TBS Foundation Cetak Talenta Hijau Lewat Greenovate 2026

TBS Foundation Cetak Talenta Hijau Lewat Greenovate 2026
Pemanfaatan kembali baterai bekas EV [FOTO: NET].

JAKARTA – Pemanfaatan ulang baterai bekas kendaraan listrik (electric vehicle/EV) menjadi salah satu terobosan yang dianggap berpotensi besar dalam menyokong transisi menuju ekonomi hijau di Indonesia.

 Gagasan tersebut berhasil menyabet gelar juara pertama pada ajang Greenovate 2026 yang diselenggarakan oleh TBS Foundation. 

Tim The Triple A yang berasal dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dinobatkan sebagai Juara 1 berkat inovasi Spark Go!, sebuah solusi pemanfaatan baterai kendaraan listrik yang telah memasuki masa pakai tahap pertama (second-life battery).

Chairwoman TBS Foundation Juli Oktarina menyampaikan bahwasanya ajang Greenovate merupakan bagian dari komitmen pihaknya dalam mencetak generasi muda yang sanggup berkontribusi pada transisi ekonomi hijau melalui inovasi dan kolaborasi.

"Kami melihat semakin banyak anak muda yang memiliki kepedulian terhadap isu keberlanjutan sekaligus kemampuan menghadirkan solusi yang inovatif. Greenovate memberikan ruang bagi mereka untuk mengembangkan gagasan, memperoleh masukan dari para praktisi, serta membangun jejaring yang dapat mendukung pengembangan inovasi di tahap berikutnya," ujar Juli dalam siaran pers, Jumat (7/8/2026).

Merujuk pada keterangan TBS Foundation, kompetisi Greenovate 2026 diikuti oleh lebih dari 400 mahasiswa dari pelbagai perguruan tinggi di Indonesia dengan menyodorkan lebih dari 150 ide bisnis berkelanjutan. Sebanyak delapan tim berhasil menembus babak final.

Tercatat sebanyak 66,2 persen tim peserta berasal dari kawasan luar Pulau Jawa. Besarnya angka partisipasi tersebut, menurut pihak penyelenggara, mencerminkan antusiasme generasi muda dalam merancang solusi atas pelbagai tantangan keberlanjutan, mulai dari energi bersih, ekonomi sirkular, tata kelola limbah, hingga ketahanan air.

Sebelum memasuki babak grand final, seluruh finalis menjalani program pembinaan dan mentoring intensif bersama delapan mentor yang berasal dari beragam sektor, meliputi energi, keberlanjutan, bisnis, teknologi, serta investasi. 

Para peserta mendapatkan pendampingan guna mematangkan model bisnis, rancangan strategi eksekusi, sampai pengukuran dampak sosial dan lingkungan dari inovasi yang mereka usung. 

Di samping itu, para finalis turut berkesempatan menyambangi kantor TBS dan Electrum untuk mempelajari penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG) dalam operasional bisnis.

Solusi perpanjang umur baterai kendaraan listrik

 Inovasi Spark Go! yang dirancang oleh tim The Triple A menawarkan skema pemanfaatan baterai kendaraan listrik yang masih menyimpan tingkat kesehatan (state of health) berkisar 70–80 persen. 

Baterai tersebut dialihfungsikan menjadi portable power station berlandaskan konsep Energy as a Service (EaaS). 

Produk ini hadir dalam tiga varian kapasitas, yaitu 1.500 watt, 3.500 watt, dan 5.500 watt, serta ditunjang oleh sistem Internet of Things (IoT) guna memantau kondisi baterai beserta penggunaan daya secara real time.

Menurut penjelasan TBS Foundation, pendekatan ini sanggup menjawab tantangan pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik di Indonesia yang diproyeksikan bakal menyentuh 35.000 ton pada 2030.

 Tambahan lagi, terobosan ini mampu memperpanjang usia pakai baterai sebelum akhirnya menginjak proses daur ulang. 

Atas inovasi tersebut, jajaran dewan juri menilai Spark Go! mengantongi potensi eksekusi dan dampak yang kuat dalam memperkokoh ekonomi sirkular dan energi berkelanjutan.

Inovasi dinilai mulai siap dikembangkan 

Tahap penilaian Greenovate 2026 dieksekusi oleh dewan juri yang beranggotakan Managing Director for Investor Relations TBS Gita Sjahrir, Member of the Board of Supervisors TBS Foundation Iwan Syahril, serta Managing Partner East Ventures Roderick Purwana. 

Jajaran juri meninjau inovasi peserta berpatokan pada kriteria kebaruan, kelayakan model bisnis, potensi implementasi, hingga dampak sosial serta lingkungan.

Roderick menguraikan bahwasanya mutu inovasi dari para finalis memperlihatkan kian menguatnya kapasitas generasi muda Indonesia dalam menjawab tantangan lingkungan lewat pendekatan sains dan teknologi.

"Greenovate Competition 2026 menunjukkan antusiasme dan ketajaman berpikir generasi muda dalam menjawab tantangan lingkungan melalui pendekatan berbasis sains dan teknologi. Para finalis tidak hanya menghadirkan gagasan yang inovatif, tetapi juga mulai memikirkan bagaimana solusi tersebut dapat dikembangkan dan memiliki nilai komersial," kata dia.

Ia mengimbuhkan bahwa sokongan ekosistem—mulai dari ketersediaan sarana prasarana, pembimbingan, hingga kucuran investasi—bakal menjadi faktor penentu agar beragam inovasi tersebut bisa diuji, disempurnakan, serta dilempar ke pasar.

"Ke depan, dukungan ekosistem, mulai dari infrastruktur, pendampingan, hingga investasi yang tepat, akan menjadi kunci agar inovasi-inovasi ini dapat diuji, disempurnakan, dan dibawa ke pasar. Kami percaya talenta muda Indonesia memiliki peran penting dalam mendorong transisi menuju ekonomi hijau yang kompetitif dan berkelanjutan," ujar Roderick.

Di luar keberhasilan mencetuskan pelbagai terobosan, Greenovate 2026 turut mencatatkan tingginya keterlibatan perempuan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). 

Setiap tim finalis memiliki perwakilan perempuan dengan total 15 finalis perempuan dari 24 finalis secara keseluruhan, sementara enam dari delapan mentor yang terlibat juga merupakan perempuan yang berpengalaman di bidang energi, keberlanjutan, bisnis, dan teknologi.

Juli menaruh harapan agar ajang Greenovate bisa menjadi pijakan awal bagi lahirnya lebih banyak inovator muda di Tanah Air.

"Kami berharap Greenovate menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang bagi para inovator muda Indonesia. Ketika talenta, dunia akademik, industri, dan berbagai mitra dapat saling terhubung, peluang lahirnya solusi yang mampu menjawab tantangan keberlanjutan akan semakin besar," tutupnya.

Dalam gelaran Greenovate 2026, Juara 2 diraih oleh tim Beanefit dari Universitas Tanjungpura lewat inovasi cookies berbahan ampas kopi yang diolah menjadi tepung bernilai tambah. 

Sementara Juara 3 disabet oleh tim Powerhart dari Universitas Gadjah Mada melalui terobosan material elektroda superkapasitor memanfaatkan tandan kosong kelapa sawit. 

Adapun predikat Best Innovative Idea dianugerahkan kepada Helio East dari Universitas Cenderawasih, sedangkan Best Teamwork diraih oleh Puruno dari Universitas Tanjungpura.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index