Bank Nagari

Bank Nagari Raih Laba Rp493,74 Miliar di Tahun 2025

Bank Nagari Raih Laba Rp493,74 Miliar di Tahun 2025
Bank Nagari Raih Laba Rp493,74 Miliar di Tahun 2025

JAKARTA - Tekanan ekonomi sepanjang 2025 menjadi ujian tersendiri bagi industri perbankan, termasuk bank pembangunan daerah. 

Di tengah perlambatan pertumbuhan kredit, melemahnya daya beli, serta dampak bencana alam di sejumlah wilayah, kinerja perbankan dituntut tetap adaptif tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian. Kondisi tersebut turut memengaruhi capaian PT Bank Nagari sepanjang tahun lalu.

Bank Nagari mencatatkan laba sebesar Rp493,74 miliar (unaudited) sepanjang 2025. Capaian tersebut terkontraksi 8,24% secara year on year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Meski demikian, manajemen menilai kinerja tersebut masih mencerminkan peran bank dalam mendukung perekonomian daerah, khususnya melalui pembiayaan sektor produktif.

Kinerja Laba Di Tengah Tekanan Ekonomi

Direktur Utama Bank Nagari Gusti Candra menyampaikan bahwa penurunan laba tidak serta-merta mencerminkan melemahnya peran perseroan bagi daerah dan masyarakat. 

Menurutnya, Bank Nagari tetap mampu menjalankan fungsi intermediasi secara terukur, terutama melalui penyaluran kredit usaha rakyat dan pembiayaan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah.

“Dari kondisi itu, Bank Nagari masih mampu memberikan kontribusi bagi daerah dan masyarakat. Buktinya, penyaluran KUR serta pembiayaan kepada UMKM menunjukkan kinerja tidak terlalu buruk,” ujar Gusti.

Ia menjelaskan, tekanan terhadap laba juga dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan kredit dan pembiayaan. Sepanjang 2025, kredit yang disalurkan Bank Nagari tercatat sebesar Rp25,27 triliun, turun 1,10% dibandingkan posisi Desember 2024. Perlambatan ini sejalan dengan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Strategi Penyaluran Kredit Yang Lebih Rasional

Gusti menuturkan bahwa koreksi penyaluran kredit terjadi karena belum optimalnya permintaan dari masyarakat dan pelaku usaha. Melemahnya daya beli serta rendahnya pertumbuhan ekonomi membuat perbankan perlu lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan.

Ia menegaskan, Bank Nagari memilih untuk bersikap rasional dan tidak memaksakan pertumbuhan kredit di tengah kondisi ekonomi yang belum kondusif, terutama bagi pelaku UMKM yang terdampak bencana alam pada penghujung 2025.

“Kami dari perbankan bekerja saja rasional, dan tidak ingin memaksakan diri agar penyaluran kredit tetap berjalan, sementara kondisi ekonomi pelaku UMKM dan pelaku usaha secara umum lagi tidak baik-baik saja,” ujarnya.

Pendekatan ini diambil untuk menjaga kualitas aset dan memastikan keberlanjutan kinerja bank dalam jangka panjang. Menurut Gusti, kehati-hatian menjadi kunci agar perbankan tidak menanggung risiko yang lebih besar di kemudian hari.

Perkembangan Dana Pihak Ketiga Dan Tantangan Perbankan

Di sisi penghimpunan dana, Bank Nagari mencatatkan dana pihak ketiga sebesar Rp26,84 triliun pada 2025. Angka tersebut tumbuh 0,58% dibandingkan Desember 2024. Gusti menjelaskan, pertumbuhan ini dipengaruhi kondisi ekonomi yang mendorong masyarakat lebih mengandalkan tabungan.

“Kondisi ini pun kami tidak mau memaksakan diri untuk menghimpun deposito yang banyak. Tapi kalau untuk tabungan dan giro, maka kami ambil semua,” katanya.

Ia menambahkan, capaian laba Bank Nagari mencerminkan tantangan perbankan yang cukup berat sepanjang 2025. Dalam rapat bersama Otoritas Jasa Keuangan pada pekan sebelumnya, disampaikan bahwa sebagian besar perbankan, termasuk bank pembangunan daerah, menghadapi tekanan serupa.

“Bank Nagari tidak terlalu buruk, tapi yang penting Bank Nagari masih memberikan kontribusi,” ujar Gusti.

Kontribusi Unit Usaha Syariah Terus Menguat

Kontribusi laba Bank Nagari juga ditopang oleh kinerja unit usaha syariah. Sepanjang 2025, share asset unit usaha syariah terhadap induk mencapai 19,31%, meningkat dibandingkan 18,52% pada 2024.

Gusti menyebutkan, total aset syariah Bank Nagari mencapai Rp6,49 triliun atau tumbuh 6,28% dibandingkan Desember 2024. Pembiayaan syariah tercatat sebesar Rp4,63 triliun, tumbuh 14,66%, sedangkan dana pihak ketiga syariah mencapai Rp4,91 triliun atau naik 3,62%.

Dari capaian tersebut, laba unit usaha syariah mencapai Rp224,62 miliar atau tumbuh 15,43%. Menurut Gusti, pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya edukasi dan pemahaman masyarakat terhadap layanan transaksi berbasis syariah.

“Kinerja syariah memang bertumbuh sangat baik, didorong oleh edukasi pemahaman masyarakat dalam mendapatkan layanan transaksi syariah,” kata Gusti.

Dengan kinerja tersebut, total aset Bank Nagari pada 2025 sebelum audit tercatat mencapai Rp33,61 triliun atau tumbuh tipis 1,97%. Manajemen menilai capaian ini menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas dan kontribusi bank terhadap perekonomian daerah ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index