JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menyinggung banyaknya kekayaan sumber daya alam di Indonesia yang penetapan harganya justru didikte oleh negara asing, padahal Indonesia merupakan pemilik sah dari beragam kekayaan alam tersebut.
Hal tersebut diutarakan Prabowo saat menerangkan rencana pembentukan Bursa Mineral Dan Komoditas Strategis mulai 1 Januari 2027 mendatang sebagai langkah memacu kemandirian dalam mengelola sumber daya alam pada Rapat Paripurna ke-1 Tahun Sidang 2026-2027 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026).
"Terlalu sering harga kekayaan kami yang keluar dari bumi dan keringat rakyat Indonesia justru harganya ditentukan di luar negeri, di negara lain, di bursa komoditas negara lain," kata Prabowo, Jumat (14/8/2026).
Prabowo memaparkan, Indonesia telah menjadi salah satu produsen terbesar untuk ragam komoditas krusial dunia selama berpuluh-puluh tahun, seperti kelapa sawit, nikel, timah, batu bara, emas, kopi, karet, dan lain-lain. Sayangnya, komoditas tersebut terlampau sering dikirim ke luar negeri secara mentah, sementara patokan harganya diatur oleh negara penerima impor.
Fenomena itu lantas membuat Prabowo merasa heran.
"Mereka yang tidak punya komoditas ini, masak mereka menentukan berapa harga komoditas itu? Ini tidak masuk akal. Saya tidak mengerti di mana diajarkan ilmu ekonomi semacam ini?" tanya Prabowo.
"Kami yang punya barang, orang lain menentukan harganya," imbuh dia.
Ia lantas mempertanyakan kepada jajaran wakil rakyat di Senayan, apakah kondisi semacam ini patut dibiarkan berlanjut.
"Saya bertanya kepada wakil-wakil rakyat, mau kami teruskan situasi seperti ini? Emak-emak susah, payah membatik, orang lain yang menentukan harga batik yang mau dijual. Luar biasa," tutur Prabowo.
Eks Menteri Pertahanan tersebut menegaskan, kebiasaan ini wajib berani diubah dan ia memohon dukungan DPR RI guna mewujudkan perubahan tersebut.
"Saya katakan di sini, saya yakin saudara-saudara mendukung saya. Kalau mereka tidak mau bayar harga yang kami pasang, enggak usah beli. Lebih baik komoditas itu, nikel itu, timah itu, emas itu, semuanya biar di tanah, untuk anak cucu kami. Batu bara kami, gas kami, minyak kami, biar di tanah. Kopi kami, biar kami minum sendiri," kata Prabowo.