Rupiah Melemah ke Rp17.881 per Dolar AS Tertekan Sentimen MSCI

Rupiah Melemah ke Rp17.881 per Dolar AS Tertekan Sentimen MSCI
mata uang Dolar Amerika Serikat dan Rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA — Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Kamis (13/8/2026) dengan melorot tipis atas dolar Amerika Serikat (AS), berlawanan dengan tren mayoritas mata uang Asia yang cenderung menguat terhadap greenback.

Dinamika rupiah terjadi saat sentimen global memperoleh dorongan positif dari rilis data inflasi AS paling anyar. Sementara dari ranah domestik, sentimen dipengaruhi oleh kabar perkembangan MSCI.

Merujuk analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka di posisi Rp17.881 per dolar AS, terkoreksi sekitar 0,03% terhadap dolar AS.

Arah pergerakan rupiah bertolak belakang dengan mayoritas mata uang kawasan Asia yang menanjak atas dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, dolar Taiwan memimpin penguatan sebesar 0,26%, disusul won Korea Selatan 0,14% dan rupee India 0,11%. 

Penguatan juga dicatatkan oleh baht Thailand sebesar 0,07%, yen Jepang 0,04%, dolar Singapura 0,02%, serta yuan China 0,02%. Adapun dolar Hong Kong bergerak stagnan atau tak bergeming 0,00% terhadap dolar AS.

Kondisi rupiah ini berlangsung di tengah sentimen global yang disokong rilis inflasi AS terkini. Inflasi konsumen AS pada Juli 2026 berada di level 3,4% secara tahunan, melandai dari posisi Juni sebesar 3,5%. 

Inflasi inti juga tercatat pada angka 2,5% secara tahunan. Realisasi tersebut makin mempertegas ekspektasi meredanya tekanan inflasi AS.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai rupiah sejatinya berpeluang untuk menguat terhadap dolar AS menyusul sinyal moderasi pada data inflasi AS.

“Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS menyusul data yang menunjukkan inflasi di AS yang kembali termoderasi,” ujar Doo Financial Futures.

Laporan resmi pemerintah AS mencatat CPI Juli merambat 0,1% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan, melambat dari Juni yang mencapai 3,5%. Situasi ini membuka ruang bagi pelaku pasar untuk kembali mengalkulasi potensi pelonggaran kebijakan moneter AS.

Dari dalam negeri, sentimen turut dipicu oleh pengumuman MSCI. Doo Financial Futures berpandangan bahwa keputusan MSCI untuk mempertahankan kebijakan pembekuan indeks Indonesia tanpa eksekusi penghapusan berskala besar seperti pada evaluasi sebelumnya mampu menenangkan kekhawatiran pasar.

Kendati demikian, MSCI tetap menerapkan perlakuan khusus terhadap sejumlah emiten Indonesia. Dalam rilis terbarunya, MSCI mengumumkan pengeluaran GOTO dari indeks Indonesia pada akhir Agustus akibat kendala likuiditas.

Walau begitu, peluang penguatan rupiah diproyeksikan terbatas. Ketidakpastian prospek perdamaian di Timur Tengah masih menjadi bayangan risiko bagi pasar keuangan internasional. 

Gejolak geopolitik tersebut berpotensi memicu lonjakan permintaan pada aset safe haven, terkhusus dolar AS, sekaligus memantik fluktuasi harga energi. Faktor ini berisiko menahan ruang apresiasi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Doo Financial Futures memprediksi rupiah bakal bergerak dalam rentang 17.800–17.900 per dolar AS. Pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat bergantung pada arah dolar AS, ekspektasi kebijakan Federal Reserve, perkembangan geopolitik Timur Tengah, serta respons investor asing terhadap perkembangan pasar saham Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index