JAKARTA - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyatakan bahwa sektor hilirisasi hingga lapangan pekerjaan berbasis lingkungan dan iklim (green jobs) menyimpan potensi besar dalam membuka kesempatan kerja formal di Indonesia.
“Sesuai dengan kajian Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang) yang tertuang dalam Outlook Ketenagakerjaan 2026, sektor yang menjadi prioritas sektor hilirisasi industri seperti mineral, perkebunan, perikanan,” kata Kepala Barenbang Kemnaker Anwar Sanusi saat dihubungi di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
“Selanjutnya, sektor lainnya adalah ekonomi digital, ekonomi hijau, serta jasa modern,” ujarnya menambahkan.
Lebih jauh, Anwar mengutarakan bahwa bidang lain seperti industri pertanian (agroindustri) dan pariwisata turut diharapkan mampu membuka banyak peluang kerja formal di Tanah Air.
"Oleh karena itu, Kemnaker juga menekankan pentingnya agroindustri dan pariwisata berkelanjutan sebagai sektor dengan daya serap tenaga kerja yang tinggi di daerah," ujar Anwar.
Di sisi lain, Kepala Biro Humas Kemnaker Faried Abdurrahman Nur Yuliono menyampaikan bahwa pemerintah terus berikhtiar memperluas basis penciptaan lapangan kerja formal lewat sektor-sektor prioritas.
Langkah tersebut, sambungnya, sejalan dengan poin-poin yang tercantum pada Rencana Strategis Kementerian Ketenagakerjaan serta Rencana Tenaga Kerja Nasional (RTKN).
Faried memaparkan, pembukaan lapangan kerja formal yang bernilai ekonomi tinggi seperti hilirisasi industri dikonsentrasikan pada pengolahan mineral—termasuk nikel, tembaga, bauksit, dan batu bara—serta sektor perkebunan, minyak dan gas, hingga perikanan.
Ia menguraikan bahwa sektor ekonomi hijau dan sirkular diproyeksikan sanggup menciptakan hingga 3,88 juta kesempatan kerja pada tahun 2026 untuk bidang-bidang baru seperti teknisi kendaraan listrik (EV), daur ulang, serta pertanian presisi.
Selain itu, bidang ekonomi digital dan teknologi informasi, industri pengolahan/manufaktur, sektor perdagangan, hingga jasa kesehatan serta pariwisata juga memuat potensi besar untuk menghadirkan lapangan kerja formal.
“Sektor-sektor ini teridentifikasi dalam proyeksi kebutuhan tenaga kerja 2025–2029 sebagai penyumbang terbesar penyerapan lulusan pendidikan tinggi dan vokasi,” ujar Faried.