Era for Advancing Growth", acara ini akan menjadi platform untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi oleh industri migas, termasuk transisi energi.

Marjolijn menambahkan bahwa keberhasilan transisi energi tidak hanya bergantung pada pengembangan sumber energi terbarukan, tetapi juga pada keberlanjutan sektor hulu migas yang tetap dapat menyuplai kebutuhan energi Indonesia dengan stabil dan terjangkau. 

“Menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan energi dan agenda transisi energi akan menentukan keberlanjutan sektor hulu migas dan pencapaian swasembada energi Indonesia ke depan,” tutupnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index