Impor Barang Konsumsi Melonjak 24,6 Persen di Kuartal II 2026

Impor Barang Konsumsi Melonjak 24,6 Persen di Kuartal II 2026
Ilustrasi impor RI [FOTO: NET].

JAKARTA — Geliat konsumsi masyarakat tecermin melalui lonjakan impor barang konsumsi di Indonesia sepanjang triwulan II 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat angka impor barang konsumsi melesat 24,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II 2026. 

Laju pertumbuhan ini meningkat tajam jika disandingkan dengan performa kuartal I 2026 yang cuma berada di level 6,0 persen.

Peningkatan impor barang konsumsi ini turut menopang lonjakan impor nonmigas nasional secara keseluruhan. 

Pada kuartal II 2026, akumulasi impor nonmigas membukukan nilai 62,0 miliar dollar AS atau tumbuh 17,6 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan capaian triwulan I 2026 sebesar 52,9 miliar dollar AS yang tumbuh 11,5 persen (yoy).

Lantas, bagaimana gambaran pengeluaran belanja masyarakat pada masa tersebut?

Impor barang konsumsi tumbuh 24,6 persen

Berdasarkan publikasi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Triwulan II 2026, BI mengungkapkan bahwa kenaikan impor nonmigas utamanya didorong oleh peningkatan volume impor riil, khususnya pada kategori barang konsumsi serta bahan baku. 

Secara komprehensif, pertumbuhan impor riil nonmigas merangkak dari 7,5 persen (yoy) pada kuartal I 2026 menjadi 11,3 persen (yoy) pada kuartal II 2026.

Selain imbas penambahan volume riil, faktor pergerakan harga juga ikut mendongkrak nilai total impor. Indeks harga impor nonmigas tercatat tumbuh 5,7 persen (yoy) di kuartal II 2026, menguat dari posisi 3,8 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya.

Akan tetapi, jika dibedah lebih mendalam berdasarkan per kelompok barang, lonjakan impor barang konsumsi tampak jauh lebih dominan. Impor barang konsumsi melonjak hingga 24,6 persen (yoy) di kuartal II 2026, meroket drastis dari angka 6,0 persen (yoy) pada kuartal I 2026.

BI melaporkan bahwa lonjakan tersebut terdorong oleh akselerasi pertumbuhan impor dari sisi riil. Pertumbuhan riil impor barang konsumsi menembus 19,6 persen (yoy), melompat tinggi jika dibandingkan capaian 2,6 persen (yoy) pada triwulan pertama 2026.

Hal ini menandakan bahwa pembengkakan nilai impor barang konsumsi pada triwulan II 2026 tidak semata-mata bersumber dari dinamika harga. Volume fisik barang yang diimpor juga mengalami lonjakan cukup masif. 

BI mencatat indeks harga impor barang konsumsi tumbuh 4,1 persen (yoy) di triwulan II 2026, menguat dari 3,3 persen (yoy) pada triwulan I 2026.

Dengan demikian, mengacu pada laporan bank sentral, peningkatannya dipicu oleh kombinasi pertumbuhan riil dan dorongan kenaikan harga, dengan porsi laju riil yang mengalami percepatan sangat signifikan.

Libur sekolah dan hari besar keagamaan

BI secara khusus menghubungkan peningkatannya dengan dinamika konsumsi masyarakat selama momentum liburan sekolah serta perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) sepanjang kuartal II 2026.

Dalam laporan tersebut, BI menyebut peningkatan impor barang konsumsi dipengaruhi oleh konsumsi masyarakat pada masa libur sekolah dan beberapa HBKN. Kenaikan faktor harga juga dinilai ikut mendorong nilai total impor.

Alhasil, lonjakan impor barang konsumsi pada triwulan II 2026 terjadi beriringan dengan maraknya mobilitas dan aktivitas warga selama libur sekolah serta perayaan hari besar agama.

Momentum tersebut turut tecermin pada pos-pos impor lainnya. BI mencatat kenaikan permintaan energi yang berkaitan erat dengan aktivitas pergerakan warga di masa liburan. Pada segmen impor produk olahan kilang, contohnya, volume impor meningkat dari 54 juta barel pada triwulan I 2026 menjadi 57 juta barel pada triwulan II 2026.

BI mengaitkan perkembangan itu dengan tingginya permintaan energi untuk mendukung mobilitas masyarakat yang meningkat pada musim libur sekolah dan berbagai perayaan HBKN.

Barang konsumsi bukan komponen terbesar impor

Meskipun laju pertumbuhannya paling tinggi, barang konsumsi sejatinya bukan porsi paling mendominasi dalam struktur impor nonmigas nasional. Catatan BI menunjukkan bahwa impor bahan baku masih menguasai struktur nonmigas dengan pangsa mencapai 63,5 persen.

Selanjutnya, kelompok barang modal memegang porsi 24,2 persen, sedangkan kelompok barang konsumsi hanya mencakup 9,8 persen. Oleh karena itu, lonjakan barang konsumsi mesti dicermati dalam konteks peta struktur impor secara menyeluruh.

Pada kuartal II 2026, impor bahan baku turut menorehkan pertumbuhan tinggi sebesar 21,8 persen (yoy), melesat dari 7,2 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya. Laju riil impor bahan baku naik menjadi 16,3 persen (yoy) dari sebelumnya 5,9 persen (yoy) di kuartal I 2026.

Pihak BI menyebut penambahan impor bahan baku ini berbanding lurus dengan tren aktivitas sektor usaha yang terindikasi kian bergairah. Hal tersebut tecermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI yang mencatatkan kenaikan Saldo Bersih Tertimbang (SBT).

Sementara itu, laju impor barang modal berada di angka 15,5 persen (yoy) pada kuartal II 2026, sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan kuartal I 2026 yang menyentuh 22,9 persen (yoy). Laju riilnya pun mengendur dari 11,0 persen menjadi 6,1 persen (yoy).

Bukan hanya harga, volume impor ikut naik

Memperhatikan secara luas seluruh kelompok nonmigas, pertambahan volume menjadi aspek krusial pada kuartal II 2026. Nilai total impor nonmigas naik 17,6 persen (yoy), sedangkan pertumbuhan riilnya berada di level 11,3 persen (yoy) di tengah kenaikan indeks harga sebesar 5,7 persen (yoy).

Khusus kelompok barang konsumsi, kontrasnya makin terlihat. Nilai nominalnya meroket 24,6 persen (yoy), di mana pertumbuhan riil mencapai 19,6 persen dan indeks harga menguat 4,1 persen.

Data ini mengonfirmasi bahwa melonjaknya nilai impor barang konsumsi di triwulan II 2026 utamanya berjalan seiring dengan penebalan volume impor riil. Pihak otoritas moneter menilai lonjakan konsumsi warga selama libur sekolah dan sejumlah perayaan HBKN menjadi salah satu pemicu resminya.

Impor naik, surplus neraca perdagangan nonmigas menyusut

Melesatnya angka impor barang konsumsi ini terjadi berbarengan dengan tergerusnya surplus neraca perdagangan nonmigas Indonesia. Pada kuartal II 2026, surplus nonmigas terkoreksi menjadi 11,5 miliar dollar AS, lebih rendah dibanding angka 13,3 miliar dollar AS pada triwulan I 2026.

Penurunan surplus ini dipicu oleh laju kenaikan impor nonmigas yang lebih deras ketimbang peningkatan kinerja ekspornya. 

Padahal di periode serupa, sektor ekspor nonmigas sebenarnya tumbuh cukup solid dengan membukukan nominal 70,5 miliar dollar AS, naik dari 63,5 miliar dollar AS pada kuartal I 2026.

Secara tahunan, ekspor nonmigas tumbuh 8,5 persen (yoy), jauh menanjak dibanding laju 1,2 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya. Namun derasnya laju impor tetap membuat surplus perdagangan tertekan.

Kondisi tersebut pada akhirnya memengaruhi meleburnya defisit transaksi berjalan Indonesia. Pada triwulan II 2026, defisit transaksi berjalan membengkak jadi 12,5 miliar dollar AS (3,3 persen dari PDB), berbanding 3,6 miliar dollar AS (1,0 persen dari PDB) pada kuartal I 2026.

Pihak BI menggarisbawahi bahwa pelebaran defisit transaksi berjalan ini dipicu oleh tergerusnya surplus perdagangan barang, membengkaknya defisit neraca jasa, serta melesatnya defisit pendapatan primer. Dari sisi perdagangan barang, susutnya surplus nonmigas dan membengkaknya defisit migas menjadi pemicu utamanya.

Mengenai impor nonmigas, bank sentral mencatat peningkatannya sangat erat kaitannya dengan tingginya pemenuhan kebutuhan roda ekonomi domestik.

Dengan demikian, data NPI triwulan II 2026 memperlihatkan eskalasi impor di pelbagai pos barang. Pada barang konsumsi, kenaikan nominal mencapai 24,6 persen (yoy) dengan pertumbuhan riil 19,6 persen.

 BI menghubungkan lonjakan ini dengan aktivitas belanja masyarakat selama liburan sekolah serta momentum HBKN, di samping pengaruh faktor kenaikan harga.

Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index