BPS Waspadai Lonjakan Harga Daging Ayam dan Daging Sapi

BPS Waspadai Lonjakan Harga Daging Ayam dan Daging Sapi
ayam potong [FOTO: NET].

JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencermati secara serius kenaikan harga daging ayam ras dan daging sapi di sejumlah kawasan pada pekan pertama Agustus 2026. Situasi tersebut menarik perhatian lantaran kenaikan harga mulai merambat naik meskipun sebagian besar komoditas pangan secara umum masih relatif stabil.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menerangkan bahwa daging ayam ras sejatinya berada pada level harga yang terbilang masih rendah, namun laju pergeseran Indeks Perkembangan Harga (IPH) tecatat cukup tinggi. 

Pergerakan tersebut perlu dicermati lantaran jika kenaikan harga terus merangkak naik, nominal harga daging ayam dikhawatirkan dapat melampaui harga acuan penjualan (HAP).

BPS menguraikan bahwa rerata nasional harga daging ayam ras menyentuh kisaran Rp39.712 per kilogram pada pekan awal Agustus 2026. Nominal tersebut sebenarnya masih berada sedikit di bawah HAP konsumen. 

Kendati demikian, persebaran daerah yang mengalami kenaikan IPH daging ayam ras telah meluas hingga menyasar 188 kabupaten/kota.

“Peningkatan harganya relatif tinggi. Tetapi kalau secara level harga, ini masih sedikit di bawah HAP. Ini mungkin untuk perlu perhatian karena kalau nanti kenaikan harga ini terus dibiarkan tentunya suatu saat nanti akan berada di atas HAP,” kata Amalia dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah 2026 yang disiarkan di YouTube Kemendagri, Senin (10/7/2026).

Sebagai ilustrasi, Amalia mengungkapkan bahwa Kabupaten Bangka Selatan membukukan lonjakan IPH daging ayam ras setinggi 34,58%, meskipun patokan harganya masih berada 3% di bawah HAP.

 Sementara itu di Kota Binjai, nilai IPH melesat 29,78% dengan harga jual 5% melebihi HAP, sedangkan Kabupaten Kepahiang mencatatkan kenaikan IPH mencapai 21,34% dengan angka penjualan 20% di atas HAP.

Amalia menyampaikan bahwa eskalasi harga ini dipengaruhi oleh dinamika pasokan serta tingkat permintaan yang bervariasi di tiap-tiap wilayah. 

Di Bangka Selatan, contohnya, tren konsumsi masyarakat terhadap ayam melonjak akibat peralihan dari komoditas ikan seiring cuaca buruk berupa angin kencang serta gelombang tinggi yang membatasi pergerakan nelayan. 

Sementara pada wilayah Kota Binjai, lonjakan harga ayam terdorong oleh meningkatnya permintaan pasar usai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kembali aktif bergerak pascalibur sekolah.

“Di Kabupaten Labuhanbatu Selatan kenaikan harga terjadi karena stok ayam di pasar terbatas sementara permintaan meningkat,” lanjutnya.

Bukan cuma daging ayam ras, BPS turut menyoroti pergerakan harga daging sapi yang posisinya telah bertengger jauh di atas ketetapan HAP. 

Amalia membeberkan bahwa harga rata-rata nasional untuk komoditas daging sapi pada pekan pertama Agustus 2026 sudah menyentuh Rp143.737 per kilogram.

 Gejala tersebut memerlukan perhatian intensif walaupun cakupan kabupaten/kota yang mencatatkan kenaikan IPH daging sapi hanya bertengger di angka 56 daerah.

“Untuk daging sapi ini yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena secara nasional rata-rata harga daging sapi pada minggu satu Agustus 2026 ini sudah jauh di atas HAP. Bahkan di minggu pertama bulan Agustus itu per kilogramnya menyentuh Rp143.737 per kilogram,” kata Amalia.

Adapun sederet kawasan mendeteksi harga daging sapi melonjak tinggi melewati HAP, seperti wilayah Kubu Raya yang mencapai Rp165.000 per kilogram atau berada 17,86% di atas HAP, diiringi kenaikan IPH sebesar 7,51%. 

Sementara di Kabupaten Melawi, angka penawaran bahkan menembus Rp180.000 per kilogram atau setara 28,6% melampaui ketetapan HAP.

Kementan Siapkan Realokasi Ayam

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian (Kementan) Muhammad Agung Sunusi mengungkapkan bahwa pemerintah sepatutnya memperketat pemetaan distribusi ayam ras, utamanya guna memantau posisi surplus maupun defisit secara harian. 

Menurutnya, pemetaan tersebut teramat krusial supaya jajaran pemerintah sanggup mengambil opsi realokasi stok secara kilat, termasuk untuk pasokan live bird, karkas, hingga pemaksimalan Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU).

“Kami harus melakukan pemetaan pasokan, pemetaan surplus-defisit, tadi teman-teman Bapanas [Badan Pangan Nasional] sudah melakukan langkah-langkah konkret dan tentunya harus ada langkah cepat untuk pemetaan surplus defisit harian sehingga kami bisa melakukan realokasi cepat khususnya untuk live bird-nya, live bird-nya karkas dan optimasi RPHU,” kata Agung.

Selain urusan ketersediaan stok, pemerintah juga wajib menjaga kestabilan mekanisme pasar. Agung memaparkan bahwa langkah penyerapan dapat dieksekusi pemerintah tatkala harga merosot di bawah HAP produsen, sekaligus mengalokasikan operasi pasar di kawasan yang mendeteksi lonjakan harga. 

Ia juga menggarisbawahi pentingnya penguatan fasilitas cold chain guna menjamin ketersediaan stok cadangan ayam di daerah yang mengalami gejolak harga.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyuarakan imbauan agar pemerintah turut mengamati aspek pakan sebagai salah satu elemen pemicu kenaikan harga ayam beserta telur.

 Menurut pengamatan Tito, data Kementan memperlihatkan bahwa tingkat produksi dan ketersediaan stok jagung bahan pakan terhitung cukup aman. 

Atas dasar itu, pemerintah perlu memastikan secara saksama apakah hambatan bertumpu pada suplai pakan atau justru pada simpul distribusinya.

“Relatif untuk pakan jagung itu produksinya baik, dan kemudian stoknya juga ada. Kalau memang betul ada, maka problemnya adalah masalah distribusi untuk pakan jagung,” ujar Tito.

Tito menekankan bahwa kecukupan pakan memegang peran vital lantaran variabel harga serta ketersediaan pasokan pakan amat menentukan tingkat produksi ayam ras dan telur ayam ras. 

Untuk itu, ia menginstruksikan Kementan, Bulog, beserta Bapanas untuk menelusuri secara mendalam akar pemicu kenaikan harga tersebut, terutamanya pada kawasan yang mencatatkan kenaikan IPH.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index