96% TPA Open Dumping, WRI Dorong Penguatan Data Emisi Metana

96% TPA Open Dumping, WRI Dorong Penguatan Data Emisi Metana
Antrean truk pengangkut sampah di TPST Bantargebang [FOTO: NET].

JAKARTA — Penguatan data emisi metana menjadi kebutuhan untuk membenahi pengelolaan sampah di Tanah Air. World Resources Institute (WRI) Indonesia mendorong pemerintah memperkokoh sistem pengukuran, pemantauan, verifikasi, dan pelaporan (measurement, reporting and verification/MRV) guna memastikan kebijakan penurunan emisi sektor persampahan lebih terukur.

Dorongan ini disampaikan WRI Indonesia lewat program SMART Waste Indonesia berkat dukungan Global Methane Hub. Hasil kajian yang berjalan sejak 2024 tersebut diserahkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) pada Rabu (19/8/2026).

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLH/BPLH memperlihatkan sekitar 96% dari total 511 tempat pemrosesan akhir (TPA) di Indonesia masih menerapkan sistem open dumping

Hal ini perlu diwaspadai sebab timbulan sampah masih didominasi jenis organik yang memicu emisi metana kala membusuk dalam kondisi minim oksigen.

Sepanjang 2025, volume sampah harian di Indonesia menembus sekitar 144.000 ton, tetapi baru sekitar 25% yang tercatat terkelola. Fakta ini menegaskan tingginya potensi sampah terbuang ke TPA hingga menghasilkan emisi metana. 

Di sisi lain, inventarisasi serta mutu data emisi masih dibatasi sejumlah kendala. Kalkulasi emisi mayoritas mengandalkan metode estimasi, sedangkan pemantauan langsung di lapangan belum maksimal.

Dorong Metode Tier 2 IPCC Melalui inisiatif SMART Waste Indonesia, WRI Indonesia mengajukan skema Tier 2 dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) demi memperkuat inventarisasi emisi metana sektor sampah.

BACA JUGA

Pemkot Bandung Bakal Bangun Tempat Pengolahan Sampah Berkapasitas 300 Ton/Hari

Pekanbaru Bangun Waste Station di Unri, Tekan Sampah Masuk TPA

Pramono Ancam Tutup Pihak Swasta yang Kelola Sampah di Cilincing

Sistem ini memanfaatkan data aktivitas lokal serta faktor emisi spesifik negara (country-specific emission factor). Menurut WRI Indonesia, pemanfaatan data spesifik sanggup menyajikan estimasi emisi yang jauh lebih presisi ketimbang kalkulasi berskala umum.

Rekomendasi ini ditopang tiga langkah utama: survei komposisi sampah, pemantauan emisi metana, serta perancangan Methane Emission Toolbox (MET). Platform MET disiapkan guna mendongkrak kualitas data persampahan nasional dalam SIPSN.

Survei komposisi dilakukan pada lima TPA perwakilan daerah berbeda, yaitu Solok, Surabaya, Balikpapan, Mataram, dan Gorontalo. 

Temuan survei 2025 memaparkan 52,02% timbulan sampah di lokasi-lokasi tersebut berupa material organik dan 12,83% kertas. Kedua jenis limbah ini melepaskan metana ketika membusuk tanpa oksigen. Selain memicu emisi, penumpukan metana di TPA berisiko menyulut kebakaran.

Di samping survei, SMART Waste Indonesia mengukur emisi metana memakai drone dan sensor di TPA Benowo (Surabaya) serta TPA Galuga (Bogor). Langkah ini melibatkan pemerintah daerah melalui dialog untuk menyusun arah kebijakan dan memperkuat inventarisasi emisi nasional.

Haruki Agustina, Direktur Mitigasi Perubahan Iklim KLH/BPLH yang mewakili Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Mohammad Jumhur Hidayat, menyampaikan bahwa sektor sampah berperan penting menekan emisi gas rumah kaca.

“Pengelolaan sampah memiliki peran penting dalam agenda pembangunan rendah emisi dan penanganan perubahan iklim di Indonesia. Pemerintah terus mendorong sektor limbah untuk berkontribusi dalam pencapaian target pengurangan emisi gas rumah kaca nasional, salah satunya melalui penyusunan peta jalan sektor limbah," katanya, dikutip dari siaran pers, Kamis (20/8/2026).

Pengelolaan dari Sumber Country Director WRI Indonesia Nirarta Samadhi menegaskan penekanan emisi metana wajib berjalan sebelum sampah menyentuh TPA. Skema ini mencakup pemilahan dari sumber, pengolahan sampah organik, penataan TPA, hingga pemanfaatan gas metana.

“Inisiatif WRI melalui SMART Waste Indonesia menunjukkan bahwa mitigasi metana tidak dapat hanya dilakukan ketika sampah sudah berada di TPA. Upaya perlu dimulai dari pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber, pengalihan dan pengolahan sampah organik, hingga peningkatan pengelolaan TPA dan pemanfaatan gas metana," kata Nirarta.

Penguatan data dan sistem MRV harus berjalan selaras dengan pergeseran paradigma kumpul–angkut–buang menuju penanganan dari sumber melalui pencegahan, pemilahan, peningkatan daur ulang, pengolahan sampah organik, serta meminimalkan residu ke TPA.

Regional Lead Asia Global Methane Hub, Manjyot Ahluwalia, menganggap pemantauan dan pelaporan yang kuat dapat menjadi fondasi negara-negara Global South dalam menangani emisi metana sektor sampah.

“Indonesia menunjukkan kepada negara-negara Global South bahwa penanganan emisi metana dari sektor persampahan dapat dilakukan melalui proses monitoring dan pelaporan yang transparan, pengelolaan sampah berbasis data, serta pengelolaan sampah yang responsif terhadap iklim, baik di tingkat nasional maupun subnasional. Inisiatif SMART Waste Indonesia menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan, teknologi, data, dan kolaborasi kelembagaan dapat membantu memperkuat basis bukti untuk pengambilan keputusan di sektor persampahan.”

Dengan sistem pemantauan terpadu, pemerintah bisa memetakan titik emisi dan area prioritas sekaligus memilih intervensi terbaik. Data ini turut mengarahkan investasi ke fasilitas pengelolaan sampah berpotensi reduksi emisi besar.

Penguatan MRV dan pemanfaatan data lewat SMART Waste Indonesia diharapkan menyokong penerapan Zero Waste Zero Emission (ZWZE) secara terukur dan berbasis bukti, termasuk dalam memantau, melaporkan, serta memverifikasi capaian efisiensi emisi metana.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index