JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendorong para lulusan Universitas Tadulako (Untad) Palu, Sulawesi Tengah, untuk berperan sebagai penggerak utama serta membuka lapangan pekerjaan baru dengan memanfaatkan potensi daerah.
"Kalau mau sukses anak-anakku, dapat tekanan. Tekanan pertama adalah jangan minta uang. Tekanan kedua, jangan minta warisan. Tekanan ketiga, jangan mendaftar-mendaftar, ciptakan lapangan kerja," kata Andi Amran Sulaiman saat memberikan orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke-45 dan Wisuda Universitas Tadulako periode ke-138 di Palu, Kamis (20/8/2026).
Ia menyampaikan bahwasanya para alumni perguruan tinggi mesti memiliki keberanian dalam mengasah kemampuan dan ilmu yang didapat selama menempuh pendidikan menjadi kegiatan produktif yang bernilai ekonomi bagi masyarakat.
Menurutnya, wilayah Sulawesi Tengah menyimpan potensi sumber daya yang sangat luas dan berpeluang dikembangkan menjadi beragam bidang usaha, salah satunya melalui sektor pertanian.
“Ini Palu, ini Sulawesi Tengah, hamparannya luas. Tanami!” ujarnya.
Ia mengimbau para lulusan perguruan tinggi untuk tidak sekadar berorientasi sebagai pencari kerja. Ia meminta para sarjana agar cermat melihat peluang di lingkungan sekitar serta berani membangun usaha berpatokan pada potensi yang tersedia.
Setiap orang, menurutnya, mengantongi kesempatan yang sama untuk merengkuh keberhasilan tanpa terhalang latar belakang keluarga, suku, maupun perguruan tinggi tempatnya berkuliah.
Ia menambahkan, rasa percaya terhadap kemampuan diri serta kemauan untuk bekerja keras menjadi pilar utama seseorang dalam menjawab pelbagai tantangan usai menuntaskan pendidikan.
Pada momen tersebut, Mentan turut memaparkan komitmen pemerintah pusat untuk menyokong kemajuan sektor pertanian di Sulawesi Tengah, meliputi penyediaan sarana produksi hingga bantuan bibit bagi warga yang mengelola lahan demi menggenjot produktivitas hasil tani.
“Hand tractor gratis. Mau tanam bibit ada, ada bibit untuk Sulteng. Bibit kelapa, kakao, itu gratis," ujarnya.
Ia menerangkan lewat program pengembangan tujuh komoditas strategis—yaitu kakao, kelapa, tebu, kopi, pala, mete, dan kemiri—pemerintah mengalokasikan anggaran senilai Rp9,5 triliun dengan target perluasan 870 ribu hektare kebun rakyat sepanjang periode 2025-2027 guna mengamankan pasokan bahan baku industri sekaligus menciptakan lapangan kerja berkelanjutan.
Maka dari itu, ia menaruh harapan agar para lulusan Untad dapat mengambil peran aktif dalam mengolah potensi daerah sembari membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitarnya.