JAKARTA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meresmikan mulainya susunan agenda Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah bagi peserta didik Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) yang tersebar di 17 wilayah terhitung sejak hari ini.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PAUD Dikdas dan PNFI) Kemendikdasmen Gogot Suharwoto menguraikan bahwa pokok materi MPLS berpusat pada tiga aspek utama, yakni pemahaman lingkungan sekolah, pengenalan ragam ekstrakurikuler, serta pemantapan karakter dan budaya sekolah.
“Yang pertama adalah pengenalan lingkungan sekolah. Jadi mata pelajaran apa yang akan dipelajari di setiap jenjang, termasuk pengenalan dan program-program,” kata Gogot dalam kegiatan Pembukaan MPLS Sekolah Nasional Terintegrasi Angkatan Pertama di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat pada Senin yang disiarkan melalui YouTube Kemendikdasmen.
Ia mengutarakan para siswa pun bakal diperkenalkan pada modul bahan ajar serta platform Learning Management System (LMS) yang bakal dipergunakan sepanjang alur proses pembelajaran.
Di samping pemahaman bidang akademik, ia menyebutkan rangkaian agenda MPLS Ramah turut difungsikan sebagai sarana mendampingi para murid dalam menggali serta mengasah potensi bakat melalui wadah ekstrakurikuler yang disediakan Sekolah Nasional Terintegrasi.
Gogot membeberkan bahwa Kemendikdasmen menargetkan sedikitnya 15 cabang ekstrakurikuler sanggup difasilitasi di SNT, di mana enam kegiatan di antaranya bakal langsung dibuka pada tahapan awal.
Dua cabang kegiatan berstatus wajib, yaitu Pramuka dan pencak silat, sedangkan empat cabang ekstrakurikuler pendamping mencakup koding, kecerdasan artifisial (AI) dan robotika, paduan suara, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), hingga bahasa Inggris.
“Minimal ada 15 ekskul, tapi untuk yang pertama kami akan buka enam. Dua yang wajib, yaitu Pramuka dan pencak silat karena sudah diakui UNESCO,” ujarnya.
Gogot mengimbuhkan bahwa pengenalan ranah teknologi turut dimasukkan ke dalam porsi ekstrakurikuler melalui pelatihan koding, AI, serta bidang robotika.
Berdasarkan penuturan Gogot, muatan MPLS juga bakal diarahkan guna memperkokoh kepribadian peserta didik sekaligus mengenalkan budaya positif yang hendak dibangun di lingkungan sekolah.
"MPLS juga kami isi dengan pendidikan penguatan karakter, dan pengenalan budaya di lingkungan sekolah," katanya.
Dalam bagian materi tersebut, ia menjelaskan para siswa bakal diperkenalkan dengan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gerakan RANA) sebagai wujud komitmen Pemerintah dalam menciptakan iklim belajar yang aman serta kondusif bagi seluruh anak didik.
Pihaknya menaruh harapan rangkaian kegiatan MPLS Ramah Sekolah Nasional Terintegrasi mampu membantu para murid beradaptasi di lingkungan belajar baru sekaligus menjadi pijakan awal dalam memupuk keahlian akademik, minat, bakat, serta kepribadian mereka.
Sekadar informasi, Kemendikdasmen siap mengoperasikan Sekolah Nasional Terintegrasi di 17 titik untuk tahun ajaran 2026/2027, meliputi Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Gowa, Kabupaten Bone Bolango, Kota Tidore Kepulauan, Ibu Kota Nusantara, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Jepara, hingga Kota Subulussalam.
Selanjutnya, sebaran lokasi penyelenggaraan lainnya mencakup Kota Tarakan, Kabupaten Donggala, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Kupang, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Tebo, serta Kabupaten Tanjung Jabung Timur.