Kemenperin Perkuat Kerja Sama Pengembangan Teknologi dengan Rusia

Kemenperin Perkuat Kerja Sama Pengembangan Teknologi dengan Rusia
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam kunjungan kerja ke Moscow [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bakal memperkokoh kemitraan di bidang pengembangan teknologi bersama Rusia, mencakup pemanfaatan drone, robotika bawah air, sistem komunikasi mandiri darurat, hingga teknologi pengelolaan limbah.

"Ini merupakan peluang kerja sama yang dibuka Rusia melalui pengembangan dan lokalisasi sejumlah teknologi yang dinilai relevan dengan kebutuhan industri nasional," ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya dikonfirmasi di Jakarta, Senin (24/8/2026).

Ia menerangkan bahwa Indonesia memandang Rusia sebagai mitra strategis guna membangun sektor industri yang lebih canggih dan berdaya saing tinggi.

"Kami ingin hubungan kedua negara tidak berhenti pada perdagangan, tetapi berkembang menjadi kerja sama investasi, transfer teknologi, dan pengembangan kapasitas industri yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara,” katanya.

Potensi kemitraan tersebut dibahas dalam dialog bilateral antara Kemenperin dan Senator Federasi Rusia Ilyas Umakhanov di Jakarta pada 19 Agustus, yang menjadi bagian dari langkah memperluas hubungan industri kedua negara dari sekadar perdagangan menuju investasi, alih teknologi, serta kemitraan industri.

Dalam pertemuan itu, kerja sama difokuskan pada pemanfaatan teknologi serta penguatan kapasitas industri yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia.

Beberapa sektor prioritas yang menjadi perhatian bersama meliputi perangkat telekomunikasi, agrokimia, otomatisasi industri, pengolahan limbah, serta aneka teknologi lain yang berpotensi dikembangkan lewat kolaborasi antarpelaku usaha kedua negara.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian RI Tri Supondy menyampaikan bahwa kemitraan tersebut perlu diarahkan pada bentuk kolaborasi yang mampu memberikan nilai tambah bagi industri dalam negeri.

“Kerja sama Indonesia dan Rusia perlu diarahkan pada hal-hal yang menghasilkan manfaat nyata bagi industri, baik melalui investasi, alih teknologi, maupun kemitraan yang menghubungkan perusahaan kedua negara,” ujar Tri.

Ia mengimbuhkan bahwa hubungan baik Indonesia dan Rusia harus diterjemahkan ke dalam bentuk kerja sama ekonomi yang lebih riil, termasuk melalui eksplorasi teknologi yang dapat dikembangkan dan dilokalisasi sesuai kebutuhan industri nasional.

Sementara itu, Senator Ilyas Umakhanov menyebutkan bahwa Rusia memiliki sederet teknologi yang berpeluang dikembangkan bersama serta diselaraskan dengan karakteristik Indonesia.

“Kami melihat banyak peluang untuk mengembangkan kerja sama teknologi dengan Indonesia. Rusia memiliki teknologi drone untuk kebutuhan sipil, robotika bawah air yang sesuai dengan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan, sistem komunikasi mandiri untuk kondisi darurat, serta teknologi pengolahan limbah yang dapat menghasilkan sumber daya yang bermanfaat bagi pertanian dan peternakan,” ungkap Senator Ilyas Umakhanov yang juga anggota Federation Council Rusia.

Penawaran kerja sama teknologi itu selanjutnya bakal menjadi bahan penjajakan lanjutan demi melihat kesesuaian dengan kebutuhan industri dalam negeri serta peluang pengaplikasiannya di Indonesia.

Pendekatan ini sejalan dengan langkah memperkuat struktur industri nasional, sehingga kemitraan internasional tidak sekadar berfokus pada masuknya produk atau teknologi luar, melainkan juga penambahan kapasitas produksi, penguasaan teknologi, serta penciptaan nilai tambah di dalam negeri.

Penguatan hubungan industri Indonesia–Rusia sebelumnya juga telah berlangsung lewat partisipasi Indonesia sebagai Official Partner Country pada INNOPROM 2026 di Yekaterinburg, Rusia.

Kehadiran Indonesia pada ajang industri terbesar Rusia tersebut membuka ruang interaksi yang lebih luas antarasatu perusahaan dengan perusahaan lainnya dari kedua negara melalui forum bisnis, business matching, serta pertemuan antarpelaku usaha.

Ragam potensi kerja sama yang teridentifikasi dalam rangkaian kegiatan tersebut, baik lewat skema Business-to-Business (B2B) maupun Government-to-Government (G2G), menjadi bagian dari agenda tindak lanjut hubungan industri kedua negara.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang juga telah menyampaikan laporan hasil pelaksanaan INNOPROM 2026 kepada Presiden Republik Indonesia, termasuk bermacam peluang kerja sama yang masih dapat dikembangkan lebih lanjut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index