Menaker: Perbaikan Tata Kelola dan Kompetensi Genjot Produktivitas

Menaker: Perbaikan Tata Kelola dan Kompetensi Genjot Produktivitas
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengemukakan bahwa pembenahan tata kelola serta alur kerja secara menyeluruh yang diimbangi dengan penguatan kompetensi tenaga kerja sangat krusial demi memacu produktivitas perusahaan.

“Kompetensi tenaga kerja harus terhubung dengan produktivitas perusahaan. Ketika kompetensi meningkat, proses kerja membaik, teknologi dimanfaatkan secara optimal, dan budaya continuous improvement tumbuh, maka daya saing perusahaan dan perekonomian nasional juga akan meningkat,” ujar Yassierli dalam keterangannya di Jakarta, Senin (24/8/2026).

Adapun kebijakan tersebut selaras dengan komitmen Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yang bakal memberikan pendampingan kepada 20 perusahaan dari sektor manufaktur, pelayanan kesehatan, serta perhotelan guna memperkuat produktivitas lewat perbaikan sistem dan alur kerja sepanjang September hingga November 2026.

Kegiatan pendampingan ini menjadi bagian dari langkah Kemnaker dalam mendorong produktivitas perusahaan sekaligus memperkokoh daya saing ekonomi dan mutu dunia kerja di Indonesia.

Pelaksanaannya melibatkan sedikitnya 25 spesialis produktivitas terlatih, 20 instruktur, serta 20 peserta Magang Nasional.

Guna menjamin perbaikan berjalan tepat sasaran sesuai kebutuhan tiap-tiap perusahaan, Menaker menyampaikan bahwa program ini mengusung pendekatan company-based productivity improvement.

Skema pendampingan diawali melalui pengukuran baseline dan diagnosis tingkat produktivitas, yang lantas dilanjutkan dengan pemetaan akar masalah, perancangan rencana peningkatan produktivitas, eksekusi pembenahan, serta pemantauan dan evaluasi dampak.

Sementara itu, bentuk intervensi disesuaikan berdasarkan dinamika masing-masing perusahaan, di antaranya melalui optimasi efisiensi alur kerja, mutu layanan, penekanan pemborosan, tata kelola lingkungan kerja, maksimalisasi potensi SDM, digitalisasi proses, hingga peningkatan mutu produksi dan pelayanan.

Menaker Yassierli menerangkan, keterlibatan para peserta Magang Nasional pada agenda ini menjadi bagian dari proses pembelajaran berbasis praktik nyata di dunia industri.

Para peserta mendapatkan pengalaman empiris secara langsung terkait mekanisme peningkatan produktivitas melalui interaksi dengan pihak perusahaan, instruktur, dan spesialis produktivitas.

“Peserta magang perlu memahami sejak awal bahwa bekerja bukan sekadar menyelesaikan tugas. Mereka juga harus belajar bagaimana suatu pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih baik, lebih efisien, lebih berkualitas, dan memberikan nilai tambah yang lebih tinggi,” ujar Yassierli.

Lebih lanjut ia memaparkan, penguatan produktivitas menjadi makin krusial di tengah pergeseran teknologi, dinamika pasar tenaga kerja, dan pencapaian target Indonesia Emas 2045.

“Karena itu, produktivitas tidak hanya menjadi ukuran kinerja perusahaan, tetapi juga perlu dibangun sebagai bagian dari budaya kerja,” katanya.

Lewat program percontohan tersebut, Kemnaker berharap dapat merumuskan model pendampingan peningkatan produktivitas perusahaan yang terstruktur, terukur, serta terintegrasi untuk diimplementasikan secara lebih masif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index