Prabowo: Sekolah Rakyat Jadi Jalan Putus Lingkaran Kemiskinan

Prabowo: Sekolah Rakyat Jadi Jalan Putus Lingkaran Kemiskinan
Presiden Prabowo Subianto [FOTO: NET].

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa pihak pemerintah mendirikan Sekolah Rakyat berbentuk sekolah berasrama khusus anak-anak dari keluarga sangat tidak berdaya demi memutus perputaran rantai kemiskinan serta membukakan peluang bagi mereka dalam meraih masa depan yang lebih cerah.

"Kami juga membangun Sekolah Rakyat, sekolah berasrama bagi anak-anak dari keluarga yang paling tidak berdaya dengan ruang kelas, tempat tinggal makanan bergizi, komputer, guru, dan lingkungan yang aman. Strateginya adalah kami harus memutuskan lingkaran kemiskinan," kata Prabowo dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPD RI dan DPR RI Tahun 2026 di Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Prabowo menggarisbawahi bahwa latar belakang ekonomi keluarga tidak boleh dijadikan penentu nasib masa depan anak, sehingga negara wajib mengambil tindakan intervensi selaras dengan amanat Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yang menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Hingga kini, sebanyak 93 unit Sekolah Rakyat permanen telah resmi beroperasi, sedangkan fasilitas Sekolah Rakyat rintisan sudah menembus angka 182 sekolah. Prabowo menargetkan tiap-tiap kabupaten kelak memiliki minimal satu unit Sekolah Rakyat.

"Nantinya semua kabupaten akan punya satu Sekolah Rakyat," ujarnya.

Prabowo lantas memperkenalkan figur Muhammad Rizky Pratama, seorang murid Sekolah Rakyat berumur 12 tahun yang di masa lalu pernah mengayuh sepeda hingga puluhan kilometer sembari mengangkut pasokan sekitar 30 kilogram ikan untuk dijajakan.

Rizky sebelumnya sempat mengalami putus sekolah dan sewaktu mula-mula bergabung di Sekolah Rakyat belum mahir membaca maupun berhitung secara memadai.

"Hari ini Rizky kembali ke sekolah dan mendapatkan kembali haknya untuk belajar dan menata cita-cita. Tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak," ujar Prabowo.

Di samping cerita Rizky, Prabowo turut menyinggung kisah Citra Nur Ramadhani asal Kabupaten Pangkajene, Sulawesi Selatan, yang nyaris putus sekolah di bangku kelas 4 SD lantaran terpaksa membantu ibunya yang menyandang disabilitas berjualan kacang pascameninggalnya sang ayah.

Citra lantas memperoleh kesempatan untuk meneruskan jenjang pendidikannya melalui program Sekolah Rakyat hingga sukses keluar sebagai juara olahraga karate tingkat kabupaten.

"Citra umurmu berapa Citra? 10 tahun, ya nanti 10 tahun lagi lah kau boleh pacaran. Citra kau boleh pacaran setelah sabuk hitam karatemu, jadi nggak ada yang berani nanti main-main sama kau," kata Prabowo tersenyum.

Lebih jauh, Prabowo pun membeberkan deretan prestasi tujuh siswa Sekolah Rakyat di Makassar yang berhasil memborong penghargaan dalam ajang Olimpiade Nasional Indonesia ke-15 untuk cabang matematika, biologi, bahasa Indonesia, sejarah, maupun sosiologi.

Tak cuma itu, Ismi Ulfaida yang menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Polewali Mandar, Sulawesi Barat, juga menorehkan prestasi dengan terpilih menjadi anggota Paskibraka tingkat nasional.

Melihat fakta tersebut, Prabowo menegaskan bahwa deretan capaian tersebut membuktikan betapa anak-anak dari latar belakang paling tidak mampu sanggup mengukir prestasi tinggi apabila dianugerahi kesempatan, kelengkapan fasilitas, serta pendampingan yang tepat.

"Tidak ada anak Indonesia pun yang akan kami tinggalkan," kata Prabowo.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index