JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan deretan pemicu yang membuat nilai aset investasi menyusut meski angka investor pasar modal mengalami kenaikan sepanjang 2026.
Dinamika yang timbul dalam korelasi nilai aset dan jumlah pemodal tersebut memicu pertanyaan mengenai seberapa tangguh basis investor pasar modal domestik dalam menopang pendalaman pasar di tengah reformasi yang dijalankan OJK, BEI, serta SRO lainnya.
Mengutip data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah pemodal pasar modal hingga akhir semester I/2026 menembus 28,96 juta single investor identification (SID), melonjak 70,45% yoy jika dibandingkan dengan posisi 16,99 juta SID pada akhir Juni 2025.
Di sisi lain, nilai aset investor yang tercatat di C-BEST KSEI per akhir Juni 2026 berada pada level Rp9.897 triliun, terkoreksi dari angka Rp12.178 triliun per akhir Juni 2025. Secara year to date (YtD), nilai aset sepanjang semester I/2026 tersebut mengalami penyusutan sebesar 29,45%.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi menganggap koreksi aset tersebut salah satunya ikut terpengaruh oleh pelemahan tajam indeks harga saham gabungan (IHSG) sejak awal tahun.
"Kalau dibandingkan angka total asetnya sendiri ada penurunan, betul. Tapi itu murni karena memang harga-harga saham kami secara komposit maupun individual di tahun ini memang mengalami penurunan yang cukup signifikan," kata Hasan saat ditemui Bisnis di Gedung BEI, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Mencermati kondisi pasar, IHSG hingga penutupan perdagangan 7 Agustus 2026 telah tergerus 25,87% YtD, yang memangkas nilai kapitalisasi pasarnya menjadi Rp11.212 triliun.
"Jadi penurunan total jumlah aset tercatat di KSEI itu bukan karena penambahan dari investor, tapi lebih karena penurunan angka market cap atau jumlah total aset keseluruhan di pasar modal belum diimbangi dengan penambahan modal baru yang masuk dari jumlah investor yang cukup besar ini," kata Hasan.
Hasan menerangkan bahwa terdapat dua aspek yang mampu mendongkrak kembali nilai aset investor. Poin pertama yakni pemulihan harga saham di bursa yang sanggup mengangkat kapitalisasi pasar. Poin kedua yakni lewat peningkatan partisipasi pemodal baru.
Data KSEI merekam bahwa komposisi investor pasar modal hingga semester I/2026 didominasi oleh investor ritel, yakni mencapai 28,90 juta SID.
Dari jumlah tersebut, porsi 57,40% merupakan pegawai negeri, swasta, serta guru. Menilik latar belakang pemodal, sebanyak 54,12% merupakan investor berumur di bawah 30 tahun, dan sebesar 32,92% berlatar belakang pendidikan SMA ke bawah.
Melihat komposisi tersebut, OJK menilai program literasi yang masif sangat dibutuhkan, terkhusus bagi para investor baru.
"Bagaimana upaya bersama mengubah dari saving society, masyarakat yang sudah baik yang gemar menabung, tapi tidak cukup, kami coba konversi dan undang mereka untuk menjadi investing society, masyarakat yang gemar berinvestasi," kata Hasan.
Kedua, OJK menilai diperlukannya keterlibatan yang lebih besar dari investor institusi domestik di pasar modal yang saat ini porsinya masih berada di bawah 10%.
Berdasarkan data KSEI, jumlah investor korporasi semester I/2026 baru menyentuh 35.137, investor reksa dana 10.331, dana pensiun di angka 1.703, institusi keuangan sebanyak 1.703, hingga investor dari perusahaan asuransi yang baru tercatat 590.
"Jadi investor institusi domestik adalah kunci. Investor domestik institusi kami harapkan akan semakin hadir dan memanfaatkan sarana investasi di pasar modal yang tentu kami harapkan semakin sejalan dengan tujuan investasi mereka," pungkasnya.