Harga Emas Stabil di US$4.412, Terkerek Konflik Selat Hormuz

Harga Emas Stabil di US$4.412, Terkerek Konflik Selat Hormuz
harga emas batangan [FOTO: NET].

JAKARTA — Pergerakan harga emas mampu bertahan di kisaran US$4.400 per troy ounce pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Tingginya permintaan aset safe haven yang dipicu oleh eskalasi ketegangan di Selat Hormuz menjadi penopang utama, kendati penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta ekspektasi suku bunga yang bertahan tinggi menahan laju kenaikannya.

Merujuk data Kitco pada Rabu (12/8/2026) sore waktu AS, harga emas spot berada di level US$4.412,50 per troy ounce pada penutupan perdagangan Selasa, atau menguat 0,56%.

Pasar komoditas saat ini berada dalam pengaruh persilangan sejumlah sentimen. Rilis data ketenagakerjaan AS pekan lalu yang cenderung melandai masih memberi topangan bagi emas sebagai instrumen yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga. 

Namun, lonjakan harga minyak bumi dan laju inflasi AS yang masih tinggi membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada September mendatang kembali seimbang.

Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS tenor 10 tahun parkir di level 4,7%, berbarengan dengan penguatan indeks dolar AS. Kombinasi faktor tersebut membuat aliran dana defensif tetap menopang emas, walau ruang apresiasi harganya makin terbatas.

Perhatian para pelaku pasar kini tertuju pada rilis data inflasi konsumen (consumer price index/CPI) AS pada Rabu (12/8/2026), yang disusul data producer price index (PPI) pada Kamis (13/8/2026). Rangkaian data ini menjadi acuan penting bagi penentuan arah kebijakan moneter The Fed.

Sementara itu, eskalasi konflik di Selat Hormuz kembali memicu premi risiko bagi pasar komoditas. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang baru dilantik menegaskan bahwa kawasan perairan strategis tersebut tetap ditutup sampai pihak Washington memenuhi tuntutan Teheran. 

Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump mengajukan syarat tambahan berupa klaim kompensasi kepada Iran.

Sebelumnya, sinyal positif sempat muncul dari Pakistan mengenai potensi kesepakatan pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut. Namun, dinamika harga pada Selasa mengindikasikan pasar belum siap memperhitungkan kemungkinan beroperasinya kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat.

Di sisi lain, peta permintaan emas di China memperlihatkan adanya pergeseran perilaku konsumsi. China Gold Association mencatat total konsumsi emas pada semester I/2026 tumbuh 1,2% secara tahunan. 

Meski demikian, permintaan emas perhiasan secara volume justru merosot 33,9% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, minat terhadap emas batangan dan koin investasi melonjak hingga 28,4%.

China Gold Association menerangkan bahwa tingginya tingkatan fluktuasi harga emas beserta pemberlakuan regulasi pajak emas baru menjadi pemantik perubahan pola konsumsi masyarakat domestik.

"Tingginya permintaan emas untuk aset investasi membuat produk emas batangan dan koin menjadi semakin populer,” kata China Gold Association seperti dikutip Bullion Vault, Rabu (12/8/2026).

China Gold Association menilai mahalnya harga emas juga mulai menekan tingkat penyerapan emas di sektor industri. Kecenderungan ini tecermin dari penurunan konsumsi emas industri akibat pembengkakan biaya bahan baku.

Adapun pada pukul 14.32 WIB, harga emas dunia di pasar spot terpantau menguat 0,8% atau naik 34,8 poin menuju posisi US$4.401,3 per troy ounce berdasarkan data Kitco.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index