Berbuka dengan yang Manis

Berbuka dengan yang Manis Dianjurkan Saat Berpuasa, Ini Penjelasannya!

Berbuka dengan yang Manis Dianjurkan Saat Berpuasa, Ini Penjelasannya!
Berbuka dengan yang Manis Dianjurkan Saat Berpuasa, Ini Penjelasannya!

JAKARTA - Selama bulan Ramadan, umat Islam biasanya dianjurkan untuk berbuka dengan sesuatu yang manis. Frasa ini sudah begitu akrab terdengar dan sering dihubungkan dengan sunnah Rasulullah SAW. 

Namun, apakah benar berbuka dengan makanan manis merupakan anjuran yang dapat dipertanggungjawabkan secara agama, ataukah hanya kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat? Selain dari perspektif syariat, ada juga alasan kesehatan yang mendasari kebiasaan ini. 

Berbuka dengan makanan manis tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan sunnah, tetapi juga memiliki manfaat bagi tubuh, khususnya dalam mengembalikan energi yang hilang selama berpuasa.

Makanan Manis sebagai Pengganti Energi yang Hilang

Bulan Ramadan adalah momen yang penuh berkah, tetapi juga bisa menjadi tantangan bagi tubuh. Seharian tubuh tidak menerima asupan makanan atau cairan, sehingga simpanan gula dalam darah secara perlahan akan berkurang. 

Gula darah berfungsi sebagai sumber energi utama bagi tubuh, terutama untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Ketika kadar gula dalam tubuh menurun akibat berpuasa, kita sering kali merasa lemas, pusing, atau bahkan mengantuk.

Maka dari itu, berbuka dengan makanan yang manis sangat dianjurkan karena dapat segera mengembalikan gula darah ke level normal. Ketika berbuka puasa, tubuh membutuhkan energi yang cepat diserap agar bisa digunakan kembali untuk menjalani aktivitas setelahnya. 

Makanan manis seperti kurma, misalnya, memiliki kandungan gula alami yang cepat dicerna tubuh dan memberikan dorongan energi yang langsung terasa.

Apa yang Diajarkan Rasulullah SAW tentang Berbuka Puasa?

Meskipun banyak yang mengaitkan berbuka dengan makanan manis dengan sunnah Rasulullah, kenyataannya tidak ada hadits yang secara eksplisit menyebutkan bahwa kita harus berbuka dengan yang manis. Yang ada adalah kebiasaan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh HR. Ahmad dan Abu Dawud:

“…‏ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ ..‏.‏

Artinya: “Rasulullah SAW berbuka dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada ruthab maka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr maka dengan beberapa teguk air.” (HR. Ahmad, Abu Dawud).

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi SAW memilih kurma (baik yang basah atau kering) sebagai makanan pertama yang dikonsumsi saat berbuka. 

Namun, tidak disebutkan secara spesifik bahwa makanan manis selain kurma harus dikonsumsi, yang mana menandakan bahwa konsumsi kurma itu merupakan kebiasaan yang diperintahkan dan dicontohkan oleh Nabi. Jika kurma tidak tersedia, air mineral menjadi pilihan yang baik.

Pandangan Ulama Mengenai Berbuka dengan Makanan Manis

Di kalangan ulama, terdapat berbagai pendapat mengenai berbuka puasa dengan makanan manis. Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak ada larangan untuk mengganti kurma dengan makanan manis lainnya, asalkan dalam batas yang wajar. 

Misalnya, jika kurma tidak tersedia, maka bisa menggantikannya dengan makanan manis seperti buah-buahan atau makanan yang mengandung gula alami.

Namun, ada pula ulama yang lebih tegas menganjurkan untuk tetap mengikuti sunah Nabi SAW dengan berbuka menggunakan kurma dan air putih. Ulama ini berpendapat bahwa meskipun kurma bisa digantikan oleh makanan manis lain, tetap lebih baik untuk berpegang pada kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, yakni mengonsumsi kurma sebagai bagian dari sunnah yang lebih utama.

Salah satu pendapat yang menarik datang dari Al-Hattab Ar-Ru'aini dalam kitab Mawahibul Jalil yang menyebutkan bahwa mengonsumsi makanan manis lainnya dapat menggantikan kurma, asalkan tujuannya adalah untuk mengganti energi yang hilang. Namun, ini tetap tidak mengubah kenyataan bahwa berbuka dengan kurma adalah sunah yang lebih baik diikuti.

Manfaat Kesehatan Berbuka dengan Kurma dan Makanan Manis

Selain dari sudut pandang agama, ada pula alasan kesehatan yang mendukung kebiasaan berbuka dengan makanan manis. Seperti yang sudah disebutkan, berpuasa menyebabkan penurunan kadar gula darah, yang bisa berujung pada rasa lemas, pusing, dan kurang energi. Kurma, yang mengandung gula alami dalam bentuk fruktosa, sangat ideal untuk mengembalikan kadar gula darah ke level normal.

Selain itu, kurma juga mengandung berbagai vitamin dan mineral seperti vitamin B6, potasium, magnesium, dan serat yang baik untuk pencernaan. Mengonsumsi kurma dapat membantu tubuh memulihkan energi dengan cepat tanpa memberikan lonjakan gula yang drastis seperti halnya makanan manis yang mengandung pemanis buatan.

Tak hanya itu, kurma juga memiliki kandungan antioksidan yang baik bagi tubuh, membantu melawan radikal bebas, serta meningkatkan fungsi otak. Jadi, meskipun dalam beberapa situasi kurma bisa digantikan dengan makanan manis lainnya, tetap saja kurma menjadi pilihan terbaik karena kandungannya yang kaya akan manfaat.

Mengikuti Sunah dengan Bijak dalam Berbuka Puasa

Penting untuk diingat bahwa sunah berbuka puasa dengan kurma atau makanan manis lainnya bukanlah kewajiban yang harus dipaksakan. Sunah ini dilakukan karena Rasulullah SAW memberikan contoh yang baik dan sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia yang berpuasa. 

Namun, kita juga harus bijak dalam mengikuti sunah ini. Meskipun diperbolehkan mengganti kurma dengan makanan manis lainnya, kita dianjurkan untuk tetap memilih makanan yang sehat dan bergizi.

Meskipun tidak ada larangan untuk mengonsumsi makanan manis selain kurma, sebaiknya tetap perhatikan keseimbangan gizi dalam setiap sajian berbuka. Berbuka dengan sesuatu yang manis hanya untuk mengembalikan kadar gula darah yang menurun, sementara makanan bergizi lainnya tetap perlu disertakan dalam menu berbuka agar kebutuhan nutrisi tubuh dapat terpenuhi dengan baik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index