JAKARTA — Pemerintah bakal menyiapkan perluasan program hilirisasi untuk komoditas mineral lewat skema mempertahankan larangan ekspor pada beberapa komoditas sekaligus mendorong pemrosesan di dalam negeri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengemukakan bahwa pemerintah perlu konsisten menjaga kebijakan larangan ekspor pada deretan komoditas mineral guna memacu transformasi ekonomi nasional.
Menurut pandangannya, pemrosesan komoditas di dalam negeri krusial dilakukan untuk menghadirkan nilai tambah, memperluas penyerapan tenaga kerja, serta menopang laju pertumbuhan ekonomi.
Ia memaparkan, selain komoditas nikel, bauksit dan tembaga menjadi bagian dari komoditas yang ke depannya bakal terus diarahkan menuju skema hilirisasi secara maksimal.
"Untuk ke depan, saya pikir kan sudah ada beberapa komoditas yang harus kami tetap pertahankan pelarangannya, di antaranya bauksit dan tembaga, dalam rangka untuk transformasi ekonomi," kata Bahlil seusai acara Peluncuran dan Bedah Buku Bahlil Lahadalia di Jakarta pada Jumat (7/8/2026).
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki banyak alternatif guna memicu transformasi ekonomi selain membangun industri pengolahan di dalam negeri.
Menurut penilaiannya, hilirisasi merupakan instrumen pemerintah untuk mendongkrak nilai ekonomi dari komoditas yang selama ini dikirim keluar dalam bentuk mentah.
Bahlil membeberkan, pengolahan industri dalam negeri yang optimal bakal menghadirkan nilai tambah, membuka peluang kerja, dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
Di samping bauksit dan tembaga, Bahlil menyampaikan bahwa pemerintah juga mulai menyusun perancangan hilirisasi logam tanah jarang (LTJ).
"Logam tanah jarang lagi didesain, bahkan sebagian sudah dilakukan oleh Perminas (PT Perusahaan Mineral Nasional)," kata Bahlil.
Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani membeberkan realisasi investasi di sektor hilirisasi pada kuartal II/2026 menyentuh angka Rp152,7 triliun atau naik 5,7% jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Angka tersebut menyumbang sekitar 29,8% dari keseluruhan realisasi investasi nasional sepanjang April—Juni 2026.
Rosan menyatakan porsi investasi hilirisasi kian mendekati sepertiga dari total realisasi investasi nasional, menandakan kian melesatnya daya tarik investor terhadap industri pengolahan berbasis sumber daya alam.
"Investasi di bidang hilirisasi pada triwulan kedua mencapai Rp152,7 triliun atau meningkat 5,7%. Total kontribusinya hampir mencapai 30%, tepatnya 29,8% dari total realisasi investasi triwulan kedua tahun 2026," kata Rosan.