Rehabilitasi Mangrove Tambah Kapasitas Nelayan Ekowisata Bali

Rehabilitasi Mangrove Tambah Kapasitas Nelayan Ekowisata Bali
Upaya rehabilitasi mangrove [FOTO: NET].

JAKARTA - Langkah rehabilitasi hutan bakau beserta pelepasliaran kepiting yang diprakarsai BUMN Bank Tabungan Negara (BTN) turut memperbesar peluang ekonomi desa sekaligus menguatkan daya kelola para nelayan di Ekowisata Mangrove Simbar Segara, Desa Pemogan, Denpasar, Bali.

“Kami bisa lebih maju lagi, lebih detail dan lebih banyak untuk kegiatan sosial dan penanaman mangrove,” kata Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Simbar Segara Ketut Darsana di Denpasar, Bali, Jumat (7/8/2026).

Darsana memaparkan bahwasanya KUB tempatnya bernaung menghimpun 50 nelayan lokal yang sehari-hari turut mengoperasikan objek wisata jelajah hutan bakau dengan menyediakan persewaan kano serta perahu sekoci.

Maka dari itu, penanaman 10 ribu bibit mangrove ini dinilainya bakal mempercantik dan meningkatkan kerapatan kawasan bakau, yang disertai dengan tindakan pemeliharaan secara rutin.

Di samping hal tersebut, pelepasan puluhan ekor kepiting untuk berkembang biak turut membuka peluang penambahan penghasilan bagi nelayan.

Pertimbangannya, area tersebut merupakan habitat alami bagi tiga jenis kepiting, yakni kepiting hijau, ungu, serta merah yang kerap ditangkap nelayan setempat.

Ia menyebutkan bahwasanya nelayan rata-rata sanggup memperoleh sekitar tiga kilogram kepiting per hari, bergantung pada musim tangkap yang berlangsung dari September sampai Maret.

KUB Simbar Segara sendiri terhitung sebagai satu dari 12 kelompok nelayan yang beroperasi di dalam area Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai seluas 1.373,5 hektare.

Perwakilan UPTD Tahura Ngurah Rai Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali Made Yuda Wibawa menerangkan, dari keseluruhan luas wilayah tersebut, sekitar 1.158,44 hektare di antaranya berstatus kawasan konservasi yang diprioritaskan untuk pemulihan.

Penyemaian 10 ribu bibit mangrove ini ditaksir mencakup area seluas satu hektare lahan bakau.

Pola penanaman menerapkan teknik khusus menggunakan wadah kantong tanam berpelindung bambu supaya lebih tahan menghadapi hempasan pasang surut air laut dan mempercepat adaptasi.

Selain menyuguhkan ekowisata, ia mengimbuhkan bahwa lokasi tersebut populer sebagai penghasil kepiting dengan nilai jual berkisar Rp300 ribu per kilogram, bahkan nilainya bisa melonjak dua kali lipat apabila dipesan di rumah makan.

Sementara itu, Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo memaparkan bahwa konsep ekonomi hijau kini menjadi pilar utama industri perbankan untuk mendukung isu kelestarian lingkungan dan pemberdayaan warga pesisir.

Ia memandang ekosistem bakau memegang peranan krusial, tak sekadar benteng pesisir dan penghasil oksigen terbesar, tetapi juga motor penggerak ekonomi.

Terlebih lagi, Indonesia menguasai 23 persen dari total luasan mangrove dunia merujuk data Kementerian Kehutanan RI, yaitu berkisar 3,45 juta hektare, menjadikan Indonesia pemilik ekosistem bakau terluas di dunia.

“Hutan mangrove selain sebagai ekosistem perikanan tapi juga untuk ekowisata. Potensi ini bisa dikembangkan untuk ekosistem lain,” ujarnya.

Pada agenda tersebut, selain pengerjaan penanaman bibit dan pelepasan kepiting, digelar pula pembersihan limbah plastik di mana KUB setempat mencatat pengumpulan sampah plastik dapat mencapai 10 kilogram per hari.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index